
SEBUAH KEINGINAN (1)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
"Besok aku boleh ikut antar kamu pulang ya ?" Tanya Dave penuh harap di sela kegiatannya memotongi buah untuk Feya
 
"Enggak usah !" Geleng Feya. "Nanti merepotkan saja, bolak balik sana sini, negara kita ini jauh Dave ". Tolak Feya halus.
 
"Tapi aku mau ikut ". Rengek Dave. Acara memotong buah selesai.
 
"Kamu ikut buat apa coba ? Aku udah baik kok ". Feya heran.
 
"Buat apa, kamu bilang buat apa ? Feyaaaaa ". Dave berpindah tempat duduk, memilih duduk di ranjang dan membuat Feya bersandar pada tubuhnya.
 
"Aku ini kekasih kamu, jadi apa perlu di tanya kenapa aku harus ikut ?" Feya melonggo heran.
 
"Aku ini cinta sama kamu, aku mana bisa jauh-jauh dari kamu. Kamu pikir aku mau kehilangan kamu lagi ?" Dave terlihat serius.
 
"Aku harus memastikan kamu sampe rumah dengan selamat, trus kamu tidur dengan nyaman, trus minum obat terarur. Trus makan yang banyak. Tugas aku itu berat Feya ". Dave berbicara asal.
 
"Dave, tapi aku malu sama Papa dan mama ". Feya masih menolak.
 
"Malu ? Apa kamu lupa kalau aku sudah bilang pada Papa dan mamamu, kalau aku mencintaimu dan mau kamu jadi isteriku ?"
 
"Iya aku ingat ". Feya menjawab pelan.
 
"Lantas ?" Dave mengangkat dagu Feya.
 
"Ya....Papakan belum bilang setuju ". Jawab Feya pelan.
 
"Tentang Papamu, jangan khawatir ! Aku pasti mendapat restu beliau. Jangan khawatir ya !" Dave menciun kening Feya lama.
 
Dan satu hari ini berlalu dengan baik, Dave lagi-lagi berhasil menjadi perawat untuk Feya. Menjaga Feya sepenuh jiwa dan membuat Feya selalu nyaman dan lupa sakitnya, sedang Dave sendiri, dia sangat puas, karena lagi-lagi berhasil membuat Feya melihat ketulusan hatinya untuk sang kekasih.
__ADS_1
 
Malam panjang, semua senang dan seluruh pakaian Feya telah di kemas. Besok pagi Feya akan pulang kembali ke negara asalnya.
 
 
*****************
 
"Aku berat melepasmu ". Dave memeluk Feya erat. "Boleh bilang aku enggak mau melepaskanmu ?" Dave mencium puncak kepala Feya. Pagi sudah menjelang, sebentar lagi dokter akan masuk untuk memeriksa Feya. Tidak bisa di pungkiri, hati kecil Dave mengatakan kalau Feya sudah terlihat sehat. Feya pasti diperbolehkan pulang sebentar lagi.
 
"Daveeeee ". Terdengar suara protes, meskipun tidak melepaskan pelukan Dave.
 
"Salah ?" Dave memberi ruang di antara mereka. "Aku kan memang nggak bisa jauh dari kamu ?" Aku Dave jujur.
"Kita nikah yuk ?" Bertanya santai tanpa dosa. Sedang Feya langsung tergangga.
 
"Daveeeeee ", lagi-lagi protes.
 
"Apaaaaaa ?" Jawab Dave panjang sambil tersenyum manis. "Kamu maukan ?"
 
 
"Apa itu ? Kamu gomong apa ? Berpisah sesaat, satu minggu ? Untuk menguji perasaan kita ?" Dave tampak kesal. "Feya Zaniya Maladi ", suara Dave terdengar lebih kesal lagi. "Kamu jangan coba-coba menolak aku ya ! Kamu, kan kamu yang bilang kamu juga cinta sama aku. Sekarang, meminta berpisah sementar ? Apa mau kamu, hah ? Kamu mau buang aku setelah kamu sehat ? Iyaaaaa ?"
 
Feya tertegu, kaget sambil menekan dadanya dengan tangan kanan.
Astaga, mengerikan sekali. Kok marah sih ? Aku kan bukan mau buang kamu. Tapi mau yakin sama perasaanku.
 
"Kita menikah sekarang !" Dave terlihat gusar. "Jangan coba-coba berpikir pisah, kamu dengar ! Susah mati aku mengejarmu, dan kamu bilang pisah ?" Dave menatap kedua bola mata Feya. "Aku akan mengikatmu seumur hidup dalam cintaku, Feya !"
 
"Dave, tolong mengerti aku !" Feya mencoba mengapai tangan Dave. Gagal, "aduhhh ", Feya memegang erat tangan kanannya. Perih, itu yang menghingapi Feya di bahu kanan yang terluka.
 
"Kenapa, kenapa ?" Dave memegang tangan Feya. Memeriksa setiap inci lengan yang sedang di pegang erat oleh Feya. "Apa yang sakit, bilang...bilang ?" Dave memegang pipi Feya, sangat khawatir.
 
Feya diam, memperhatikan Dave begitu lama.
Apa yang harus aku lakukan Dave ? Aku cinta kamu, aku telah melabuhkan hatiku padamu. Tapi, tapi aku bukan gadis spesial. Aku dan kamu, kita tidak seimbang. Kamu dinamis, sementara aku ? Aku cewek kaku. Kamu hebat Dave, aku tahu kamu pengusaha sukses, dan aku ? Aku cuma seorang pegawai pemerintahan.Â
 
__ADS_1
"Sakit banget ?" Dave melihat Feya hanya menatapnya dalam diam. "Aku panggil dokter ya ! Bentar ya !" Dave berniat segera melangkah.
 
"Dave ", akhirnya Feya berhasil mengapai tangan Dave. "Aku enggak apa-apa ".
 
"Tapi....?" Dave ragu.
 
"Dave, tolong dengarkan aku !" Feya memberi ruang pada Dave untuk duduk di sisi ranjangnya, di sebelahnya.
 
"Aku mencintaimu, entah sejak kapan, aku tidak tahu. Tapi, aku telah jatuh cinta padamu. Kamu tahu itu dan aku pengen kamu tahu itu. Sungguh !" Sampai di sini Feya melihat Dave tersenyum senang.
 
"Aku tahu !" Ucap Dave bangga.
 
"Hanya saja, lihat aku !" Feya menunjuk dirinya. "Apa aku pantas dampingin kamu ? Pengusaha sukses, milyader kaya, berkuasa, tampan, di gemari banyak wanita.......", kalimat Feya terhenti. Dave menyatukan bibir mereka, membiarkan bibir tegasnya dan bibir mungil Feya bersatu. Dave tidak menuntut, hanya mau membungkam bibir Feya saja.
 
"Aku sudah melihat kamu, sudah semuanya ! Apa kamu lupa kalau malam aku menolongmu, aku sudah melihat kamu dalam balutan baju hijau yang nyaris memperlihatkan semua keindahan dirimu ?" Dave tersenyum. "Dan jangan pernah bertanya masalah pantas dan tidak pantas. Kamu adalah pendamping terbaik untukku ! Apa yang kamu ragukan lagi Fe ?"
 
"Aku, aku.....", Feya tertunduk. "Aku mohon berilah aku waktu. Aku bukan ragu padamu, tapi aku ragu pada diriku sendiri. Dave, berilah aku waktu. Tolonglah, hanya seminggu ini. Biarkan aku merenung, seminggu saja !" Feya agak memelas. "Aku cinta kamu, tapi kamu bagai sosok dewa yang sangat sulit aku gapai ".
 
"Feya...kamu ini kenapa ? Kamu mau membandingkan keluarga kita ? Iya ?" Model kesal Dave kembali lagi. "Oke, aku anak orang biasa. Aku bukan anak milyader kaya. Saudaraku hanya mahasiswa kedokteran, sedangkan saudaramu seorang Presdir di anak perusahaan Papamu. Aku harus hidup susah payah dan banting tulang di masa remajaku demi menghidupi Ibu dan adikku, kami bangkrut dan Ayahku meninggal. Sedang kamu, kamu menghabiskan masa remaja dengan hidup berkecukupan, baik, dan bisa bergaul bersama teman-temanmu. Itu yang mau kamu dengar ?" Dave benar-benar kesal.
 
Feya sangat ingin menjawab semua perkataan Dave, hatinya sangat terasa perih. Susunan kata-kata Dave barusan sangat menusuk hatinya.
 
"Tuan Dave, kamu tahu pasti bukan itu yang di maksud Feya ". Papanya Feya masuk ke dalam kamar rawatan sang anak. Tanpa ada yang menyadari, sudah sangat lama sang papa berdiri di depan pintu, mencuri dengar semua pembicaraan Feya dan Dave.
 
"Tuan ", Dave menunduk hormat.
 
"Saya yakin anda tahu benar, bukan itu maksud Feya. Iyakan ?" Sekali lagi Papa bertanya. Dan Dave hanya diam.
 
"Hal ini juga yang saya takutkan, kasta kita berbeda. Antara anda dan anak saya, dunia kalian berbeda ", sang Papa mulai bersuara. "Jadi, tolong penuhi keinginan Feya ". Dave terlihat mengeleng keras. Dia tidak setuju.
 
"Dan jika selama seminggu perasaan anda masih sama terhadap Feya, datanglah. Lamar Feya ! Saya merestui hubungan kalian ". Lanjut Papa tegas.
 
__ADS_1