TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 142


__ADS_3

PENYELAMATAN (2)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


"Bagaimana ?" Dave langsung berjalan cepat kearah Dokter yang baru saja selesai melakukan pertolongan di kamar operasi pada Feya.


 


"Maaf tuan, kondisi nona tidak baik. Nona sedang kristis ". Wajah Dave berubah, rahangnya mengeras membuat batinnya bersedih.


 


"Tuan ". Dokter mencoba berbicara pelan. "Bahu nona yang terluka sudah kami tangani, operasi berjalan lancar. Hanya saja, luka tersebut mengenai bagian arteri, dan di sinilah letak bahayanya. Di tambah lagi, nona di bawa kemari sudah dalah keadaan banyak kehilangan darah ".


 


Dave menunduk, mendadak tangannya terasa dingin.


 


"Tuan, yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa ! Segala upaya telah kami kerahkan. Tuan harus banyak-banyak berdoa, semoga nona bisa melalui masa kritisnya malam ini !" Dokter menyentuh bahu Dave perlahan.


 


"Percayalah, Tuhan itu Maha baik, jadi memintalah padanya !" Dokter terus berusaha menenangkan Dave dengan berbagai kata-kata bijaknya.


 


"Tidak adakah yang bisa dilakukan ?" Tanya Dave penuh harapan.


 


"Sudah, yang terbaik sesuai perintah Tuan. Tapi sisanya semua kehendak Dia, tuan harus merayu-Nya untuk menyelamatkan nona ". Dave terduduk lemas pada kursi panjang di dekat kakinya.

__ADS_1


 


"Maafkan saya, tuan. Tapi inilah batasan kemampuan kita. Saya akan bantu tuan berdoa, agar nona bisa melalui masa kritisnya malam ini ". Ucap dokter yang diam-diam merasa sangat iba pada Dave.


 


Masih jelas dalam ingatannya, bagaimana sosok Dave berlari kencang membawa Feya yang sudah mulai pucat kehabisan darah masuk ke ruang perawatan. Dave berteriak bagai orang gila, memohon agar Feya di selamatkan. "Saya mohon, tolong...tolong lakukan apapun itu, segala yang terbaik ! Saya mohon tolong kekasih saya ". Kalimat penuh duka Dave mengiang di teliga sang dokter.


 


Siapa yang tidak kenal Dave di Rumah Sakit itu, Dave pemilik Rumah Sakit terbaik di Kota ini, tentu saja tanpa diperintahpun, tentu saja si dokter dengan suka ria akan berusaha menyelamatkan pasiennya. Tetapi yang menjadi masalah kedatangan Dave sedikit terlambat, luka Feya mengenai bagian penting pembulu darah. Dan yang lebih memgkhawatirkan lagi, luka itu telah dibiarkan terngangga terlalu lama. Hingga Feya kehabisan banyak darah.


 


Semua usaha terbaik telah dilakukan, bukan karena latar Dave sebagai pemilik Rumah Sakit itu, tetapi murni karena kemanusiaan. Sumpah seorang dokter yang akan berjuang menyelamatkan nyawa siapa saja, namun usaha tetaplah usaha. Hasil akhir adalah keputusan sang Maha Kuasa, tidak bisa dibohongi, Feya memang sedang tidak baik, bahkan jauh dari kata bisa kembali baik.


 


Sekali lagi, dokter itu menyentuh pelan bahu Dave. Mencoba memberi Dave penguatan batin dan semangat sebanyak yang dia bisa. Semangat agar Dave mampu percaya bahwa dirinya bisa memohon sepenuh jiwa untuk nyawa seorang wanita yang sangat di cintainya.


 


 


 


Sementara itu...


 


Air mata kalut terus saja membasahi pipi renta dari wanita paruh baya di seberang lain sebuah negara. Dengan tangan terus bergelung di lengan sang suami, wanita ini sibuk meminta agar suami tercintanya segera mencari tahu keberadaan Feya. Si anak kembarnya yang tidak kunjung bisa di hubungi.


 


Rasa takut bercampur panik, pikiran buruk terus menari dalam kepalanya. Mama si kembar ini tahu, Feyanya tidak baik saat ini. Tetapi entah bagaimana cara mengetahui dimana rimba gadis cantik yang baik hati itu.

__ADS_1


 


"Bahkan pihak kantorpun tidak tahu Feya dimana Pa ". Suara Iba Mama membuat sang suami mempererat pelukannya. Kalau di awal, Papa si kembar berpikir sang isteri sedang merindukan akan kembar mereka hingga bisa memiliki imajinasi buruk tentang Feya. Tetapi sesaat tadi hati kecilnya merasakan sentruman menyakitkan yang membuat dirinya merasa sangat terluka. Pikiran sang Papa mengembara kepada Feya dan dirinya yakin, firasat sang isteri benar. Feya sedang tidak baik-baik saja, di sana, di tempat yang tidak diketahuinya.


 


"Pa, coba...coba tanya Leya !" Mendadak sang Mama ingat suadara kembar Feya. Mungkin saja bukan, Leya tahu keberadaan Feya saat ini ? Sebuah harapan menghiasi relung jiwa Mama.


 


Bagai mendapat angin surga, sang Papa langsung menelepon Leya. Semangat tergambar jelas di wajah renta itu. Berharap akan mendapat jawaban yang paling indah.


 


"Pa....., hiksss ". Jantung Papa berdegub kencang, bukan jawaban indah. Dirinya malah mendengar suara tangis Leya di ujung sana.


 


"Nak...", Papa mulai ragu. Ikatan batin Leya dan Feya sangat kuat. Mereka kembar identik, perasaan mereka saling terpaut erat.


 


"Feya, Pa...hiksss ". Perasaan Papa bertambah kacau. Yakinlah dirinya, Feya kesayangannya sedang di ambang kejadian paling mengerikan.


 


"Kamu tahu dimana Feya, Le ?" Tanya Papa mencoba tenang.


 


"Enggak Pa, tapi..tapi aku merasa Feya sedang terbang jauh. Feya sedang berencana ninggaling aku...hiksssss, hikssss, hiksssss ". Pecah sudah derai pertahana diri Leya. Dia menangis sejadi-jadinya, dirinya tidak lagi bisa menahan rasa takut pada kehilangan sebagian jiwanya.


 


Sang Papa memegang erat tangan lembut penuh kasih dari isteri tercinta. Entah apa yang harus mereka lakukan saat ini. Semua panik, semua kalut, tetapi semua tidak ada yang tahu ada apa dengan Feya dan dimanakah dirinya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2