TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 60


__ADS_3

ZALL LESTARI 1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Hadi membalas jabat tangan Dave dengan penuh rasa bangga, dirinya merasa bagai kesatria gagah berani yang telah sukses melalui ujian perang pada sebuah kerajaan maha besar. Hadi merasa berhasil menyakinkan sang Raja, penguasa kerajaan besar tersebut agar menjadikan dirinya sebagai panglima utama, Jenderal Hadi sebagai pelindung sang Raja.


 


Berkali-kali Hadi mengucapkan kata terima kasih pada Dave, hingga Dave berlalu dari hadapannya pun, Hadi masih sempat mengucapkan kata terima kasih sekali lagi.


 


Dave telah pergi, bahkan mobil yang dikemudikan Tomo untuk membawa Hadi pun telah jauh meninggalkan restoran tempat mereka meeting, tetapi senyum kebahagiaan masih terkembang di wajah Hadi. "Yes, yes, yes". Hadi bersorak gembira, mengangkat satu tangan yang terkepal tinggi keudara.


 


Amazing, luar biasa. Proyek besar interior proferti milik tuan Dave jatuh ketanganku, aku...ke aku. Waaaaaaw.. Hadi masih saja merasa tidak percaya, sekaligus merasakan perasaan luar biasa. Semua campur aduk, dia amat sangat senang siang ini.


 


Begitu senangnnya Hadi, hingga semua tingkah lakunya tadi menarik perhatian pengunjung restoran yg lain, tetapi dasar hati sedang bahagia. Hadi tidak mau memperdulikan banyaknya sorot mata yang merasa terganggu dengan sorak kegirangannya.


 


Aku akan kasih tau Leya, dia pasti sangat senang. Semua ini berkat dia, Leya selalu menyemangati aku. Dan benar katanya, aku pasti bisa. Perusahaan kecilku pasti akan di pilih tuan Dave.


 


 


**********


 


"Sudah siap Bu?" Tanya Nico begitu Feya telah sampai di lobby kantor.


 


"Sudah Nico, tolong antar saya pulang ya". Jawab Feya kemudian.


 


Nico berjalan terlebih dahulu, membuka pintu gedung besar kantor yang di pimpin oleh Feya dan kemudian membukakan pintu mobil bagian belakang buat Feya. Mobil sengaja telah disiapkan oleh Nico tepat di depan pintu besar gedung bertingkat tersebut.


 


"Ibu mau saya antar kemana dulu?" Tanya Nico saat telah duduk di depan kemudi.

__ADS_1


 


"Langsung kerumah saja Nic". Jawab Feya singkat.


 


Nico mengangguk dan segera menjalankan mobil ketempat yang diinginkan oleh Feya.


 


"Bu", Nico berniat memulai pembicaraan dengan atasanya itu.


 


"Hemmm", hanya itu sahutan Feya.


 


"Terima kasih untuk buburnya tadi. Enak banget Bu". Ucap Nico sambil tersenyum.


 


"Sama-sama, kamu suka?" Feya pun bertanya pada Nico.


 


"Iya Bu, enak banget. Bumbunya pas, rasanya itu khas banget, kayak di masak sama koki hebat". Puji Nico sambil mengingat setiap suapan bubur yang hanya dalam sekejam segera di habiskannya.


 


 


"Sukurlah kalau kamu suka". Jawa Feya sambil tersenyum


 


"Suka Bu, emmm...itu Bu. Besok-besok kalau Ibu masak lagi, saya di bagi lagi ya Bu. Masakan Ibu luar biasa". Walau agak malu, Nico nekat juga menyampaikan permohonannya pada Feya.


 


"Hahaha". Tawa Feya pelan. "Saya enggak janji ya".


 


"Ma-maaf Bu saya lancang". Nico merasa jawaban Feya, berarti rasa keberatan Feya atas permintaannya.


 


"Bukan, jangan salah paham Nico. Maksud saya bilang enggak janji itu, karena bubur salmon yang kamu makan tadi bukanlah buatan saya. Itu buatan teman saya". Jelas Feya pada Nico. "Jadi saya enggak janji, kapan dia akan membuatkan masakan tersebut lagi".

__ADS_1


 


"Ooooo, begitu Bu". Terdengar Nico mengucapakan huruf O yang sangat panjang sambil mengangguk mengerti.


 


Semoga besok-besok temen si Ibu buat lagi, jadi aku bakal kebagian lagi. Hahahaha


 


 


***********


 


Selesai meeting, Dave meminta Tomo mengantarkannya ke lokasi proyek pembangunan kondominium miliknya di kawasan Zall Lestari 1. Dave ingin memastikan bahwa hari ini semua telah rampung, jadi besok dia bisa membawa Hadi berkeliling kawasan luas kondominiumnya, agar Hadi dapat memetakan pesisi tiap konsep interior yang tadi dipresentasikannya.


 


Dengan begitu dalam waktu sebulan kedepan, maka real estet terbarunya dalam bentuk kondominium itu akan bisa di lauching ke pasaran. Dave sudah tidak sabar ingin menjual habis semua kondominium yang telah di bangun nyaris satu tahun ini.


 


"Tuan, apa tidak sayang kalau villa ini tuan jual". Tomo bertanya pada Dave, saat dirinya telah memarkirkan mobil di depan villa besar milik Dave.


 


"Jujur, saya suka villa ini Tom. Tapi saya sendiri juga belum tau apa kegunaannya. Setelah proyek ini selesai kitakan segera pulang". Jawab Dave jujur.


 


"Mungkin suatu hari nanti tuan akan berkunjung ke sini. Kan tuan bisa beristirahat di villa ini, tidak di hotel lagi". Tomo mencoba berandai-andai bersama tuannya.


 


"Untuk urusan apa? Saya tidak punya keluarga atau teman yang mau saya kunjungi di sini?". Tanya Dave pada Tomo. "Kalau pun suatu hari nanti saya akan membuat proyek baru, rasanya lebih baik seperti sekarang. Saat perlu kita datang, setelah selesai kita pulang". Jelas Dave kemudian.


 


"Sayang sekali". Terdengar suara pelan Tomo di belakang punggung Dave. Pelan sangat pelan, tetapi Dave bisa mendengarnya.


 


Dave berjalan ke lantai dua villan besarya yang masih kosong, langkah kakinya berhenti di balkon kamar utama. Ruangan itu sangat besar, dilengkapi dengan kamar mandi yang mewah dan nyaman dan balkon besar yang pemandangannya langsung mengarah keview kawasan Zall Lestari 1. View bukit yang masih terjaga keasriannya dilengkapi aneka suara cuwitan burung-burung yang sibuk berterbangan kesana kemari. Sangat indah, sangat menenangkan, sangat asri seperti nama kawasan tersebut. Rasanya Dave sangat ingin berlama-lama di sana.


 


Ya, memang sangat sayang kalau di jual. Pemandangan di sini jauh lebih baik dari pemamdangan rumahku di sana. Tetapi kalau tidak aku jual, lantas apa gunanya. Toh aku tidak akan tinggal di sini?

__ADS_1


 


 


__ADS_2