TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 52


__ADS_3

MENGHUBUNGI HADI


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Menghubungi Menik selesai, semua sudah dijelaskan kepada Menik dan Menik sudah menghandel semuanya. Makasih ya Nik, nanti siang aku masuk kantor kok. Feya merasa tenang, mempercayakan semua aktivitas kantor sementara waktu kepada Menik. Feya yakin Menik dan semua stafnya bisa mengurus kantor saat ini, hanya sebentar. Setelah jam makan siang, Feya sudah mantap akan kembali untuk masuk ke kantor, Feya merasa dirinya sudah sangat sehat sekarang.


 


Hadi, hampir lupa. Aku janji akan menghubungi Hadi. Gimana ya caranya? Aku harus mengubungi Leya cerita semua, minta dia segera menghubungi Hadi. Iya..harus segera. Sebelum Hadi nekat ke rumah Papa buat cari Leya.


 


Segera, Feya menghubungi kembarannya. Leya harus tahu kekacauan yang telah diciptakannya semalam. Kesal, Feya tidak cuma ingin menceritakan semua pada Leya, tetapi dia juga berencana untuk memarahi Leya atas apa yang telah terjadi padanya semalam.


 


"Hallo kembaranku". Leya menerima panggilan telepon Feya dengan senang.


 


"Hallo, hallo. Kamu senang di sana. Sedang aku? Hampir saja mati berdiri di sini". Kesal, Feya tidak suka mendengar suara senang Leya di ujung telepon.


 


"Loh, kok marah Fe. Apa salahku". Leya sukses merasa bingung mendapati diri dimarahi Feya pagi ini.


 

__ADS_1


"Salah? Banyak. Semua permainan ini salah. Tau kamu". Feya pun terdengar sangat marah.


 


"Hey, tunggu dulu. Aku enggak ngerti Fe". Leya tidak terima mendengar Feya terus memarahinya.


 


"Kamu bilang semua sudah kamu siapkan sebaik mungkin, tapi apa kenyataannya? Aku hampir saja pingsang semalam". Feya masih bertahan dengan emosi di dalam hatinya. Wajar saja bukan Feya bersikap sedemikian rupa? Coba saja rasakan menjadi dirinya semalam, di awal permainan di mulai. Feya sudah harus berjuang keras memikirkan cara terbaik agar bisa terlepas dari bibir Hadi yang sangat sibuk ingin menempel di bibirnya. Belum lagi tangan Hadi yang selalu saja menemukan celah untuk membelai tangannya, ditambah adegan Hadi memangku dirinya, hingga Feya yang harus menelan paksa makanan dengan olahan daging di dalamnya.


 


Sudah? Belum, cerita buruk tentang semalam masih berlanjut. Dilarikan  Dave ke Rumah Sakit, isi perutnya yang sukses dia muntahkan, pusing, lemas dan tengorokan yang sakit. Dan tidak cuma itu, telepon panik Hadi pun masuk dalam akhir buruk penampilan perdana permainannya semalam. Semua sangat berat bagi Feya, dan semua tidak pernah ada di dalam daftar persiapan yang telah di buat Leya. Jadi wajar bukan, kalau Feya marah? Baru tampilan perdana permainan ini di mulai dan Feya berakhir dI Rumah Sakit.


 


Dengan tetap bertahan pada nada suara emosinya, Feya menceritakan semua pengalamannya semalam pada Leya. Penuh kesal, Feya terus menyalahi Leya atas apa yang dia alami, atas akhir buruk yang harus dilaluinya semalam.


 


 


"Astagaaa, kok bisa seperti itu Fe?" Leya sangat tidak percaya dengan apa yang menimpa kembarannya semalam.


Aku benar-benar lupa tentang masalah makanan. Aku benar-benar lupa...maaf.


 


"Dan masih lama banget dua minggu itu. Berarti harus berapa kali lagi aku bolak-balik Rumah Sakit, hah?" Dengan suara tegas, Feya bertanya pada Leya.

__ADS_1


 


"Ma-maaf..". Hanya itu yang bisa diucapkan Leya. Sungguh Leya tidak pernah menyangka apa yang telah dipersiapkannya dengan sebaik mungkin, justru malah masih ada celah kesalahan bahkan fatal ternyata. Makanan, kenapa aku justru lupa pada makanan. Feyakan mana bisa makan olahan daging. Lantas apa yang aku lakukan sekarang? Baru masuk hari kedua, apa aku sudahi saja semua ini?


 


"Maaf? Dan aku?" Feya masih kesal.


 


"Aku, aku, aku harus apa Fe?" Rasa bersalah membuat Leya putus asa saat ini.


 


"Entahlah". Feya malas memikirkan solusi terbaik buat Leya saat ini.


 


"Maaf, maafin aku ya. Aku salah..tapi, tapi taukah kamu Fe. Aku, menurut chef pengajarku. Masakanku semalam masuk katergori layak makan loh. Yah, walaupun tampilannya sangat tidak bagus. Tapi rasa masih bisa untuk di makan". Leya mencoba menceritakan hasil pengalaman perdananya memasak semalam.


 


"Aku enggak minat mendengarnya". Cepat Feya menyudahi cerita Leya. "Telepon Hadi segera, aku sudah janji padanya semalam. Jangan sampai dia kerumah Papa duluan, semalam dia sangat marah, sangat cemas!" Perintah Feya pada Leya.


 


"I-iya..iya, aku telepon sekarang. Terima kasih ya Fe". Tulus, Leya memberi ucapan terima kasih pada Feya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2