
FLASHBACK (2)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
Tidak butuh waktu lama, hanya hitungan menit saja Feya telah sampai di ruang pemeriksaan dokter. Dengan kondisi yang sangat lemah, Feya mengikuti rangkaian pemeriksaan dokter dan menjawab beberapa pertanyaan dari perawat yang mendampingi dokter. Pertanyaan pertama, walau terbata-bata akhirnya bisa dijelaskan oleh Feya. Tetapi pada pertanyaan kedua, Feya mulai merasakan gejolak tidak menentu di dalam perutnya, ada keinginan untuk memuntahkan kembali isi perutnya. Sayang, sepertinya apa yang ingin dikeluarkan sudah tidak ada lagi, hanya air saja dan semua itu semakin membuat kerongkongannya menjadi perih.
 
Lelaki tampan dengan stelan mewah jas berwarn hitam berusaha menguatkan diri, rasanya tidak sampai hati melihat keadaan Feya. Wajahnya memucat, riasannya sudah kacau, ada bekas air mata yang mengering di pipi pucatnya, belum lagi rambut panjangnya sudah mulai terlihat sedikit acak-acakan. Semakin lama suaranya semakin pelan, Feya hanya bisa mengutarakan kalau keronngkongannya terasa sakit.
 
"Tuan, anda harus menyelesaikan administrasi". Pinta seorang perawat saat melihat si pembawa pasien sama sekali tidak bergerak untuk melengkapi data pasien.
 
"Tidak bisa nanti saja? Saya tidak mau meninggalkan dia". Usaha lelaki tersebut agar di beri waktu tetap bersama Feya.
 
"Maaf tuan, kami memerlukan data pasien. Agar proses tindakan dapat berjalan lancar, tuan harus membantu kami". Lagi perawat yang memerlukan data pribadi Feya meminta sang lelaki tampan agar menyelesaikan pengisian administrasi.
 
Merasa percuma berdebat dengan si perawat, lelaki tersebut pun mengalah. Dengan berat hati, di meninggalkan Feya untuk mendapat rawatan lebih baik dan dirinya memilih mengikuti permintaan sang perawat untuk mengisi data-data Feya.
 
Dengan sikap tenang si lelaki menjawab semua pertanyaan demi pertanyaan dari si perawat.
 
"Nama pasien, tuan?" Pertanyaan pertama perawat tersebut.
__ADS_1
 
Lupa tanya, tadi sangat buru-buru. Saya terlalu kawatir soalnya.
 
"Harus nama dia atau boleh pakai nama saya?" Sepertinya lelaki penolong Feya ini cukup sulit menyebutkan nama Feya.
 
"Memang tuan siapanya pasien". Bukan jawaban, perawat tersebut malah kembali bertanya.
 
"Saya suaminya". Jawab si lelaki dengan tegas.
 
Semoga saja dia bukan istri orang, kalau tidak bisa kacau ini. Tapi lebih baik seperti ini, dari pada aku terlihat konyol karena tidak tahu namanya.
 
 
"Dave Indra Barata", jawaban si lelaki.
 
"Nyonya Dave Indra Barata". Si perawat mengulang kembali.
 
"Umur Nyonya, tuan?" Rupanya masih ada lagi pertanyaan kedua.
 
__ADS_1
"Dua enam". Tebak Dave si penolong Feya.
 
Pasti dua enam, yah kalau kurang nanti minta maaf deh.
 
Akhirnya pertanyaan baru untuk data Feya pun berlanjut. Dave Indra Barata nama lelaki tampan penolong Feya tetap memberikan jawaban yang di minta oleh perawat, walau terkadang dia menjawab hanya berdasarkan filling saja atau lebih tepatnya asal menebak saja.
 
Lengkap sudah data Feya di tangan perawat tersebut, tentu saja itu semua adalah data versi Dave, lelaki yang menolong Feya. Setidaknya untuk saat ini, tidak akan ada yang mempertanyakan benar atau tidaknya semua isi formulir yang telah di tanyakan langsung kepada Dave.
 
Pemeriksaan Feya oleh dokter telah selesai, Feya di minta untuk tetap beristirahat di tempat tidurnya. Sementata itu dokter yang tadi merawat Feya meminta agar keluarga Feya masuk keruangannya. Ada penjelasan yang harus diberikan dokter untuk tahap pengobatan Feya.
 
"Tuan Dave, silahkan masuk ke ruang dokter. Beliau ingin berbicara dengan anda". Perawat yang tadi mendampingi dokter memanggil Dave.
 
"Bagaimana dokter". Dengan penuh rasa khawatir Dave meminta penjelasan kondisi Feya yang sebenarnya.
 
Dengan sabar dokter memberi penjelasan pada Dave, semua rasa cemas Dave di jawab dengan ketenangan oleh dokter. Untuk lebih menyakikan Dave bahwa Feya baik-baik saja. Bahkan saat Dave bertanya apa yang harus dilakukannya buat Feya, dokter pun menjelaskan tahapan demi tahapan yang perlu Dave lakukan agar Feya bisa segera pulih seperti sedia kala.
 
 
 
__ADS_1