
PANCAKE MADU
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
ใ
Dave memandangi Feya yang dikenalnya sebagai Leya sekali lagi, terlihat oleh Dave, Feya masih tertidur pulas di dalam selimut putih yang menutup tubuhnya. Akhirnya, tanpa berniat menganggu tidur Feya, Dave memilih kebawah menuju dapur untuk membuatkan sarapan bagi mereka.
ใ
Pagi yang cerah, matahari sepertinya mulai keluar dari peraduaannya. Suasana hati Dave cukup baik pagi ini, walaupun sejujurnya dia masih sedikit mengantuk. Tidurnya malam tadi tidak seperti malam-malam biasanya. Sangat sulit bagi Dave menyesuaikan diri, berbaring di sofa milik Leya. Sofa itu terlalu kecil untuk menampung tubuhnya yang terlalu panjang. Kakinya terpaksa mengantung di ujung sofa Leya, sangat tidak nyaman.
ใ
Malam, setelah Dave melihat Feya menyudahi telepon dari Hadi, Feya pun kembali tertidur. Tidak butuh waktu lama bagi Feya dan dapat dipastikan dia telah kembali ke alam mimpinya. Sementara Dave, harus berkali-kali berusaha mencari posisi terenak untuk membuat dia bisa tertidur pulas. Walaupun pada akhirnya dapat diketahui, bahwa posisi itu tidak pernah di dapat oleh Dave sepanjang malam.
ใ
Dave tengah menimbang, menu terbaik apa yang akan diolahnya pagi ini untuk menjadi sarapan bagi dirinya dan Feya. Dave membuka kulkas, memperhatikan deretan bahan-bahan untuk di olah.ย Harus makan yang lembut dulu ya? Emmm..apa kira-kira? Dave berusaha memikirkan menu sarapan terbaik dan teraman untuk Feya.
ใ
Baiklah, sarapan pancake saja bagaimana? Sepertinya bahannya lengkap, ada madu malah. Bisa tuh dijadikan sebagai topingnya nanti. Iyappp..good ide. Lantas buat dia makan siang apa ya bagusnya? Atau aku pesan via online saja?ย Dave menemukan menu untuk sarapan, tetapi masih menimbang menu terbaik untuk makan siang Feya. Jangan, tidak usaha. Kalau pesan malah nanti dia susah harus menyiapkan segalanya, sudah aku buatkan bubur saja. Praktis dan dia bisa menyiapkan sendiri. Coba aku lihat, apa kira-kira bahan tambahan untuk buburnya supaya tetap lengkap asupan gizinya.
ใ
Dave tengah sibuk di dapur Leya, keahlian memasaknya sedang dikerahkannya. Hanya kemampuan alakadar yang dia miliki, tetapi rasanya cukup berguna untuk situasi saat ini. Ternyata, pahitnya kehidupan di masa kecilnya dulu, berbuah manis di saat dia telah dewasa. Dave tumbuh menjadi pribadi mandiri dan sukses, masak pun menjadi kebisaan yang gampang dilakukannya.
ใ
Dave tengah serius membuat menu makanan untuk Leya, iya, wanita yang telah ditolongnya semalam. Begitulah nama wanita itu yang di kenal oleh Dave. Sementara itu, Feya baru saja membuka matanya di kamar atas. Dia terjaga, heran mendapati matahari telah bersinar di luar jendela.
ใ
Feya memperhatikan sekelingnya, mencoba merasakan kondisi tubuhnya saat ini. Sukurlah, aku sudah sehat.ย Feya memilih duduk, bersandar pada kepala ranjang dengan di topang bantal agar terasa lebih nyaman. Iya..semua sudah baik sekarang, aku sehat. Feya sekali lagi merasakan kondisi tubuhnya dan dia pun merasakan kalau dirinya sudah sehat, sudah baik-baik saja.ย Senangnya.
ใ
Dreeet, dreeet, dreeetttttttttt...
Handphone Feya bergetar dengan ributnya. Feya mencari asal suara, merasa heran sendiri dengan getaran yang di tumbulkan handphonenya.
__ADS_1
ใ
Kok bergetar? Kenapa nggak ada bunyinya? Apa aku semalam yang mematikan suaranya? Handphone sudah di tangan dan Feya malah terlonjak kaget sendiri.
ใ
"Astagaaaa, 20 kali panggilan dari Menik. Bagaimana ini? Apa kata orang di kantor? Gawat".
ใ
Cepat Feya menghubungi Menik.
"Hallo Bu", terdengar suara Menik di ujung telepon.
ใ
"Maaf Menik, maaf benar. Saya baru lihat hape. Ternyata sudah sangat banyak panggilan masuk dari kamu". Feya merasa sangat menyesal.
ใ
"Ibu dimana? Kenapa tidak ada kabar beritanya? Ibu tau, kami sangat kawatir. Nico sampe dua kali bolak balik mencari Ibu ke rumah". Panik, Menik menjelaskan situasi yang di hadapinya.
ใ
ใ
"Iya..Nico sampe di kantor, tetapi tanpa Ibu. Dia pikir telah terlambat menjemput Ibu, betapa takutnya dia tadi. Tapi, setelah tau Ibu malah tidak ada di kantor, kami semua yang jadi takut". Ucap Menik.
ใ
"Saya, saya sakit Nik. Malam saya di bawa ke Rumah Sakit, mungkin karena pengaruh obat, saya tertidur pulas dan baru bangun. Ternyata sudah jam sembilan saja, dan kalian sudah kawatir semua. Maafkan kelalaian saya ya". Betapa menyesalnya Feya.
ใ
"Ibu sakit? Ya Tuhan, akhirnya Ibu harus ke Rumah Sakit juga, Ibu sih. Kan sudah saya bilang semalam, saya bawa Ibu ke Rumah Sakit. Ibu nggak mau. Ternyata?" Menik terdengar khawatir.
ใ
Maksudnya? Feya mencoba berpikir.ย Oooo, iya, iya. Kemaren beberapa kali Menik mendapatiku melamun. Akukan beralasan kurang fit. Padahal yang kemaren itu...........
ใ
__ADS_1
"Saya pikir tidak akan semakin menjadi Nik, ternyata saya salah". Bohong Feya pada Menik.
ใ
"Baiklah, Ibu istirahat saja dulu. Kantor saya yang handel. Ibu tidak usah cemas, semua pasti beres. Nanti kami akan kerumah Ibu. Bagaimana makan pagi Ibu? Saya suruh OB kantor buat masak ya Bu?". Menik seakan menjadi penyelamat buat Feya.
ใ
Terharu, kamu memang sangat bisa ku andalkan Nik.
ใ
"Terima kasih ya Menik, saya titip kantor. Tapi kalian tidak usah ke sini, nanti siang saya akan masuk kok. Saya sudah sehat. Jangan repot-repot ya". Ucap Feya sambil tersenyum.
ใ
"Jangan, jangan ngantor dulu Bu. Istirahat saja dulu, sampai pulih benar". Cegah Menik.
ใ
"Tidak apa Nik, saya sudah sehat kok". Feya berusaha menyakinkan Menik.
ใ
"Ibu yakin?"ย Ada keraguan di suara Menik.
ใ
"Iya..tenang saja".
ใ
"Baiklah kalau begitu. Nanti siang Nico akan datang menjemput Ibu".
ใ
Panggilan telepon selesai, suasana di kantor telah di tolong Menik. Feya sangat beruntung memiliki pegawai yang luar biasa hebat seperti mereka. Walaupun ada rasa bersalah dihatinya karena efek dari permainan peran ini. Tetapi di satu sisi, dia menjadi tahu. Bahwa semua tim kerjanya tidak cuma memandang dia sebagai atasan tetapi juga menganggap dia seperti keluarga. Mereka mengkhawatirkan dirinya.
ใ
ใ
__ADS_1