TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 145


__ADS_3

LANGKAH KAKI FEYA


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Mama, Papa dan Leya, semua berdiri rapi di ujung anak tangga. Semua sedang berpelukan satu sama lain, jelas ada duka di mata masing-masing. Ada rasa yang entah siapakah pujanga terbaik yang bisa mengutarakan isi hati terdalam dari berpasang mata yang terus saja menatap lantai atas rumah bernuasa putih itu. Semua orang sedang mencoba kuat, semua orang sedang mencoba tabah, tetapi entah untuk apa.


 


Suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga perlahan, satu persatu. Jantung Mama semakin berdegub kencang, Papa semakin menahan nafas panjang, dan Leya semakin mempererat pelukan. Sebentuk ketakutan menguasai relung terdalam jiwa mereka saat ini begitu mendengar derap kaki itu semakin turun menuju ujung tangga. Waktu terasa terlalu cepat berputar, Feya sudah menghampiri mereka semua.


 


Feya memakai baju dress putih dengan pita pengikat rambut panjangnya juga berwarna putih. Feya sangat cantik, meskipun sangat pucat dan sangat lemah. Tetapi tetap saja, Feya memang cantik.


 


Mama maju 2 langkah, memeluk Feya lama. Air mata Mama jatuh begitu saja, pelukan Mama terasa dingin, tubuh gadis kesayangannya mulai dingin.


 


"Mama sayang Feya ". Ucap Mama sambil menatap mata sayu Feya. "Andai saja Mama boleh menukarnya nak, biarlah Mama saja ! Jangan kamu ". Air mata Mama membasahi pipi tuanya.


 


Feya tersenyum, segurat garis tipis terbentuk di sudut bibirnya. Feya menghapus air mata Mama dan mencium pipi itu lama, lama sekali. Seakan itu adalah ciuman sayang terakhir Feya, karena jelas terlihat Feya ingin bertahan di bersama Mama.


 


Sekarang Feya telah beralih kehadapan Papa. Dengan penuh bakti, Feya mencium pungung tangan kanan Papa. Feya tahu Papa sedang menangis pilu. Tangisan yang tidak pernah Feya jumpai selama ini. Dan sama seperti sang Mama, dengan penuh kasih Feya menghapus air mata Papa. Feya hadiahkan Papa kecupan sayangnya sambil tersenyum di sudut bibir pucat itu. Papa memeluk Feya dan berbisik, "apa yang harus Papa lakukan agar tidak kehilangan kamu, nak ?" Namun Feya hanya terus tersenyum sambil mengelengkan kepalanya pelan.


 


Terakhir, saudara kembarnya. Feya dan Leya berpelukan, kembar identik ini sedang saling mencurahkan isi hati terdalam mereka. Tanpa bicara, mereka bisa saling mengerti apa isi jiwa di sana. Mereka bisa memiliki ikatan kuat yang berasal dari batin yang sama. Leye mengeleng, seolah menolak sesuatu. Seakan sedang berucap jangan pergi, yang disempurnakan air mata putus asanya. Tetapi Feya sangat tenang, dia lebih memilih memeluk kembarannya itu sangat lama, sebanyak waktu yang dia punya.


 


Hingga waktu itu sampai, sebentuk cahaya mengarahkan Feya untuk berjalan keluar. Menuntun Feya untuk pergi. Feya menatap semuanya, Papa, Mama dan Leya, sebuah tatapan dengan mata biru yang mulai layu.


 

__ADS_1


Feya terus melangkah dan melangkah, membiarkan semua menangis pilu. Kakinya terlihat dangat patuh dengan arah cahaya terang menuntunya. Feya mulai masuk ke sana, kulit pucatnya mulai bersatu di sana. Sampai tiba-tiba, suara keras terdengar mulai mendekatinya.


 


"Jangan pergi, aku mohon ". Suara itu berteriak pasti, langkah Feya pun berhenti.


 


"Aku mencintaimu Feya, aku mohon. Jangan tinggalkan aku ! Kembalilah padaku, Feya....Feyaaaaaa ". Ingatan Feya membuatnya merasa mengenal sosok pemilik suara yang sangat mengiba itu


 


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu ". Feya semakin mengenali suara yang terus mengucap cinta padanya.


 


"Kambalilah Feya, jangan pergi !" Perlahan hati kecil Feya merasakan sebuah kehangatan.


 


"Kalau kamu pergi, bagaimana denganku ? Aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu ". Suara itu semakin menyentuh sudut hati Feya. Mulai merayu Feya.


 


 


"Feya, cintaku...jangan tinggalkan aku !" Pikiran Feya semakin yakin, dia sangat kenal suara berat khas seorang lelaki dewasa. "Jangan tinggalkan aku !"


 


Feya bermaksud membalikkan badan, menatap kebelakang dan mencari tahu siapakah gerangan lelaki yang terasa sangat dekat di hatinya itu. Tetapi tidak bisa, cahaya terang di depannya memerintahkan Feya untuk kembali melanjutkan langkahnya.


 


"Dengar, dengarkan aku. Aku mohon ". Feya kembali menghentikan langkahnya. "Kalau kamu memang bukan takdirku di sini, maka tunggulah aku ! Aku akan menyusulmu, aku akan lompat Feya. Percayalah aku akan menyusul cintaku !"


 


"Kita akan bersama Feya, pergilah ! Aku akan lompat sekarang !" Feya menutup telinganya rapat. Semua ucapan sosok lelaki di belakangnya membuat hatinya bersedih. Feya mulai bingung, apa yang harus dilakukannya ? Melanjutkan langkah atau menghentikan sosok lelaki yang terdengar bersungguh-sungguh itu.


 

__ADS_1


"Sayang...aku akan pergi bersamamu !" Dan sekarang suara itu pelan tapi pasti mulai menjauh.


 


Pergolakan batin sedang melanda Feya, hatinya berteriak agar dia menghentikan siapapun lelaki itu dari semua tekad sepenuh jiwanya. Tetapi kaki Feya sangat enggan patuh padanya. Kaki itu terlihat sedang menuntun Feya agar kembali melanjutkan langkahnya.


 


Feya memejamkan mata birunya, sekelebat bayangan secara teratur tampil di pelupuk matanya. Feya sadar, ingatannya jelas sedang mengambarkan sosok pemilik suara itu. Iya, hatinya tidak berbohong. Feya memang kenal siapakah lelaki itu, Feya sangat tahu.


 


"Dave ", bibir Feya bergerak pelan membantuk susunan huruf.


 


Sayang, suara Feya terlalu pelan. Seakan hanya berbisik pada dirinya sendiri. Dave, sosok lelaki yang sedari tadi membujuk iba padanya tidaklah mendengar. Dave terlihat mulai putus asa.


 


"Dave ". Feya mencoba sedikit lebih keras. Tetapi sama saja, Dave terus melangkah.


 


Feya membalikkan badannya, kakinya menolak tetapi jiwa Feya memberontak. Dengan sepenuh tenaga, Feya terus berusaha hingga dirinya bisa menatap jelas punggung Dave mulai menjauh. Dave sedang berjalan cepat, melangkah ke tepian kayu, sepertinya Dave berencana lompat dari situ.


 


Feya mengeleng keras. Feya tidak ikhlas, dengan sisa tenaganya, Feya mulai berteriak keras.


"DAVEEEEE ". Dave tetap melangkah.


 


Sekali lagi, Feya mengeraskan suaranya. "DAVEEEEEEE, BERHENTI ".


 


Dan Feya berhasil, Dave berhenti di saat langkahnya hampir sampai ujung kayu. Dave berbalik arah, tersenyum bahagia dan kembali pada Feya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2