TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 112


__ADS_3

SITUASI TRAGIS (3)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


"Maafkan atas ketidak nyamana barusan tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Saya sungguh tidak mengerti mengapa teman saya bisa berbuat seperti itu ". Dengan wajah berlumur kopi hitam dan baju yang penuh noda yang juga berwarna hitam, Dave menunduk hormat ke beberapa penjuru kafe tempat para pengunjung terduduk iba melihat kondisinya saat ini.


 


"Sungguh kejadian yang sangat memalukan. Sekali lagi maafkan saya ". Seorang lelaki dengan stelan kemeja rapi datang mendekati Dave.


 


"Maaf tuan atas kejadian barusan kasihan sekali anda sampai berlumuran kopi begini ". Ucap lelaki itu mengiba. "Saya manajer kafe ini. Saya tidak menduga tuan Hadi bisa berkelakuan senorak itu. Anda pasti tidak nyaman bukan ?" Sepertinya si manajer memiliki pikiran kalau Dave adalah korban di sini.


 


"Saya baik-baik saja tuan manajer. Saya minta tolong lupakan kejadian tadi ! Jangan dibesarkan !" Dave menatap semua pengunjung kafe. "Sebagai wujud permohonan maaf saya atas kejadian barusan, semua saya traktir ". Dave memberikan sebuah kartu nama berisi alamat dan nomor telepon pada si manajer.


 


"Tuan manajer hubungi nomor ini, bilang kalau tuan mendapat perintah dari saya. Semua biaya hari ini akan di transfer ke rekening anda langsung !" Dave menunjuk nomor Tomo, sekretarisnya pada si manajer.


 


"Ooh....astaga anda begitu baik tuan. Padahal anda sudah dipermalukan oleh salah satu pelanggan kami. Tapi anda malah berjiwa besar ". Jelas-jelas ada binar senang di mata manajer itu.


 


"Tidak masalah, dan tolong lupakan semua kejadian tadi !" Dave pun memilih pergi meningalkan kafe dengan sorot mata iba penuh kasihan bercampur terima kasih dari para pengunjung.


 


***************


 


Hadi mengemudikan laju mobilnya bagai orang kesetanan, dia marah sangat marah lebih tepatnya. Emosi Hadi sedang labil, dia serasa siap melakukan apa saja termasuk mewudujkan keinginannya untuk memukul wajah Dave sampai benar-benar hancur. Mungkin saat mendapati Dave dalam kondisi itu, Hadi bisa sedikit senang.

__ADS_1


 


"An***g kau Dave. Berani kau membawa tunanganku di belakangku. Aku pikir kau temanku\, ternyata kau sampah Dave....."\, Hadi berteriak sekuat tenaga di dalam mobil yang di kendarainya.


 


"Kau berani mencium Leya, ******** kau Dave.....aku ingin sekali menghabisimu ". Makian Hadi masih berlanjut.


 


"Kau pikir kau siapa, ha ? Bisa seenakmu saja merebut milikku. DAVE, kau mau main-main ya denganku ? Jangan anggap remeh aku, kau dengar Daveeee ". Sepenuh tenaga, Hadi terus saja berteriak di dalam mobilnya.


 


Hadi terus saja menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang benar-benar bisa membuat dirinya dan orang lain dalam bahaya. Entah apa yang ada di dalam benak Hadi saat ini, yang jelas dia sangat ingin melakukan sesuatu untuk melampiaskan amarahnya.


 


Lelah mengebut di jalanan, Hadi berhenti di sebuah bar. Sepertinya minum minuman keras hingga mabuk adalah kegiatan yang bagus untuk di lakukan saat ini. Sambil mendorong pintu bar, Hadi sengaja menekan layar sentuh handphonenya. Hadi menghubungi Leya.


 


 


Jadi benar Leya, kau tidak mencintaiku ? Teganya kau Leya, 4 tahun masa kita bersama dan hanya dengan kedatangan seorang Dave saja semua berubah. Kau munafik Leya...kau menjijikkan.....


 


Satu loki kecil pertama minuman dengan kadar alkohol tinggi sukses melalui tengorokan Hadi.


 


"Lagi !" Perintah Hadi pada bartender dan loki kedua pun datang.


 


Hadi meneguknya dengan cepat. "Leya, kenapa kau sekejam ini ?" Hadi menatap gelas kecil di depannya yang telah kosong.


 

__ADS_1


"Lagi !" Bartender pun segera memberi loki ketiga pada Hadi. Hadi meneguknya begitu cepat dan membanting gelas kecil itu di atas meja.


 


"Berikan aku botolnya !" Sepertinya Hadi tidak merasa puas hanya dengan porsi kecil dari minuman keras itu, hingga akhirnya Hadi sendirilah yang memegang botol dan tanpa henti menuangkan pada gelasnya sendiri.


 


Waktu berlalu, Hadi mulai menceracau tidak jelas. Dia sibuk memanggil-manggil Leya, bahkan kadang pakai acara nangis segala. Jelas terlihat kalau Hadi sangat terluka, hatinya begitu menderita, putaran hidupnya terasa berhenti saat tahu pujaan hatinya, wanita yang begitu dicintainya ternyata tidak tulus mencintainya.


 


"Kasihan ? Kau hanya kasihan padaku ? Selama 4 tahun hanya kasihan ? Hahahaha, wanita munafik ". Hadi benar-benar sudah mabuk.


 


"Jangan harap aku akan melepaskanmu, kau milikku. Kau dengar wanita licik, kau milikku ". Meski sudah mabuk berat, Hadi masih sempat meneguk satu loki lagi cairan pekat dari botol minumannya.


 


"Tuan, anda sudah sangat mabuk ". Bartender menjauhkan botol minuman dari hadapan Hadi.


 


"Iya..aku memang sengaja. Kenapa ? Kau tidak suka, ha ?" Tanya Hadi dengan khas seorang pemabuk. "Atau kau mau menertawakan aku yang bodoh ini, bodoh mengira dia mencintaiku sebesar aku mencintainya. Padahal dia hanya kasihan saja ". Hadi menarik kerah baju bartender.


 


"Tuan, sebaiknya anda pulang. Saya akan pesankan taksi untuk anda. Kondisi anda sudah tidak baik ". Bartender berusaha sabar menghadapi Hadi. Sepertinya jam terbang si bartender ini sudah tinggi, alih-alih marah mendapati sikap Hadi padanya. Yang ada dia malah begitu sabar dan bersedia membantu Hadi.


 


"Pulang ?" Hadi mengerutkan keningnya. "Aku sudah hancur, aku mau pulang kemana ?" Telunjuk Hadi menempel di kening bartender.  "Wanitaku tega berciuman dengan lelaki ********. Lantas apa aku masih bisa kembali padanya ?"


 


"Tuan sebutkan saja alamatnya, taksi pasti akan mengantar tuan dengan selamat ". Bartender berusaha melepaskan gengaman tangan Hadi dari kerah bajunya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2