
MINGGU PAGI (1)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
Feya membuka matanya perlahan, mengerjab beberapa kali, mencoba menyesuaikan antara cahaya matahari yang masuk diantara celah pentilasi kamarnya dengan cahaya temaram di kamar tidurnya. Sedikit mengeliat, Feya kembali mengerjabkan matanya. Sepertinya dia mulai terbiasa dengan cahaya terang dari luar.
 
Feya duduk bersandar pada kepala ranjangnya, bersandar dengan menggunakan bantal sebagai penopang punggung. Feya menatap lurus kearah jam dinding tepat di depannya, hampir jam 7 pagi. Feya mengeleng, ini adalah jam terlama dalam hidupnya untuk bangun pagi, bukan seperti Feya yang biasanya, bukan seperti dirinya yang selalu bangun pagi tepat di pukul 5 subuh. Tapi apa mau di kata, malam harinya kemarenpun tidak seperti biasa, Feya baru bisa tidur setelah jarum pendek jam dindingnya memperlihatkan angka 3 dini hari. Jadi wajar saja bukan, kalau pagi ini dirinya terlambat bangun ?
 
Feya mengerakkan lehernya kekanan dan kekiri, Feya sedang berusaha sedikit melemaskan otot lehernya yang terasa kaku. Jelas tidurnya tidaklah nyenyak, bayangan wajah Hadi, Dave dan Leya silih berganti memenuhi pelupuk matanya. Ah, pagi inipun bayangan wajah Hadi, Dave dan Leya kembali menghiasi paginya.
 
Feya tertunduk lemas, dirinya di landa malas untuk beraktifitas.
 
Feya masuk ke kamar mandinya, berharap mandi bisa sedikit membantu dirinya menghenyahkan rasa malas yang terus saja mengerogoti tubuhnya.
 
Acara mandi selesai, Feya memilih memakai baju santainya, baju khusus harian di rumah. Selanjutnya Feya telah berada di dapur kesayangan. Mencari apa yang bisa di olah untuk menu sarapan pagi ini. Feya lupa, sebagian isi lemari esnya telah di pindahkan ke apatemen Leya, jadilah hanya telur dan daging asap yang dia punya.
 
"Buat orek telor dengan baccon daging asap saja, praktis dan cepat ". Kemudian Feya menjelajahi stok minumannya, mencari apa yang tersedia untuk pendamping sarapan pagi ini. Lagi, Feya ingat semua stok buah segarnya sekarang berada di dalam lemari es sang kembaran. Tidak akan ada jus buah segar pagi ini, begitu pikir Feya. Tetapi Feya sedikit beruntung, masih ada susu putih di dalam lemari esnya, berarti masih ada harapan untuk menikmati segelas susu hangat.
 
Masak selesai, menu praktis yang benar-benar sangat cepat dalam pembuatannya. Feya memilih membawa sarapan dan susu hangatnya ke lantai 2, kembali ke kamarnya. Feya berencana menyantap sarapannya pagi ini di balkon kamarnya.
 
Nampan berisi sarapannya sudah di atas meja, Feya duduk memandangi satu persatu, silih berganti antara piring yang berisi sarapannya dan gelas yang berisi susu putih hangatnya. Nafsu makannya hilang entah kemana, tidak ada niat dalam dirinya untuk memulai proses sarapannya.
 
Feya memandangi taman tepat di depan balkon kamarnya, dari atas balkon, Feya bisa melihat kalau pagi ini taman cukup ramai. Ada keluarga yang sedang bermain bersama anak-anak mereka, ada beberapa pasangan muda mudi yang sedang asyik berolah raga pagi bersama, juga ada beberapa individu yang sengaja duduk santai memghirup udara pagi di taman yang sangat asri tersebut. Feya memperhatikan semua orang yang ada di sana, melihat aktivitas mereka dari balkonnya. Kadang dia senyum sendiri saat melihat seorang Ibu muda yang tengah mengejar anaknya untuk menyuapi makan. Kadang Feya sedikit iri melihat betapa bahagianya sepasang sejoli yang tengah jogging bareng di ujung taman. Jiwa kesendiriannya terguncang, kepalanya mengeleng meratapi diri. Umurnya sudah masuk angka 26 tahun, masih sendiri, masih jomblo. Sebaliknya, kembarannya di usia yang sama sebentar lagi akan menikah. Kurang dari 4 bulan lagi, Leya mencintai Hadi, mereka saling mengasihi. Tapi lihat, apa yang dilakukan Leya pada dirinya sekarang ? Membuat Feya terjebak dalam permainan masa kecil mereka, walaupun Feya telah menjelaskan bahwa sekarang semua bisa di luar kendalinya. Ada Dave yang merasa aneh dengan sikap dirinya pada Hadi. Namun, Leya tetap dengan ide konyolnya. Semua akan berlanjut, permainan peran ini akan diteruskan, meskipun percintaannya yang jadi taruhan, Leya seakan tidak mau ambil pusing.
 
"Terserah padamu Le, aku gak tahu lagi harus gimana ". Feya berguman pelan pada dirinya sendiri.
 
***************
 
Dave sudah bangun dari satu jam yang lalu. Tidurnya jauh dari kata nyenyak, kepalanya sedikit berat. Dia tidak tahu pasti, rasa tidak nyaman dikepalanya itu efek dari kurang tidurnya atau karena faktor wine yang di minumnya bersama Hadi semalam.
 
Sudah pukul 1 malam Dave baru kembali ke hotel tempat dia menginap. Benar-benar malam yang panjang, Hadi terus saja mengisi gelas mereka dengan wine sambil mengajak mereka bercerita, ke sana ke mari. Atau lebih tepatnya Hadi yang banyak bercerita, Dave lebih banyak diam dan mendengar. Walaupun tidak fokus, karena Dave terlalu sibuk mencuri-curi kesempatan untuk bisa menghubungi Feya yang dikenalnya dengan nama Leya.
__ADS_1
 
Entah sudah berapa puluh kali panggilan keluar dari handphonenya ke nomor Feya. Dia terus mengulang-ulang kegiatan yang sama sambil membiarkan Hadi mengoceh antah barantah. Untung saja Hadi jauh lebih mabuk darinya, sehingga tidak menyadari kalau sebenarnya Dave bukan pendengar yang baik. Jari-jari Dave terlalu sibuk dengan benda kecil di dalam gengamannya.
 
Bahkan setelah Tomo mengantarkan Dave kembali kekamar hotelnya, Dave masih menyempatkan diri menghubungi Feya. Masih berharap wanita cantik itu mau menerima panggilan masuk darinya dan berkenan berbicara dengannya. Walaupun kalau di tanya apa yang ingin Dave sampaikan pada Feya, dia sendiri tidak tahu. Tapi, merasa diabaikan dan mendapati Feya hanya mendiamkan semua panggilan darinya, ternyata membuat Dave merasa sakit tepat di bagian dadanya.
 
Tomo mengetuk pintu kamar Dave, memohon izin untuk masuk. Tomo datang menawarkan sarapan pagi pada sang tuan. Dave hanya mengelengkan kepalanya, dia tidak punya selera makan.
 
"Hari ini biarkan aku sendiri, kau boleh melakukan apapun yang kau mau. Saya hanya ingin sendiri ". Dave meminta Tomo meninggalkannya.
 
"Apa tuan yakin ?" Tomo tentu saja sangat ragu, sejak selesai berdansa dengan Feya semalam, Tomo melihat Dave banyak berubah, terlalu murung.
 
"Ya, saya hanya ingin sendiri ". Jawab Dave malas.
 
"Baiklah, kalau itu yang tuan mau. Saya akan ke Bukit Lestari 1, saya ingin meninjau persiapan Pak Hadi yang mulai membawa pekerjanya kesana hari ini ". Tomo memperhatikan Dave, Dave hanya diam masih berdiri di depan jendela besar menatap keluar. "Apa boleh tuan ?" Tanya Tomo kemudian.
 
"Pergilah !" Jawab Dave singkat.
 
 
Dave memcoba menekan nomor Feya di layar handphonenya. Berharap panggilan masuk darinya kali ini akan di tanggapi. Lama Dave menunggu hingga panggilannya habis, dan Feya tetap mendiamkannya.
 
Dave mengulang sekali lagi, mencoba menyakinkan diri dengan berpikir positif, mana tahu Feya sedang tidak berada dekat dengan handphonenya jadi tidak mendengar telepon darinya. Dave mengulang panggilan ke dua, ke tiga, ke empat hingga ke lima. Dan semua sama, tidak ada satupun yang di respon oleh Feya.
 
Dave mulai frustasi sendiri, mengacak-acak rambutnya karena kesal.
 
"Jawablah, aku mohon ". Dave memandang handphonenya.
 
"Kenapa kamu mendiamkanku ?" Dave masih memandang handphonenya.
 
Sekali lagi Dave mencoba melakukan panggilan pada nomor Feya, masih tersirat sebuah harapan kalau Feya mau menerima teleponnya. Nada sambung terdengar hingga nada sambung putus karena lewat masa deringnya dan Feya tetap tidak menerima. Dave memegang dadanya, rasa sakit di sana agak bertambah.
 
__ADS_1
"Apa jantungku bermasalah ? Kenapa rasanya tidak nyamannya ?" Dave bicara pada dirinya sendiri.
 
Merasa gagal menghubungi Feya dengan panggilan lewat telepon, Dave memilih menghubungi Feya lewat pesan singkat. Andai Feya tetap mengabaikannya, tetapi setidaknya Feya akan membaca semua yang ingin iya sampaikan pada wanita cantik itu. Bukankah itu lebih baik, dari pada diabaikan seperti sekarang.
 
"Kamu lagi apa ?" Dave mengirim pesan pertamnnya. Menunggu hingga satu detik berlalu, tetapi tidak ada balasan. Padahal ada warna biru di layar penanda pesannya di baca oleh si penerima.
 
"Kamu marah sama aku ?" Pesan kedua Dave kirim setelah tidak ada jawaban untuk pesan pertamannya.
 
"Maafkan aku ya, aku sudah mencampuri urusanmu ". Sebuah emoji tangan bermohon di tambahkan Dave pada pesan ketiganya. Sama seperti sebelumnya, pesan di baca tapi tidak ada balasannya.
 
"Aku tahu, aku sudah lancang. Aku harap kamu mau memaafkan aku, walaupun sedikit. Yang penting kamu mau temenan lagi sama aku ". Kembali emoji tangan memohon Dave pilih melengkapi kata-katanya. Dave memperhatikan pesannya di baca.
 
"Maukah kamu kita mulai dari awal, kita sebagai teman ? Aku janji tidak akan mencampuri urusan kamu lagi, aku hanya mau kita tetap teman. Ya ?" Dave segera menekan tanda kirim di layar handphonenya.
 
Bagi Dave, waktu sangat lamban berjalan. Dia mulai di landa bosan menunggu jawaban dari Feya. Jelas Feya membaca semua pesannya, tetapi tidak ada satu pun yang di balas.
 
"Bahkan berteman dengankupun kamu gak mau lagi, ah...kenapa aku rasanya sedih ya ?" Dave mengirim pesan baru pada Feya.
 
"Aku mengaku salah. Sungguh, maafkan aku. Kita temenan lagi ya, plisss ?" Dave masih setia mengirim pesan pada Feya.
 
"Teman, sudah makan belum ? Aku belum, rasanya perutku mulai sakit ". Dave menunggu. Hingga akhirnya dia terlihat antusia. Notifikasi pertanda pesan masuk berbunyi.
 
"Aku juga belum makan ". Dave bersorak girang membaca balasan dari Feya
 
"Dimana kamu ? Aku bawakan sarapan ya ? Kita sarapan bareng ?" Dave berdoa dalam hatinya, semoga pesan barunya ini akan dibalas kembali oleh Feya.
 
"Enggak usah. Kamu datanglah ke tempatku, biar aku buatkan sarapan untuk kita. Setengah jam lagi sarapan siap ". Dave tersenyum senang, nyaris berteriak saking senangnya. Hanya dengan membaca pesan singkat dari Feya bisa membuat suasana paginya yang begitu buruk menjadi cerah. Secerah mentari yang mulai memperlihatkan hawa panasnya di angkasa sana.
 
"Baik, setengah jam lagi aku sampai ". Cepat Dave membalas pesan Feya.
 
__ADS_1