TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 139


__ADS_3

PERMOHONAN (3)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


"Kamu sepertinya menyepelekan aku ya Feya ?" Benda tajam berkilau di tangan Monternio sengaja di gerak-gerakkannya pada wajah Feya. Monternio ingin menekan mental Feya.


 


"Oke aku jujur padamu, beberapa saat tadi aku mulai suka padamu. Tetapi itu tadi, sekarang aku mulai membencimu. Kamu licik Fe ". Monternio memandangi wajah Feya yang sudah tidak berdarah.


 


"Kamu belum mengenalkukan ?" Monternio masih saja asyik memainkan pisau tajam yang sangat berkilau itu di wajah Feya. "Baiklah Fe, aku akan perkenalkan diriku ".


 


"Aku bukan orang biasa Feya, aku penyuka benda-benda bersejarah. Aku lihai mengumpulkannya dan menjual bebas kepada siapa saja. Tidak hanya itu, aku juga pengusaha sukses loh ". Senyum culas menghias sudut wajah Monternio. "Aku pengusaha sukses di bidang segalanya. Aku punya usaha prostitusi yang maju, aku punya usaha perdagangan manusia, aku juga punya usaha obat-obatan terlarang. Yang jelas aku pengusaha sukses dan aku berani buktikan itu ". Ada rasa bangga di diri Monternio.


 


"Jadi kamu, kamu sangat berani masuk ke istanaku, Feya. Tanpa mencari tahu terlebih dahulu dulu siapa aku. Dan parahnya, kamu berani memakai alat itu. Kamu sepertinya nantangin aku ?" Monternio merasa kalau Feya ingin mengelengkan kepalanya.


 


"Ma, maafkan aku. Aku mohon ". Ucap Feya penuh permohonan.


 


"Bagaimana caramu meminta maaf ". Monternio menatap mata biru Feya yang mulai meneteskan air mata. Sepertinya Feya memang sedang berusaha membuat Monternio iba.


 


"Aku, aku tidak akan menceritakan apapun pada siapapun, tentang kamu !" Ucap Feya pelan di sela kegugupannya.


 


"Aku mau lebih dari itu !" Monternio menatap Feya dengan tatapan yang tidak bisa di terka.


 

__ADS_1


"Ampuni aku ". Feya merasa sangat tidak berdaya.


 


"Iya..tentu saja ". Monternio menjauhkan benda tajam yang sedari tadi menari di wajahnya. "Kalau kau bisa membuat aku senang, aku akan mengampunimu !"


 


Mendadak Monternio membopong Feya, dengan sigap lelaki berwajah tampan itu membawa Feya dalam gendongannya. Feya tersentak, dirinya tidak terima. Dengan sisa tenaga di balik rasa takutnya, Feya mulai meronta-ronta sebisanya.


 


"Bergerak lagi, maka kau akan ku habisi ! Jangan coba menguji kesabaranku !" Ancam monternio kemudian.


 


Feya membeku, berdiam patuh pada kehendak Monternio. Lelaki itu begitu mengerikan, sikapnya terkadang sangat kejam. Feya memilih memperhatikan kemanakah dirinya akan di bawa. Monternio terus saja berjalan ke sebuah kamar di balik ruangan itu.


 


Hingga dengan santainya, Monternio membanting tubuh Feya di atas sebuah ranjang besar. Feya gelagapan dan secepatnya mundur kebelakang.


 


 


"Kalau kamu bisa membuat aku senang, maka aku tidak akan menjualmu Feya. Aku akan memberikan kesempatan padamu untuk menghirup udara kebebasan ". Monternio mulai melangkahkan kakinya mendekat ke ranjang. "Tapi kalau kamu gagal, maka aku akan menjualmu ke rumah malam yang aku punya. Aku yakin, kamu akan jadi primadona di sana, kamu akan dengan mudah dapat pelanggan ". Tawa senang menghias sudut bibir Monternio.


 


"Ja, jangan ", permohona Feya penuh iba. "Tolong jangan ". Air mata putus asa mulai jatuh membasahi pipi Feya.


 


Feya berusaha sebisanya memundurkan dirinya menjauh dari jangkauan bengis seorang Monternio. "Jangan, aku mohon. Ampuni aku ". Ucap Feya mulai terisak takut.


 


"Kenapa jangan, padahal aku akan mengajakmu ke surga ". Monternio terus mendekati Feya. Senyum menawan yang tadi terus menghias wajahnya, sekarang telah berubah menjadi senyum kehancuran. Feya mundur menjauh darinya, hingga menbuat Monternio akan terus mendekat padanya.


 

__ADS_1


Akhirnya Feya terpojok, punggungnya membentur kepala ranjang. Habis sudah, Feya merasa inilah yang dinamakan kiamat. Sesaat Feya berpikir, bagaimanakah caranya agar dia bisa mati dengan cepat, saat ini juga.


 


Tuhan..tolong aku, aku mohon....jangan biarkan orang kejam ini menghancurkan hidup dan kehormatanku. Aku mohon, kirimkanlah penyelamat untukku, Tuhan. Atau, atau biarkan nyawaku pergi jauh, biarkan aku mati saja dari pada harus berakhir tragis di bawah tubuhnya. 


 


Terlambat, Monternio berhasil menyentuh kaki Feya, tepat di saat pemohonan dalam doanya selesai terucap indah di dalam hatinya. Semua sia-sia, Monternio telah mengukung Feya di antar kedua tangannya. Feya menjerit keras, ketakutan dan penuh ketidak berdayaan. Berkali-kali bermohon kasihan, dan berkali-kali menjerit memohon pertolongan.


 


"Percuma ". Ucap Monternio sambil mencekik leher Feya, seketika nafas Feya terputus begitu saja.


 


"Hahahahaha ". Monternio tertawa bahagia, kemudian melonggarkan tangannya di leher Feya. "Percuma berteriak, nyawamu ada di tanganku ! Sekarang diam dan layani aku ! Baru setelah itu aku akan pertimbangkan, akan membunuhmu atau menjual tubuhmu ini ". Feya terbatuk-batuk sambil menarik nafas dalam. Paru-parunya terasa sangat kesakit.


 


Monternio mengerakkan tangannya ke arah kancing kemeja Feya. Feya sontak bertindak, menampar wajah Monternio dan mendorongnya keras. Monternio terjungkal ke sisi ranjang, memberi ruang bagi Feya untuk bergerak. Secepatnya Feya turun dari ranjang besar itu dan berusaha melarikan diri sebisa kaki gemetarnya melangkah.


 


"Berhenti !" Teriak Monternio marah.


 


Feya tidak mengubrisnya.


 


"Aku bilang berhenti !" Feya terus berlari, dan sebilah benda tajam terbuat dari besi yang tadi sempat menyentuh leher dan wajah Feya, telah di buat terbang oleh Monternio. Feya terjerembab keras kelantai, pisau itu menancap sempurna di bahunya. Entah bagaimana caranya, yang jelas Feya merasakan sakit yang tidak terkira.


 


Sangat perlahan dan terus saja secara perlahan, rasa sakit menjalar di sekujur tubuh Feya, Feya merasa ada sesuatu membasahi yang cair dibahunya turun ke bawah. Pelan dan entah pada hitungan keberapa, Feya merasa mulai melayang. Hingga dirinya berhalusinasi mendengar suara lelaki yang jujur, sangat di rindukannya hatinya.


 


Feya terus melayang, terbang jauh dan tinggi, hingga dirinya sudah tidak sadarkan diri lagi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2