TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 134


__ADS_3

BAHAYA


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


"Nyonya Fiella ?" Seorang lelaki dengan pakaian serba hitam sedang melihat daftar nama yang tertata rapi di dalam tangan kanannya. Matanya terlihat sibuk memperhatikan satu persatu jajaran nama yang sepertinya lumayan banyak.


 


"Hemm ". Si lelaki berbaju hitam berhasil menemukan nama Fiella di daftar tamu dan langsung menceklisnya.


 


"Silahkan nyonya, pelayan kami akan mengantar anda ke meja nomor 5 ". Muncul seorang lelaki dengan kemeja putih yang di maksud sebagai pelayan oleh si lelaki berpakaian serba hitam.


 


"Ya ". Jawab Feya tegas sambil mengikuti langkah si pelayan.


 


Aula besar, ada banyak meja yang sudah berisi lelaki dan wanita dengan tampang orang-orang kaya yang sombong dan pongah, tanpa sadar Feya merasa kesal. Jiwa menjaga benda cagar budayanya keluar, meskipun berat, sudut bibirnya terlihat mengukuti semua orang yang menurut Feya cukup kejam dengan tega memperjual belikan aset-aset berharga dari sebuah sejarah, sejarah dunia malah. Feya memandangi sebanyak yang dia bisa, sayang tidak ada satu orang pun yang di kenalnya.


 


"Silahkan nyonya ". Suara pelayan pengantar Feya sukses membuat Feya kembali fokus ke tujuan utamanya.


 


Feya sudah duduk rapi di apit oleh Menik, asistennya dan Lukas yang berperan sebagai pengawalnya.


 


Ramah tamah di mulai, Feya masih sibuk ke lingkungan sekelilingnya. Matanya gencar menjelajah.


 


"Jaga pandangan nyonya ! Cara nyonya memandang sekitar bisa membuat nyonya dalam bahaya ". Ucap Lukas sambil tersenyum cerah pada Feya.


 


"Aiihhh, mereka ini...semuanya buat saya kesal saja ". Aku Feya sambil ikut tersenyum pada Lukas. Feya sedang berpura-pura persis seperti yang di lakukan Lukas.


 


Waktu berjalan cepat, pembukaan selesai. Masuklah ke acara inti, acara yang sangat di tunggu oleh Feya dan semua yang hadir di aula itu. Jantungnya mulai dag dig dug, ritmenya mulai cepat. Tanpa sadar sikap antusias dirinya mulai keluar, insting sebagai yang tahu tentang benda cagar budaya tampil kepermukaan.


 


"The first is devoted to antique ceramic lovers, age more than 100 centuries ". Benda bersejarah pertama di perkenalkan oleh pembawa acara. "Ukiran demi ukiran dengan warna gelap, di tambah bahan utama dari keramik ini terbukti dari sertifikat yang bisa di pertanggung jawabkan ". Feya menarik nafas.


 

__ADS_1


Keramik peninggalan Dinasti T, benda tembikar yang biasa di pergunakan untuk jamuan makan para kaisar ini mulai di dorong di atas troli kaca yang menurut Feya ketebalan kacanya bisa sampai 3 mili. Jantung Feya sedang memberonak, tidak terima. Itu lebih dari sekedar benda berharga, tembikar terbaik yang seharusnya lestari dan bisa di lihat pulihan generasi berikutnya, malah berakhir menjadi pajangan pemuas kebutuhan rumah orang kaya.


 


"Nyonya ". Senyum manis menghiasi wajah Lukas. "Tahan emosi anda ".


 


"Ahh, kau ini. Apa kau tahu, benda itu peninggalan dari zaman mana ?" Feya gagal bersikap lembut. Sepertinya Feya memang sedang mengikuti kata hatinya.


 


"Hahahaha ". Lukas masih bertahan berpura-pura manis pada Feya. "Tolong jaga sikap anda nyonya. Anda tidak maukan di awal penyamaran ini kita langsung masuk dalam zona bahaya ?"


 


Feya mengerang kesal, berusaha menarik nafas panjang.


 


Sial...


Rutuk Feya marah.


 


"Penawaran pertama ". Feya terlonjak dari kekesalannya, suara si pembawa acara menyadarkan dirinya kembali.


 


 


Bagaimana ini ? Apa yang harus aku lakukan ? Masa iya aku biarkan saja.


Pergolakan batin Feya mulai terjadi, padahal baru satu barang yang di pamerkan untuk lelang.


 


"Baiklah, meja nomor 20 dengan harga tertinggi akan membawa pulang keramik antik ini ". Suara pembawa acara sambil mengerakkan telunjuknya ke arah si pembeli yang sukses membawa pulang barang bersejarah lelang pertama.


 


Cepat Feya mengarahkan kepalanya ke arah telunjuk si pembaca acara, Feya berusaha melihat siapakan pembeli di meja nomor 20.


Cih...


Dengan wajah terang-terangan tidak senang, Feya memandangi lelaki muda yang terlihat duduk dengan angkuhnya di meja tersebut.


 


Lelang berlanjut, barang bersejarah kedua, ketiga, hingg kelima pun silih berganti diperjual belikan. Semua lancar, penawaran semakin meningkat dan akhirnya terjual. Feya lagi-lagi menahan kesal, dengan wajah geram Feya sibuk memandangi sosok-sosok pemilik meja yang berhasil membawa pulang berbagai benda cagar budaya tersebut.


 

__ADS_1


Ekspresi geram sangat jelas, Feya terlalu laif untuk sedikit saja mencoba bersikap biasa. Hingga tanpa di sadari oleh Feya, ternyata kamera tersembunyi sedang mengarah ke wajah cantiknya. Di luar dugaan, sebuah kamera tersembunyi selalu mengikuti dirinya tepat di saat Feya secara berani memasang wajah marah pada pemilik meja nomor 29, seorang nyonya kaya yang berhasil menawar harga tertinggi untuk kalung emas peninggalan kerajaan 1I yang berasal dari abad kelima. Kalung emas ini sangat cantik dengan hiasan batu zamrud merah yang konon menurut para Antropolog berasal dari darah seorang Duke yang telah di kutuk.


 


Benda cagar budaya yang sangat-sangat berharga, hanya satu dan punya sejarah panjang dari masa ke masa Kerajaan I. Jadi jangan salahkan Feya kalau dirinya lansung memasang wajah permusuhan dan menantang pada si pemenang lelang.


 


Sayangnya, sikap inilah pemicu operator kamera terlihat tambah bersemangat mensyut wajahnya. Sepertinya antara penasaran dan curiga mulai mengisi pikiran orang-orang di ruang khusus pengintai keamana para tamu lelang.


 


"Siapa wanita itu ?" Tanya lelaki berbadan tegap yang berdiri di belakang si operator kamera tersembunyi.


 


"Kalau dari daftar tamu, dia adalah pecinta barang antik dari negara tetanggan Pak ". Jawab si operator.


 


"Kirim fotonya pada asisten tuan, minta mereka mencari informasi lebih lagi ! Gelagat wanita ini sangat mencurigakan, jelas sekali dia tidak bisa tenang. Terlalu pengen tahu dan terlalu berambisi ". Perintah lelaki berbadan tegap.


 


"Baik Pak ". Dan sepersekian detik kemudian foto Feya telah berpindah tangan ke seseorang yang entah dimana persisnya berada.


 


Dan kembali Feya, kali ini Menik sudah ikut-ikutan meminta sang pimpinannya itu agar sedikit lebih rileks, mengurangi rasa geramnya dan tampil lebih anggun, seperti para tamu yang lain. Anggun dan elegan.


 


"Saya sudah tidak tahan lagi Nik, kamu tahukan arti tiap benda-benda tersebut ? Terjualnya satu benda langka itu sama dengan dunia sudah kehilangan satu sejarah. Dan sampai saat ini sudah 5 sejarah dunia yang sudah pasti tidak akan kita temukan lagi. Kita ini loh Nik, gimana generasi sesudah kita nanti ? Generasi hingga 10 tahun nanti Nik atau malah 50 tahun nanti ?" Panjang lebar Feya menjelaskan penyebab kemarahannya pada Menik.


 


"Iya, Ibu benar. Tapi sampai detik ini kita tidak juga melihat siapa penyelenggara kegiatan ini Bu, apa lagi bisa tahu. Jadi Ibu mohon sabar ya ". Menik masih mencoba membujuk Feya.


 


"Dan terakhir, puncak lelang pada hari ini ". Suara keras pembawa acara menyudahi keinginan Feya untuk mendebat Menik.


 


"Artefak suci, langka dan hanya satu di dunia ini. Punya nilai sejarah, agama dan kemewahan. Saya yakin, semua yang hadir di sini, tuan dan nyonya pasti akan berlomba-lomba untuk bisa menjadi pemiliknya ". Pembawa acara menarik nafas sesaat. Sunggu cara dia memperkenalkan barang lelang berikutnya sukses membuat semua mata fokus padanya.


 


"Ini pasti artefak Suku J ". Guman Feya pelan pada diri sendiri.


 


 

__ADS_1


__ADS_2