TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 26


__ADS_3

SHOW TIME


❤❤❤❤❤❤


 


Perjalanan dari apartemen Leya ke bandara berlangsung tenang, baik Leya dan Feya, mereka hanya diam membiarkan satu sama lain saling tengelam dalam pikiran mereka yang sepertinya sangat jauh berbeda.


 


Enggak sabar deh pengen segera sampe, jadi langsung mulai belajar. Dan dua minggu kemudian, taraaaaaaaaaa. Hadi akan semakin jatuh cinta padaku saat dia memasukan suapan pertama menu masakanku ke dalam mulutnya. Leya.


 


Boleh nggak ya, tau-tau besok pagi saat buka mata, masa dua minggu sudah berlalu saja. Aku kembali kekehidupan normalku dan semua hasil permainan peran ini berjalan seperti apa yang telah disiapkan oleh Leya. Feya.


 


Jam lima lewat dua menit, Feya sudah bangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sedikit pusing, mungkin karena dia baru bisa tidur pukul dua dini hari dan dia sama sekali tidak tidur dengan nyenyak. Saat bangun Feya berusaha menyesuaikan suasana kamar tempat dia terjaga. Feya memang sering keluar masuk apartemen Leya, bahkan Feya leluasa keluar masuk kamar Leya. Tetapi kalau terbangun di pagi hari di atas ranjang Leya, ini baru kali pertama baginya.


 


Aneh.


 


"Le, bangun". Suara Feya berusaha membangunkan kembaranya itu.


 


"Eeeeee". Leya mengeliat kesana kemari sebelum benar-benar membuka matanya.


 


"Sudah pagi, segeralah mandi. Jam enam kurang aku antar kamu ke bandara". Kembali Feya berusaha membangunkan Leya.


 


Leya membuka matanya, dia tersenyum bahagai. Ini adalah pagi hari yang sudah ditunggunya. Pagi hari dimana dia akan segera menjadi wanita seutuhnya, belajar masak hingga akhirnya bisa memasak.

__ADS_1


 


Yes, belajar masak.


 


Cepat Leya beranjak turun dari ranjangnya tanpa perlu dibangunkan untuk kedua kalinya, dengan penuh samangat Leya masuk ke kamar mandi dan segera mandi.


 


Feya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Leya itu dan Feya pun memilih turun ke dapur mempersiapkan roti tawar dengan selai strowberi dan segelas jus jeruk hangat untuk sarapan mereka pagi ini.


 


Ya ampun Le, kok bisa isi lemari es mu hanya ini.


 


Feya heran mendapati isi lemari es Leya hanya beberapa jenis buah saja, selebihnya kosong tanpa bahan masakan apa pun.


 


 


"Aku sudah siap". Leya sekarang telah berdiri di ujung meja makan.


 


"Makanlah dulu sarapanmu aku akan segera mandi dan bersiap!" Perintah Feya kemudian.


 


Dan sekarang, inilah mereka. Feya tengah mengemudikan mobil kesayanganya untuk mengantar Leya ke bandara. Inilah waktunya semua akan di mulai, permainan akan di mulai.


 


Perhitungan kilometer perjalanan Feya sangat akurat, tidak sampai lima menit mereka sampai di bandara, pusat informasi pun mengeluarkan pengumuman agar penumpang pesawat D segera passenger registration di loket sesuai tiket keberangkatan.


 

__ADS_1


Leya memeluk erat Feya, seakan mereka akan berpisah untuk dua tahun lamanya. Leya menengelamkan wajahnya tepat di lekuk leher Feya. Jujur, entah mengapa hatinya berat untuk melepaskan pelukan mereka. Kakinya berat untuk melangkah meninggalkan Feya.


 


"Masih ada waktu jika kamu mau berubah pikiran?" Ucap Feya sambil tetap memeluk Leya.


 


Leya hanya diam, bertahan dalam pelukan Feya. Sepersekian detik dirinya mulai meragu.


 


Benarkah semua ini Tuhan? Leya


 


"Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari". Feya terus berusaha mengingatkan Leya.


 


Feya masih berharap agar Leya kembali berpikir, berpikir jernih demi masa depannya. Walaupun hanya sesaat, andai Leya mau memanfaatkan waktu untuk berpikir kembali. Semua masih bisa di cari solusi dengan cara lain.


 


Kemudian, Leya melepaskan pelukannya dari Feya, di ciumnya pipi kanan dan kiri Feya, lalu Leya berjalan menjauh dari Feya menuju pintu keberangkatan sambil melambaikan tangan. Sebelum pintu otomatis menutup kembali, Leya sekali lagi melambaikan tangannya dan berucap, "let's play sista".


 


Pintu otomatis keberangkatan menutup, menghilangkan Leya dan bayangannya. Meninggalkan Feya terdiam di luar sambil terus memandang tempat di mana Leya terakhir berdiri.


 


Oke, show time.


 


Feya melangkah meninggalkan bandara sambil menyemangati dirinya sendiri, rasanya tidak ada setiap moment yang tidak dimanfaatkannya untuk tidak mengingatkan Leya agar berpikir kembali dan mencari cara lain untuk masalah memasaknya itu. Hingga detik akhir sebelum pesawat Leya berangkat, Feya tetap berusaha mengingatkanya. Jadi, apa pun itu ke depannya, sekarang Feya harus menjalankan semua. So, mari dimulai permainan ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2