TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 70


__ADS_3

PENDAPAT FEYA


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


γ€€


Dave telah berlalu, meninggalkan Feya dengan perasaan sedihnya. Entah kenapa, menerima sikap acuh Dave pada dirinya membuat hati kecilnya kembali merasa sedih. Jelas dirinya yang duluan bersikap pura-pura tidak mengenali Dave, tetapi saat Dave juga bersikap sama, Feya malah sulit menerimannya.


γ€€


"Bab, tunggu di sini bentar ya. Aku sama Tomo dulu. Cuma bentar kok". Hadi membujuk Feya untuk tetap tinggal di Villa Dave saja.


γ€€


Feya menatap Hadi, "iya sayang enggak papah kok. Jangan kawatirkan aku". Jawab Feya dengan suara di buat secerai mungkin.


γ€€


"Mari Pak". Tomo mengarahkan Hadi agar berjalan beriringan dengannya.


γ€€


Di tinggal oleh Hadi dan Tomo, Feya kembali memandangi susunan anak tangga yang di lalui oleh Dave tadi. Ada rasa penasaran kemana gerangan Dave menghilang di lantai atas tersebut.


γ€€


Ah, sudahlah. Feya mengenyahkan niatnya mencari keberadaan Dave di lantai atas.


γ€€


Akhirnya Feya memilih berjalan-jalan memperhatikan tiap ruang yang ada di lantai satu, dari arah kanannya Feya mulai menjelajahi tiap ruang, memasukinya satu persatu.Β Memang luar bisa besar villa ini.


γ€€


Puas memperhatiakan setiap sudut ruangan di lantai satu, Feya beralih ke teras belakang. "Yah, pintunya di kunci". Feya gagal membuka pintu tersebut. Akhirnya Feya memilih memandangi bagian belakang Villa hanya dari kaca pintu saja. "Sepertinya sangat luas bagian belakangnya". Feya mencoba membuat kesimpulan sendiri.


γ€€


"Eh, kalau dari lantai dua, pasti bakalan jelas". Feya pun menatap langit-langit ruangan tempat dirinya berdiri. "Pasti enggak papakan kalau aku lihat ke sana?" Feya bertanya pada dirinya sendiri.


γ€€


"Emm, enggak papah deh rasanya. Kan aku cuma lihat-lihat aja". Feya pun memberi izin pada dirinya sendiri.


γ€€


Feya melangkah pelan, melihat kekanan dan kekiri bagaikan sosok orang yang sedang merasa tengah di awasi, dia mulai menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua.


γ€€


"Wahhh, di sini juga banyak ruangannya". Feya mulai menghitung jumlah pintu yang tengah tertutup disekelilingnya.


γ€€


"Adem". Feya memperhatikan kekosongan disekitarnya, terasa hembusan angin membelai kulit mulusnya.


γ€€


Dave di mana ya? Feya sedikit ragu melangkahkan kakinya.Β Kalau aku buka pintu satu persatu dan ketemu Dave gimana?Β Feya mulai berpikir.Β Ah, lebih baik jangan.


γ€€


Feya melangkah menuju balkon besar di bagian ujung lantai dua. "Wahhhhh, pemandangannya indah". Feya bertepuk senang saat matanya berhasil menemukan pemandangan bukit yang persisi berada di belakang Villa Dave. Bukit tersebut masih sangat asri, yang tertutup rapat pepohonan tinggi nan besar. Terlihat samar-samar ada sebentuk garis berwarna kuning, sangat mencolok di antara hijaunnya popohanan rindang.


γ€€


Ngapain dia kesini? Kenapa enggak ngekorin tunangannya itu. Dave kaget saat mendengar suara girang dan tepuk tangan Feya tadi. Dave keluar, mengintip Feya dari balkon kamar utama tempat dia sengaja mengurung diri karena rasa kesalnya melihat kemesraan Hadi dan Faya tadi.

__ADS_1


γ€€


"Cantik". Puji Dave melihat Feya berdiri di balkon lantai dua. Angin yang bertiup membuat rambut panjang Feya ikut melayang bak model iklan shampo kelas dunia, memberikan kesan luar biasa di mata Dave. Di ditambah lagi tertawa senang Feya, membuat kecantikannya sangat sempurna.


γ€€


Rasanya pengen memeluk dia dan menyembunyikan kecantikannya dari dunia ini. Dave masih terus memandangi Feya secara diam-diam.


γ€€


Feya terlihat sedang sibuk menilai garis berwarna kuning di bukit belakang Villa Dave, sesekali terlihat Feya mengibas rambutnya yang tertiup angin agar tidak menutup matanya yang masih sangat serius melakukan pengamatan.


γ€€


"Itu apa ya?" Tanya Feya sambil memegang rambutnya.


γ€€


"Itu jalul treack berupa anak tangga buat pejalan kaki". Jawab Dave yang telah berdiri di belakang Feya. Feya terlonjak kaget, melepaskan pegangannya pada rambut panjangnya. Rambutnya pun kembali melayang tertiup hembusan angin.


γ€€


"Maaf lancang naik kesini". Ucap Feya tanpa berani menatap mata Dave.


γ€€


"Kamu bawa ikat rambut". Dave malah mengajukan pertanyaan yang membuat Feya menatap binggung kearahnya.


γ€€


"Buat rambut kamu, biar enggak di tiup angin". Jawab Dave atas sikap melongo Feya padanya.


γ€€


"Ooo, ada". Feya segera mencari pita biru yang tadi sempat di selipkannya di dalam tas kecilnya.


γ€€


γ€€


"Enggak, enggak usah. Biar aku aja". Feya mulai bergidik saat merasakan jemari Dave lembut menyentuh kulit kepalannya.Β Hangat.Β Feya berdiri kaku bak patung pajangan.


γ€€


"Diam aja, aku bisa kok". Dave mencegah Feya berbalik badan dan masih fokus dengan kesibukannya menyisir rambut Feya.


γ€€


Bak seorang Ibu yang tengah mendandani anak gadis kesayangannya, Dave benar-benar serius melakukan aktivitasnya saat ini. Wajahnya terus tersenyum sepanjang kesibukannya menyisir rambut Feya. Dave sangat menyukai sensasi yang ditimbulkan rambut Feya saat melalui sela-sela jarinya . Wanginya. Dave mencium aroma wangi rambut wanita cantik yang tengah berdiri kaku dihadapnya.


γ€€


"Selesai". Terdengar suara senang Dave mendapati hasil kerja kerasnya yang sangat lama dalam memasangkan pita pengikat rambut Feya.


γ€€


Feya menarik nafas lega, tahu kalau tangan Dave telah berada jauh dari kulitnya. Sesaat, hembusan hangat nafas Dave tadi hampir saja membuat lutut Feya menjadi goyah. Hatinya tidak kuat merasakan kenikmatan sentuhan jari-jari Dave yang dilengkapi dengan kehangatan yang menjalar dari setiap gerakan tangan kekar itu.


γ€€


"Terima kasih". Jawab Feya sambil memegang pita biru yang telah tersimpul di rambut hitamnya.


γ€€


"Sudah lama kamu panjangin rambut?" Tanya Dave sambil memegang ujung rambut Feya.


γ€€

__ADS_1


Deg, deg, deg...jantung Feya berdetak kuat. Ritme jantungnnya mulai terasa berdegub kencang. Dan tanpa dikomandoi, rona merah mulai tercipta di wajah cantiknya.


γ€€


Dave menyadari ada rona merah yang menghiasi wajah Feya, pelan Dave menyentuh pipi kanan Feya dengan punggung tangannya.Β Aku sangat suka mendapati kamu seperti ini.


γ€€


"Su-sudah". Jawab Feya pelan tanpa berani menegakkan lehernya, takut. Ralat, lebih tepatnya malu untuk menatap Dave.


γ€€


"Kamu hebat". Puji Dave kemudian.


γ€€


"Ke-kenapa?" Tanya Feya sambil berusaha mengatur detak jantungnya agar kembali normal. Rasanya tadi Feya hampir saja kehilangan jantungnya yang seakan sedang berusaha keras melompat keluar atas semua perlakuan Dave pada dirinya.


γ€€


"Di zaman sekarang masih ada wanita yang sabar mempertahankan rambutnya bisa terawat panjang. Jujur, aku lebih banyak menemukan wanita yang lebih suka praktis dengan rambut pendek". Dave menjelaskan pada Feya.


γ€€


Berapa banyak wanita yang sudah kau temui Dave? Apakah mereka spesial dalam hidupmu?


γ€€


"Setiap orang punya selera berbeda-beda, kebetulan banyak wanita yang kamu temui itu lebih suka praktis. Beda dengan aku yang menurut sebagian orang justru terlalu kolot, terlalu ketinggalan zaman". Feya menatap lurus ke depan saat memberi penjelasan pada Dave.


γ€€


"Benarkah? Wanita secantik kamu ada yang berani menilai kolot, ketinggalan zaman?" Dave memandang Feya dari atas sampai ke bawah dan tetap merasa tidak percaya.


γ€€


Ya..semua selalu memberi kesimpulan seperti itu. Bahkan kembaranku sendiri saja merasa heran dengan pilihanku berkarir di dunia Benda Cagar Budaya.


γ€€


"Kamu tidak mengenal aku, Dave". Jawab Feya pelan.


γ€€


"Kamu bisa membantu aku mengenalmu". Jawab Dave sungguh-sungguh sambil memperbaiki sejumput rambut Feya kembali ke balik telinganya.


γ€€


Feya menatap lurus kemata indah hijau Dave. Hatinya sangat senang saat ini, Dave begitu baik padanya. Dave sedang berusaha mengenalnya, rasanya Feya melihat kejujuran di dalam hijaunya sorot mata Dave tentang ucapannya barusan.


γ€€


Tapi....?


γ€€


"Dan setelah kamu sangat mengenal aku, kamu akan menjauh". Feya segera mengalihkan matanya menatap ke arah hamparan tanah kosong bagian belakang Villa.


γ€€


Kamu pernah beberapa kali melakukan itu.


γ€€


γ€€


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2