
BAHAGIA
❤❤❤❤❤❤
"Kamu gomong apa? Nggak jelas, ulangi!" Leya sibuk menguncang lengan kiri Feya hingga membuat badannya pun sekarang ikut terguncang.
"A-K-U M-E-N-Y-E-R-A-H". Terdengar suara tegas Feya saat berucap, "puas?"
"Tunggu, artinya kamu mau membantuku?" Leya meminta jawaban pasti dari Feya.
"Menurutmu?" Feya malah balik bertanya.
"Kamu, kamu mau bermain peran lagi?" Sekarang Leya mulai bersemangat.
"Nggak usah sok lugu deh, sok nggak ngerti aku gomong apa". Ujar Feya kesal.
__ADS_1
Seketika Leya memeluk Feya, "aku bahagia banget Fe, kamu memang saudara terbaik yang Tuhan beri padaku. Makasih ya Fe, makasih. Aku sayang banget sama kamu". Leya pun mencium pipi kiri saudara kembarnya dengan begitu senangnya.
Jangan di tanya bagaimana senangnya Leya sekarang, keinginannya buat bebas melenggang untuk belajar masak akan segera terealisasikan. Dia akan tenang pergi belajar khusus di Negara H selama dua minggu dan selama itu dia tidak perlu khawatir akan ada yang kehilangan dia. Papa dan Mama tidak akan curiga, Hadi tidak akan tahu. Dan setelah dua minggu kemudian dia kembali lagi, tentu saja dia sudah bisa memasak. Biarlah hanya masakan sederhana, hanya masakan kelas amatir. Tetapi setidaknya dia sudah punya dasar, sudah tahu membedakan bumbu dapur dan semua rempah-rempah untuk memasak. Hingga saat telah menikah nanti, dia bisa membuat sesuatu untuk Hadi.
"Ya Tuhan, aku gak sabar Fe buat segera belajar masak. Kamu tau, gimana kagetnya Hadi nanti saat lihat aku menata meja makan kami dengan menu makanan, kebayangkan Fe? Ya Tuhan, Feya, Feya, Feya. Aku sayang banget sama kamu. Makasih ya Fe". Leya tiba-tiba kembali memeluk Feya.
"Berdoalah kamu gak cuma bisa masak setelah dua minggu ini. Tapi kamu juga harus berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada hubunganmu dan Hadi setelah dua minggu ini". Feya berbisik di telinga Leya.
"Percaya sama aku, Hadi tidak akan pernah tau dengan permainan kita". Ujar Leya yakin.
"Okeh, besok siang kamu ada kegiatan apa?" Tanya Leya kemudian.
"Kenapa memangnya?" Feya ingin tahu apa alasan pertanyaan Leya.
__ADS_1
"Kalau bisa besok siang, jam-jam istirahat gituh, aku, kamu dan Tiwi ketemuan. Kita harus membahas beberapa hal dan aku juga harus memberitahukan kamu tentang Hadi. Supaya Hadi gak curiga kalau kita bermain peran". Leya menjelaskan.
"Oh, boleh saja. Tapi di kantor aku aja ya, soalnya setelah istirahat aku ada kegiatan dengan beberapa petinggi. Aku nggak mau terlambat, jadi kamu bawa saja Tiwi ke kantorku!" Jawab Feya.
"Boleh, jam dua belas aku sudah di kantormu. Tapi ingat hanya kita bertiga yang tau". Leya mengingatkan kembali.
"Iya..iya..kamu pikir aku sebegitu bodohnya mau menceritakan hal konyol ini pada orang lain?" Ujar Feya kesal.
"Eeeeitttt, gak boleh marah. Kamu udah janji loh mau nolongin aku. Jadi nggak pake marah ya kembar". Leya pun kembali mencium pipi kiri Feya dengan sayangnya.
"Kalau ada maunya aja kamu sayang ma aku, padahal tadi nangis dan bilang aku gak peduli, heh". Sekarang giliran Feya yang mencebek.
"Jelek ah tuh bibir. Nanti tambah sulit laku loh, emang gak bosen jadi jomblowati yang budiman, hahahahaha?" Leya sengaja mengejek Feya.
"Bodo", jawab Feya kesal.
__ADS_1