TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 17


__ADS_3

SEMALAM (3)


❤❤❤❤❤❤


 


Permainan itu sudah lama sekali, mungkin sudah delapan belas atau sembilan belas atau malah sudah dua puluh tahun yang lalu. Feya sendiri sudah lupa, semua terasa sudah sangat lama. Lantas malam ini Leya memintanya kembali bermain peran? Setelah sekian lama, setelah mereka dewasa. Mana mungkin Feya sanggup, Feya tidak habis pikir dengan keinginan Leya, dengan isi kepala Leya saat ini.


 


"Fe, nggak sulit kok. Kamu cuma menjadi aku bagi Hadi saja. Perusahaan, Papa dan Mama tetap aku handel. Semua aman, percaya sama aku". Leya terus membujuk Feya.


 


"Menjadi kamu, bagi Hadi? Kamu keterlaluan Le. Mau kamu apa sebenarnya?". Feya yang sedari tadi sudah emosi, sekarang bertambah tingkat emosinya.


 


"Dengar, dengar. Aku mohon jangan marah dulu Fe". Leya berusaha bersikap santai untuk menyakinkan Feya. "Aku mohon Fe, tenang dulu. Dengarkan aku, aku minta tolong padamu, tolong aku untuk menjadi aku saat bersama Hadi. Itu saja, kamu cukup temani dia saat dia memintaku jalan bersamanya atau makan bersamanya atau mendengarkan dia saat Hadi ingin berkeluh kesah. Hanya itu Fe".


 


"Bagaimana dengan sex?" Tanya Feya kemudian.


 


"Come on Fe". Sekarang terdengar suara tidak suka dari Leya.


 


"Apa? Jangan kamu pikir aku gak tau Le". Feya berbicara sambil membesarkan bola matanya terhadap Leya.


 

__ADS_1


"Oke, oke, aku ngaku. Aku dan Hadi memang tidur bareng, tapi no sex, oke! Just, you know, no sex. Kami hanya, astaga Feya. Kamu ngertikan? Kami hanya membelai atau apalah namanya bagimu. Tapi NO SEX, ingat itu. Dan saat kamu menjalankan peran sebagai aku, aku akan pastikan Hadi tidak akan membelaimu. Tidak akan ada acara tidur satu ranjang. Dan kamu bisa percaya padaku, Hadi tidak akan meminta belaianmu". Leya menatap lekat pada Feya.


 


"Bagaimana caranya?" Feya tidak mudah percaya.


 


"Caranya hanya aku yang tau, kamu cukup jalankan alurnya saja". Leya benar-benar yakin


 


"Dan ciuman? No kiss my sista?" Feya masih bertanya.


 


""Hey, just kiss. It won't demage you, you now just kiss Fe". Leya merasa sangat sulit membujuk Feya.


 


 


"Fe, aku bukan bermaksud seperti itu. Maksudku, aku tahu bagimu itu cuma ciuman biasa, aku mengenalmu Fe, kamu tidak akan pernah menikmati ciuman itu. Fe, itu bukan ciuman pertamamu. Itu hanya sebuah latihan, latihan mencium. Cobalah kamu ambil sisi positifnya. Hadi akan mengajarkan kamu cara berciuman dan kamu bisa mempelajari itu semua dari dia tanpa kamu memiliki hasrat padanya". Leya tahu Feya sudah kesal sekarang.


 


"Oh, kamu sangat yakin aku tidak akan berhasrat pada Hadi?" Feya merasa tidak suka dengan kesimpulan Leya.


 


"Fe, kamu itu saudara aku satu-satunya. Aku sangat tahu kamu, kamu bukanlah orang yang akan menyakiti aku, apa lagi melalui Hadi. Pada orang lain saja kamu gak pernah tega, apa lagi sama aku". Leya memaksa Feya menatapnya saat ini.


 

__ADS_1


"Bagaimana kalau Hadi yang berhasrat padaku?" Ujar Feya.


 


"Maka kamu harus membuat dia ingat tentang janjinya, janjinya padaku dan semua akan beres. Percayalah". Leya menyakinkan Feya.


 


Begitu gampang bagimu Le, kamu hanya akan menghabiskan waktu dengan belajar memasak di sana. Aku, sedang aku harus berperan sebagai kamu di hadapan Hadi. Apa aku bisa? Ya Tuhan, itu sangat sulit. Membiarkan Hadi memegang tanganku, memelukku bahkan menciumku. Ya Tuhan.


 


Feya memijat keras pelipisnya. Entah sejak kapan dia merasa pusing yang teramat sangat. Rasanya dia butuh obat pereda sakit kepala sekarang.


 


"Aku mohon, aku mohon tolong bantu aku. Hanya dua minggu Fe, aku mohon. Aku ingin berikan kejutan ini sebagai hadiah pernikahan kami. Aku mohon Fe, hiks..hikss..hiksss". Leya berlutuh memohon di hadapan Feya sambil menangis putus asa.


 


Feya hanya diam sambil memapah Leya agar kembali duduk di sampingnya seperti semula lagi. Dia tidak tahu harus bicara apa. Semua terasa konyol, sangat tidak masuk akal. Dua minggu menjadi seorang Leya di hadapan Hadi, bagi Feya sangatlah sulit. Dua minggu waktu yang teramat sangat panjang bagi Feya.


 


Berbagai hal bisa terjadi dalam waktu dua minggu itu Le, aku berharap kamu tidak akan pernah menyesal dengan ide gilamu ini.


 


"Ayo kita tidur, hari sudah malam. Besok kamu dan aku harus bangun pagi, bukan?" Feya merangkul Leya, mengajaknya ke kamar. Meninggalkan balkon tempat mereka membicarakan permintaan Leya tadi. Permintaan aneh dan tidak masuk akal bagi Feya saat ini.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2