
PERMOHONAN (1)
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
γ
Ragu, penasaran dan tidak bisa di bohongi, sejujurnya Feya mulai takut. Monternio sangat menawan, senyum selalu menghiasi ketampanannya, tetapi entah kenapa aura kejam jelas terpancar pada diri lelaki itu. Jantung Feya berdegub kencang, dag dig dug...dia mulai menciut.
γ
Monternio berdiri gagah dekat sekali dengan Feya, tetapi Feya hanya berani menatap sepatu lelaki itu yang terlihat sangat menyilaukan mata. Masih ada sedikit sisa keberanian di dalam dirinya, Feya berencana untuk segera lari dari kengeriaan saat ini.
γ
"Bagaimana, sudah bisa menyebut namaku ". Tanpa permisi, dengan tangan kanannya, Monternio menyentuh dagu Feya dan memaksa gadis cantik itu untuk menatap wajahnya.
γ
"I, iya..bisa ". Jawab Feya tergagap sambil berusaha menjauhkan tangan lelaki itu dari dirinya.
γ
"Ayo coba ". Senyum Monternio terkembang senang, tetapi jemarinya mencengkram kuat. Feya terpejam, ada rasa sakit di dagunya.
γ
"Le, lepas ! Anda menyakiti saya ". Ucap Feya terbata.
γ
"Wah...masih keras kepala tidak mau menyebut namaku ya ?" Suara Monternio mulai terdengar marah.
γ
"Monternio ". Ucap Feya masih dengan mata terpejam, rasanya tulang di bagian dagunya siap lepas dari rahang saking sakitnya. "To, tolong lepaskan tanganmu, aku kesakitan ".
γ
"Hahahahahaha ". Seketika amarah Monternio hilang, bagai orang labil. Kadang marah kadang senang danΒ sekarang dia terlihat begitu senang. "Gadia pintar, membuat aku ingin memberimu hadiah saja ". Monternio berjalan ke arah meja kerjanya, meninggalkan Feya yang sedang menenangkan hati dan jantungnya. Jelas rasa sakit masih bersisa di dagu yang terlihat memerah akibat cengkeraman kuat Monternio tadi.
γ
"Ini ". Monternio terduduk di samping Feya sambil menyerahkan sebuah kota berukir hati, kota laku hitam yang hanya selebar telapak tangan.
γ
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot ". Tolak Feya halus sambil beringsut sedikit menjauh dari Monternio. Feya berusaha menolak halus.
γ
"Kalau aku memaksa ?" Monternio mengeser posisi duduknya saat sadar Feya telah memberi ruang diantara mereka.
γ
"Aku, aku nggak pantas untuk itu, aku...aku cuma berharap artefak yang sudah aku beli tadi saja !" Feya kembali meringsutkan dirinya, dia sedang berusaha menjauh lagi dari Monternio. "Setelah aku mendapatkan artefak itu, aku akan pergi, tidak akan menganggu kamu lagi ".
γ
Monternio tersenyum menawan kepada Feya, Feya di buat semakin takut saja.
γ
"Kamu belum lihat loh apa isi kotak ini, bagaimana kamu bisa bilang kalau kamu gak pantas terimanya ?" Monternio kembali menghilangkan batas diantara dirinya dan Feya. "Masalah artefak, kamu jangan takut. Aku akan memberikannya cuma-cuma padamu ". Monternio menyadari kalau Feya sedang berusaha mengeser dirinya lagi.
γ
"Tetapi untuk pergi, maaf ya. Aku enggak mau tuh kamu pergi !" Kali ini Monternio berhasil memojokkan Feya. Dengan santai Monternio menyandarkan dirinya pada Feya. Feya terdiam, sampai-sampai bernafaspun dihentikannya. Feya merasa sangat terjebak, sisi sofa tempat dirinya duduk telah sampai di ujung, Feya tidak bisa bergeser barang sejengkal saja.
γ
"Maaf ". Feya berusaha berdiri, mendorong pelan tubuh Monternio agar menjauh.
γ
γ
"Akukan sudah bilang, kamu tidak bisa pergi ! Jadi jangan salahkan aku kalau kamu merasa sakit ". Ucap moternio sambil mendorong tubuh Feya kembali ke sofa.
γ
Sakit, takut dan marah. Feya ingin sekali memukuli lelaki yang dengan santainya itu telah menyakiti dirinya. Terlebih sikap manis dan senyum menawan yang selalu di berikan Monternio padanya, Feya sangat membenci lelaki itu.
γ
"Jangan marah !" Monternio menyentuh pipi Feya. Dan dengan cepat Feya menepis tangan itu.
γ
"Bukalah hadiahmu ". Tidak merasa terpengaruh dengan kemarahan Feya, Monternio kembali mendekatkan kotak hadiahnya pada Feya.
γ
__ADS_1
"Dengar !" Akhirnya sisa keberanian dalam diri Feya di kerahkannya semua. "Saya tidak tertarik dengan hadiah anda. Saya mau artefak saya ! Dan saya mau pergi dari sini !" Wajah Feya memerah akibat marah.
γ
"Hahahahahaha ". Monternio tertawa terbahak-bahak.
γ
"Kamu kembali bersikap kaku padaku ? Ahhh, membuat aku sedih saja ". Monternio memasang tampang mengiba.
γ
"Ayolah...panggil namaku lagi !" Monternio memegang tangan kanan Feya, mendekatkan kebibirnya dan mengecup pelan.
γ
Feya terperangah, amarahnya kini bertambah. Monternio sudah kelewat batasannnya.
γ
"Jaga sikap anda tuan ". Feya menarik paksa tangannya. Tetapi gagal, yang ada malah Monternio mengeraskan gengamannya. Membuat Feya mengigit bibir bawahnya, sakit. Dirinya ingin menjerit.
γ
"Jangan coba-coba memerintah aku !" Monternio berbicara sambil menatap jemari Feya yang mulai memucat.
γ
"Sekarang terima hadiahku, atau kamu bisa melihat jari-jari lentik ini remuk tanpa ampun !" Monternio melihat kalau Feya mulai meneteskan air mata. Sakit sekali, Feya benar-benar merasa sakit di antara ruas-ruas jemarinya.
γ
"Ba, baiklah ". Suara gugup Feya pasrah. "Tolong, tolong lepaskan dulu tanganku, supaya bisa terima hadiah dari kamu !"
γ
Monternio melepas gengaman kasarnya dari jemari Feya, tetapi tidak melepaskan tangan gadis itu begitu saja. Sambil menghiasi kembali wajahnya dengan senyum menawan, Monternio kembali mengecup jemari yang sesaat tadi nyaris hancur dan cacat seumur hidup.
γ
"Jangan ngebantah aku lagi, karena aku nggak akan segan-segan buat nyakitin kamu !" Suara dingin penuh ancaman Monternio membuat semua sisi keberanian Feya menguap, menghilang.
γ
Lelaki yang terduduk di sampingnya ini sangat paranoid, senyum menawan hanya kedok kepalsuan yang bagi Feya terasa semakin membuat jantungnya mati ketakukan. Diam-diam, dalam hatinya Feya sedang mengajukan permohonan, berharap akan ada yang menyelamatkannya. Siapa saja, Feya sangat berharap karena semakin lama bersama seorang Monternio, Feya semakin ingin menangis tidak berdaya.
__ADS_1
γ
γ