
BERAKTIVITAS SEPERTI BIASA
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
 
Pagi ini Feya bangun tidur seperti biasa, sedikit malas dan masih sedikit gantuk. Beberapa kali Feya menguap lelah, matanya masih minta di pejamkan karena rasa kantuk akibat begadang semalam, pekerjaannya semalam yang di bawa pulang memaksa dirinya harus selesai semalam-malamnya.
 
Dengan berat hati Feya berjalan ke kamar mandi, mandi secepatnya dan berdandan secepat yang dia bisa. Feya sengaja berencana membeli sarapan sambil ke kantor khusus untuk pagi ini. Karena ada pekerjaan penting yang harus di periksannya sekali lagi sebelum jam kerja di mulai.
 
Santai, Feya membawa mobilnya memecah lalu lintas jalanan Kota. Kecepatan terbaik di pertahankan Feya sambil terus melajukan jalan mobil kesayangannya.
 
Hingga akhirnya Feya sampai di kantor jauh lebih pagi dari para stafnya, Feya duduk manis di depan meja kerja dan mengeluarkan semua isi tas kerjanya, Feya memulai aktivitasnya pagi ini dengan berusaha semangat.
 
Hingga putaran waktu berlalu, Feya masih fokus dengan pekerjaannya. Feya memang pekerja keras, penuh dedikasi untuk kemajuan Lembaga tempat dia mengabdikan diri.
 
Kemudian...
 
Suara ketukan pintu di luar ruang kerjanya membuat Feya berhenti dari aktivitasnya, meletakkan pulpen yang sedang dimainkan di tangan kanannya.
 
Menik muncul, masuk ke dalam ruang kerja Feya dan menunduk sopan.
 
"Bu, ada beberapa orang Bapak-bapak dari Pihak Keamanan datang, mereka ingin menemui Ibu ". Menik memberitahu maksud dirinya masuk ke dalam ruang kerja Feya.
 
"Oooo, sudah sampai mereka ? Iya, iya..persilahkan mereka masuk semua, Nik !" Perintah Feya pada Menik.
 
Dan selang beberapa detik kemudian masuklah Menik bersama 5 orang lelaki berbadan tegap memakai baju santai. Mereka menunduk hormat pada Feya dan menjabat tangan Feya silih berganti.
 
"Silahkan duduk ". Ucap Feya ramah sambil menunjuk jajaran sofa di depan meja kerjanya. Feya juga berjalan ke arah sofa tersebut dan duduk bergabung bersama.
 
"Bapak-bapak mau minum apa ? Teh, kopi ?" Ucap Feya tepat di saat dirinya telah menduduki sebuah sofa singel.
 
"Kopi saja ", jawab salah seorang dari para tamu Feya ini, mewakili teman-temannya. Sepertinya lelaki yang sudah cukup berumur itu adalah pimpinan dari 4 orang lainnya.
 
Semua sudah duduk dengan baik, Feya di temani Menik juga sudah duduk dengan tenang. Pembicaraan serius pun di mulai.
 
"Ini adalah identitas Ibu selama di Negara tetangga nanti ". Lelaki yang di kira Feya sebagai pimpinan 4 orang lelaki lainnya memberikan Feya sebuah amplop besar berwarna cokelat.
 
"Maaf, tapi saya tidak tahu harus bagaimana di sana ?" Aku Feya polos.
__ADS_1
 
"Astaga saya sampai lupa memperkenalkan diri pada anda ", seulas senyum tertarik di kedua sudut bibir lelaki itu, "maaf Bu, saya terlalu serius tadi. Perkenalkan, saya Kepala Keamanan yang semalam memenelepon Ibu, nama Rojer. Ini Lukas, Bobi, Candra dan Bima". Tunjuk lelaki bernama Rojer kepada sosok lelaki lain yang tepat duduk di sebelahnya secara berurutan. Ternyata benar seperti dugaan Feya, Rojer adalah pimpinan dari 4 orang yang lainnya yang datang bersamanya.
 
"Lukas dan Bima akan berperan sebagai pengawal anda, nanti Ibu ikuti saja alur yang kami siapkan. Tugas Ibu di sana sebagai mata-mata kami, untuk menjelaskan semua situasi di dalam pelelangan itu ! Siapa saja orang-orang yang terlibat di pelelangan ilegal itu, serta satu lagi. Tolong kenali pelaku ! Kita harus menangkap dalang di balik kejahatan yang sangat merugikan masyarakat dan negara ini !' Penjelasan panjang di berikan oleh Rojer kepada Feya.
 
"Saya sebagai siapa di sana ?" Feya terlihat masih menjadi pendengar yang baik, dia harus mendapat informasi sebanyak-banyaknya tentang apa yang harus di lakukan, agar Feya bisa menjalankan tugas penting ini sebaik mungkin.
 
"Kami mendaftarkan Ibu sebagai Ny. Fiella, Ibu adalah wanita muda kaya yang sangat suka mengkoleksi barang antik. Ibu berasal dari Negara X yang kebetulan sedang berlibur di negara tetangga. Jadi kedatangan Ibu ke sana bukan di sengaja untuk berburu koleksi barang antik terbaru, melainkan tanpa sengaja Ibu mendengar tentang lelang dan ingin gabung ". Jelas Rojer mendetil pada Feya.
 
"Selama Ibu di dalam ruang lelang, Lukas akan menemani. Di dalam lokasi lelang seorang kolektor yang ikut acara tersebut di izinkan membawa satu pengawal dan satu asisten. Jadi dek Menik akan ikut berpartisipasi dalam penyamaran Ibu, dengan tetap menjadi asisten Ibu juga di sana ". Menik pun mengangguk saat Rojer mengakhiri penjelasaanya.
 
"Tugas dek Menik, seperti asisten pada umumnya. Membantu Ibu Feya menaksir harga pantas untuk barang yang diinginkan, yahhh...sekalian tarik ulur suasana supaya Lukas punya banyak waktu mencari identitas semua pelaku asli di balik pelelangan ilegal itu ". Dan lagi, Menik menganggukkan kepalanya untuk semua penjelasan yang di dapatnya barusan.
 
"Apakah semua ini aman ?" Tanya Feya sedikit ragu.
 
"Oooo...masalah keamana Ibu, jangan ragu. Kami bahkan sudah berkoordinasi dengan Pihak Keamanan di sana. Keselamatan Ibu kami jamin, Ibu pun hanya sebagai mata-mata kami saja. Saya jamin Ibu pasti aman ". Jawab Rojer penuh keyakinan.
 
Feya menatap Menik sesaat.
 
 
"Saya belum pernah melakukan hal seperti ini, jujur saya takut malah mengacau di sana nanti ", ucap Feya pelan.
 
"Jangan khawatir Bu, kan ada dek Menik dan Lukas bersama Ibu. Bima juga ada tetapi posisinya di luar aula tempat lelang, dan kami semua. Saya bersama tim serta Pihak Keamanan di sana akan siagan di sekitar lokasi. Jadi kami pastikan Ibu akan aman ". Sekali lagi Rojer berusaha menghilangkan rasa ragu Feya.
 
Feya menarik nafas panjang sekali, membiarkannya berlama-lama di rongga dadanya hingga menghembuskannya kembali. Feya menatap semua wajah yang ada di dalam kantornya itu, satu persatu.
 
"Baiklah..kalau menurut Pak Rojer demikian. Saya akan bantu ". Akhirnya Feya menyanggupi semuannya.
 
"Bagus ". Spontan saja Rojer berucap senang. "Besok siang kita berangkat Bu, kami akan menyiapkan semua akomodasi Ibu di sana. Besok saya akan memperkenalkan Ibu kepada semua orang yang terlibat dalam operasi ini ". Feya terlihat mengangguk pelan.
 
"Saya sangat berterima kasih atas kesediaan Ibu membantu kami ". Ucap Rojer dengan tulus.
 
"Sama-sama Pak, saya juga sangat senang bisa membantu ".
 
 
***************
 
__ADS_1
"Apakah masih ada lagi yang harus saya periksa ?" Tanya Dave pada Ezza saat lelaki muda penganti Tomo itu sedang menyusun ulang lembar-lembar kertas yang berada di atas meja kerja Dave.
 
"Tidak tuan, semua sudah selesai. Tinggal satu rapat lagi yang akan tuan laksanakan nanti sore ". Jawab Ezza sambil terus mengerakkan tangannya bekerja.
 
"Kalau begitu biarkan saya sendiri, saya tidak mau di ganggu, kalau sudah waktunya untuk rapat kamu boleh masuk !" Perintah Dave pada Ezza.
 
"Baik tuan ". Dan Ezza pun selesai menyusun semua lembar dokumen penting yang tadi sempat memenuhi meja kerja Dave. Setelah itu Ezza pamit dan segera berlalu dari hadapan Dave, meninggalkan Dave sendiri seperti keingginannya.
 
Sepeninggal Ezza, Dave membalikkan kursi kerjanya menghadap jendela besar tepat di belakang dirinya biasa duduk. Dave memandang jauh ke depan, tetapi entah untuk apa. Dave hanya diam, matanya kosong, dia hanya menatap jauh tanpa tahu apa yang di cari.
 
Dave menggapai handphonenya dari saku celana, memutar-mutar benda kecil berwarna hitam itu sebagai kegiatan tambahan dalam lamunannya. Cukup lama Dave bertahan di posisi ini, diam tanpa makna.
 
Lalu, Dave membuka galeri foto di layar handphonenya, memperhatikan satu persatu urutan gambar di sana. Beberapa jepretan gambar kondominium terbarunya yang di ambil Tomo pagi tadi. Sepertinya sampai sejauh ini hasil pekerjaan Hadi berjalan sesuai dengan konsep yang di janjikan Hadi dulu.
 
Dave memperbesar gambar tersebut beberapa kali, hingga tampaklah sudut kecil balkon kamar utama villanya yang juga ada di Kawasan Lestari 1 itu. Entah kenapa hati Dave kembali memiliki rasa mendamba yang dalam saat ini. Dave memandang serius potongan kecil balkon tersebut, Dave masih diam.
 
Ahhh...bukankah di sini dulu tempat pertama aku mencium bibir manisnya ?
Pikiran Dave sedang melayang ke suatu masa.
 
Bibirnya sangat manis, aku bahkan hampir hilang kendali karena rasa lezat yang berasal dari bibir tipis itu.
Sekarang Dave terlihat mengeleng-gelengkan kepalanya.
 
Tiba-tiba, Ibu jari Dave bergerak cepat di layar sentuh handphonenya. Sepertinya Dave sedang mencari sesuatu di sana. Dave terlihat bersemangat, hingga akhirnya Ibu jarinya berhenti di sebuah gambar. Gambar yang berisi foto dirinya bersama Feya, mereka duduk di taman bungga yang waktu itu Dave bawa Feya ke sana. Feya duduk di depannya, pada sebuah bangku yang sedikit lebih rendah dari posisi duduk Dave. Tangan Dave di kedua bahu Feya, mereka sedang melihat hasil jepretan Dave saat dirinya sibuk memoto Feya.
 
Hahaha...
Tawa Dave dalam hati, dia ingat. Foto itu diambil oleh pasangan muda mudi yang kebetulan sedang lewat di depan mereka kala itu.
 
Kamu cantik sekali.
Puji Dave pada sosok Feya di dalam layar handphonenya.
 
Andai saja saat itu kita berfoto dengan memperlihatkan warna matamu yang sebenarnya. Pasti foto ini akan menjadi foto terbaik di dunia. Matamu indah Fe, sungguh.
Ucap batin Dave memuji kecantikan dan keindahan mata Feya.
 
Ya....Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang ?
Dave pun menjauhakan handphonenya ke atas meja. Dia terlihat lelah, sepertinya Dave masih belum mengerti apa yang telah terjadi padanya saat ini.
 
 
__ADS_1