
PERDANA (5)
🌹🌹🌹🌹🌹
 
Apa yang harus aku lakukan? Apa, aku harus apa? Berpikir, ayo Feya berpikir. Nggak maukan di sosor bibir Hadi. Ayoo, cepat! Hadi udah mau melangkah tuh.
 
Feya berusaha keras memutar otak, mencari strategi terbaik agar bisa menghindari adegan yang biasa Hadi dan Leya lakukan saat mereka bertemu. Jelas terlihat di mata Feya bagaimana semangatnya Hadi saat bertemu dirinya yang dikira Hadi adalah Leya, dan andai saja Hadi sedikit peka, sedikit saja pasti dia tahu ada yang beda dari sikap Feya saat ini. Karena yang tampil di depan Hadi, yang berdiri dihadapannya jelas-jelas bukanlah Leya.
 
Entah harus senang dan berbangga diri mendapati kenyataan bahwa sampai sejauh ini Hadi masih percaya bahwa wanita yang berdiri dihadapannya ini adalah Leya, bukan Feya si kembaran. Tidak bisa dibohongi, berarti sampai sejauh ini permainan peran Feya cukup hebat, cukup ahli dan bisa disandingkan dengan para aktris-aktris hebat tanah air yang mendapat piala citra seperti di televisi-televisi.
 
Baiklah.... Feya menemukan cara terbaik menghindari bibir Hadi mendarat di bibirnya.
"Sayanggggg", Feya berjalan dengan cepat ke arah Hadi yang telah berdiri dari duduknya. Tanpa dikomandoi Feya langsung membentangkan kedua tangannya dan memeluk Hadi, menyembunyikan wajahnya di dada Hadi.
 
"Sayang", suara Feya yang di buat-buat semanja mungkin agar mirip dengan suara Leya saat begelayut manja di dalam pelukan Hadi.
 
"Ohhh, beb", suara Hadi yang terdengar di telinga Feya sambil membalas pelukannya. Terdengar ada rasa rindu di dalam suara khas Hadi.
 
"Kangennnn". Suara manja Feya yang membuat dirinya sendiri merasa aneh saat telinganya mendengar suaranya tadi.
 
__ADS_1
"Ohhh..beb, aku juga kangen, kangen banget malah beb. Rasanya beberapa hari ini hampa, enggak bisa lihat kamu, peluk kamu dan cium kamu. Maaf ya beb, belakangan ini aku sibuk. Sampe kita jarang ketemu, tapi percayalah beb semua itu demi masa depan kita. Demi kamu beb, aku ingin memberikan yang terbaik buat kamu saat kita telah menikah nanti". Penjelasan panjang Hadi sambil berusaha melepaskan pelukan Feya untuk menatap wajahnya.
 
Feya bersikukuh bertahan memeluk Hadi, dia merengek seakan-seakan masih sangat enggan melepaskan pelukannya karena rasa rindunya pada Hadi. Padahal, itu cuma trik Feya saja agar Hadi tidak memaksanya menatap wajah Hadi hingga nanti ada adegan yang belum siap dia lakukan.
 
"Iyaaaa, aku tahu sayang. Tapi aku tuh kangen banget, pokoknya masih mau di peluk". Feya merengek dalam pelukan Hadi.
 
Hadi mencium ubun-ubun Feya, Feya bergidik, Hadi mempererat pelukannya pada Feya seakan-akan ingin menyerap semua rasa rindu di tubuh Feya agar Feya bisa merasakan kelegaan.
 
Feya terdiam, bukan kelegaan yang di rasa, dia malah merasa merinding. Aneh, tunangan kembarannya, calon kakak iparnya malah bersikap sedemikian rupa padanya.
 
"Permisi tuan", suara seorang pelayan wanita yang di dampingi pelayan wanita lain dengan tangan berisi satu buah baki penuh isi, berdiri di depan pintu ruang VVIP yang di pesan Hadi.
 
"Ya", jawab Hadi sambil terus mempertahankan pelukannya pada Feya.
 
"Makanannya telah siap, boleh kami hidangkan". Sang pelayan meminta izin pada Hadi.
 
"Ya tentu saja, silahkan". Perintah Hadi.
 
__ADS_1
"Kita makan dulu sayang". Pinta Feya lembut sambil menjadikan kedatangan sang pelayan sebagai alasan untuk melepaskan diri dari pelukan Hadi.
 
"Ya beb, duduk". Hadi melepas pelukannya dari Feya sambil menarik kursi untuk diduduki Feya.
 
Selamat, selamat...
 
"Aku sudah pesankan makanan kesukaan kamu". Ucap Hadi dengan bangganya.
 
Makanan kesukaan Leyakan?
 
"Makasih sayang". Ucap Feya sambil memberikan senyum terbaiknya bagi Hadi.
 
Sang pelayan masuk, membawakan semua hidangan yang telah di pesan Hadi sebelum Feya masuk ke ruang tersebut. Aneka makanan yang sangat digemari oleh Leya, Hadi sangat hafal apa saja makanan yang menjadi favorit sang tunangan.
 
Hot appetizer berupa croquette, dihidangkan oleh sang pelayan dengan tatanan rapi tepat di hadapan Feya dan Hadi. Feya berkenyit melihat hidangan pembuka yang dipilihkan Hadi untuk dirinya, rasa tidak percaya pada diri sendiri terhadap hidangan yang terlihat masih mengepulkan asap panas, pertanda hidangan tersebut baru saja di olah, fresh from the oven. Feya bukanlah pecinta hidangan pembuka yang beraroma panas, terlebih di dalam hidangan tersebut terdapat daging. Semua yang kenal Feya pasti tahu kalau Feya bukanlah pecinta daging. Feya sangat tidak suka daging. Dan untuk appetizer Feya lebih menyukai hidangan yang mengandung buah serta bersifat dingin seperti fruit salad.
 
 
 
__ADS_1