TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 155


__ADS_3

KEMBALI BERKERJA


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Feya telah turun dari mobil dinasnya, sedang berdiri di teras kantor sambil menatap sekeliling. Nyaris 2 minggu tidak masuk dan beraktivitas di gedung pencakar langit itu, ada rasa kangen di dalam hatinya.


 


Pagi ini seperti biasa, Feya berangkat ke kantor dengan menaiki mobil yang di sopiri langsung oleh Niko, sopir pribadinya. Feya berangkat dari rumah orang tuanya, setelah merasa sudah sangat baik. Feya pun memutuskan untuk kembali ke rutinitas harian. Luka di bahunya sudah sembuh, hanya meninggalkan sebentuk garis yang menghitam dan ngilu yang akan timbul saat tangannya mengangkat beban berat, atau tidak sengaja terbentur. Selebihnya, di luar itu Feya baik-baik saja.


 


Acara keberangkatan Feya pagi tadi, agak terlihat dramatis. Sang Mama begitu berat melepas Feya. Mata Mama berkaca-kaca, sepertinya Mama takut kalau Feya belum terlalu sehat. Atau mungkin sang Mama takut kalau Feya kenapa-kenapa lagi. Karena sejujurnya, peristiwa di Negara tetangga. Kondisi Feya yang hampir meregang nyawa, cukup membuat sang Mama trauma. Karena bagi sang Mama, Feya dan kembaranyanya adalah segalanya.


 


Feya berjalan masuk ke dalam, melalui lobby dan bermaksud menuji lift untuk ke lantai 5, ke lantai tempat ruang kerjanya berada.


 


“Pagi Bu...”,


 


“Apa kabar Bu....”,


 


“Kangen Bu...”,


 


Sahut-sahutan para karyawan Feya menyapanya saat dirinya melewati lobby. Feya sedikit heran, kaget dan tidak menyangka. Wajah-wajah karyawannya berbaris ceria menyapa dirinya. Feya tersenyum, membalas semua suara yang menyapa hangat dan melanjutkan langkah ke arah lift.


 


Pintu lift terbuka, ternyata Menik sudah menunggu Feya di lantai 5 di depan pintu ruang kerjanya.


 


“Ibuuuuu “, suara Menik penuh semangat menyongsong kedatangan Feya. Dengan tanpa ragu, Menik memeluk atasannya itu. Tersenyum senang melepas rasa khawatirnya setelah kejadian di malam itu.

__ADS_1


 


“Ibu apa sudah sehat benar ?” Menik melepas pelukannya. “Beneran nggak papah masuk kantor ?”


“Iya..kamu gak usah cemas. Saya sudah sehat kok “, Feya membiarkan Menik membuka pintu untuk dirinya.


 


“Saya pikir, Ibu akan di antar tuan Dave tadi “. Suara Menik sambil menutup kembali ruang kerja Feya. Feya sedikit terperanjat, mendengar nama Dave harinya mulai meronta.


“Ternyata Ibu di antar Niko ya ?” Menik berjalan ke arah meja kerja Feya, Feya telah duduk di sana.


 


“Saya itu salut banget sama tuan Dave, Bu. Waktu dia menyelamatkan Ibu, tuan Dave berkelahi dengan banyak orang “. Suara Menik bersemangat. “Trus, waktu melawan si brengsek Monternio. Tuan Dave benar-benar gagah loh Bu. Tendang sana, tendang sini, trus pukul yang keras. Bugh, buggh...”, Menik mengerakkan tinjunya ke udara.


 


“Enggak ada takutnya loh Bu, tuan Dave itu. Monternio sampai tidak bisa berkutik, di hajar habis-habisan “. Menik menepuk kedua tangannya. “keren banget Bu, sudah tampan, jago bela diri. Dan yang pasti sayang banget sama Ibu “. Menik tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sedang Feya, sedari awal Menik berbicara hanya memilih diam.


 


“Ibu sama tuan Dave pacarannya ?” tanya Menik penuh keusilan.


 


 


Feya hanya diam dan terus diam, sebegitu banyak kata-kata Menik, sepanjang itu gaya memuji Menik, dan Feya hanya menanggapi dalam diam.


 


Menik tidak tahu, sekarang hati Feya sedang mendamba. Sedang ribut memanggil nama Dave berkali-kali.


 


Kalau selama 2 hari ini Feya berhasil mengalihkan perasaannya kerinduan akan sosok Dave. Kelembutan Dave merawatnya, kasih sayang Dave menjaga dan cinta Dave yang tulus padanya. Tetapi, tidak untuk saat ini.


 


Feya tidak bisa berbohong, jauh di dalam hati kecilnya. Dirinya sangat merindukan sosok lelaki tampan yang sejak awal perjumpaan mereka dulu telah membuat getaran khusus di dalam jiwanya. Sikap sopan Dave, cara Dave membuat dirinya tertawa, Dave sangat mengenal dirinya.


Feya mulai ragu, apakah benar melakukan semua ini ? Apakah benar acara merenung ini ?

__ADS_1


 


“Menik “, Feya menatap Menik yang masih sibuk dengan sejuta pujian yang luar biasa tentang Dave.


 


“Menikkkkk “, suara keras Feya membuat Menik berhenti bicara dan fokus pada si pimpinannya ini.


 


“Apakah ada jadwal kegiatan yang sangat mendesak ?” Feya melihat putaran waktu di jarum jam yang sibuk bergerak persis di dinding ruang kerjanya.


 


“Apakah Ibu mendadak merasa kurang sehat ?” Menik tampak memperhatikan Feya.


 


“Bukan, saya hanya ingin memastikan saja “.


 


“Sebenarnya ada 2 agenda kegiatan Ibu yang cukup mendesak, itu tentang... “, Menikpun memberi penjelasan.


 


Ah, semua butuh waktu yang lama. Padahal aku berharap bisa terbang ke sisinya saat ini. Ya Tuhan...apakah aku telah melakukan kesalahan yang akan aku sesali seumur hidupku ? Batin Feya mengiba pada dirinya sendiri.


 


“Bagaimana Bu, apakah Ibu akan memulai pekerjaannya atau Ibu mau melakukan hal lain dulu ?” Menik bisa merasakan ada keraguan di diri Feya.


 


Ah, sudahlah. Toh aku yang meminta menjauh darinya. Apa mau di kata, sekarang sudah terjadi. Aku di sini punya tanggung jawab, aku harus profesional. Batin Feya mencegah hati kecilnya melakukan sesuatu yang sangar ingin di lakukannya saat ini.


 


“Tidak ada Nik, ayo kita mulai pekerjaan hari ini !”


 


Dan sekali lagi, di hari ketiga ini Feya kembali berusaha menutupi perasaannya yang sangat mendalam terhadap Dave. Sosok lelaki yang jujur memang di cintainya itu, sosok lelaki yang sangat di damba dan di rindu. Sosok lelaki yang memang sangat dibutuhkannya di setiap hembusan nafasnya.

__ADS_1


__ADS_2