
PERMOHONAN (2)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
"Suka ?" Tanyo Monternio riang saat mata Feya terbelak tidak percaya dengan isi kotak hadiahnya. Sebuah kalung bermata zamrud biru yang di kelilingi berlian hitam, yang tentu saja Feya tahu dari mana asalnya.
 
"Ini ?" Feya masih tidak percaya. "Bagaimana mungkin kalung cinta dewa La ada sama kamu ?" Feya menyentuh pelan kalung tersebut, hati-hati sekali karena Feya tahu betapa berharganya benda langka tersebut.
 
"Ya apa salahnya ada sama aku ?" Tanya Monternio acuh. "Aku suka mongoleksinya !" Monternio mencuil hidung mancung Feya.
 
"Sini aku bantu kamu pakai ". Monternio mengambil kalung itu begitu saja dari dalam kotak, membuat Feya tersentak.
 
"Tidak usah, aku..aku ". Feya melambaikan tangannya menolak.
 
"Aku sudah bilang, aku memaksa !" Monternio mendekatkan tangannya ke leher Feya.
 
"Ayo, balikkan sedikit badanmu !" Perintah Monternio yang sesaat tidak ingin di penuhi oleh Feya.
 
"Baiklah...kalau kamu keberatan memakai kalung ini di lehermu, bagaiman kalau aku mencekik lehermu saja ?" Suara Monternio terdengar riang. Sementara Feya, sibuk menutup lehernya berjaga demi keselamatan.
 
"Terserah, itu pulihan kamu ". Dengan wajah senang, Monternio tanpa ragu mendekatkan kedua tangannya ke arah leher Feya, bermaksud mencekik leher jenjang gadis itu.
 
"Ja, jangan ", Feya memundurkan kepalanya kebelakang, berusaha menghindar sejauh mungkin dari jangkauan tangan Monternio.
 
"Oke, tapi pake ini !" Monternio kembali mengangkat kalung yang harganya di taksir bisa membeli 4 unit apartement mewah di Kota kelahiran Feya.
__ADS_1
 
Feya hanya mengangguk pelan, percuma memberontak. Sepertinya Monternio ini memiliki kepribadian aneh. Wajahnya tampan dan selalu berhias senyuman, tetapi gerakan tangannya siap menghancurkan apapun. Sadis, kesan itu yang melekat di dalam hati Feya terhadap lelaki yang sekarang sedang memasangkan sebuah kalung dengan nilai sejarah tiada dua. Kalung ini merupakan wujud cinta dewa La kepada manusia fana, begitu besar cinta si dewa sampai memecahkan gunung demi mendapatkan bara terbaik untuk di ubah menjadi batu zamrud. Kira-kira begitulah kisah penting di balik kalung dewa La yang di ketahui Feya berdasarkan penelitiannya tentang Suku Daya di Negara W.
 
"Cantik ". Puji Monternio saat berhasil memasangkan kalung tersebut.
 
"Sangat cocok buat kamu ". Sekali lagi Monternio memuji Feya. Sementara Feya, dirinya memilih diam. Sekarang Feya benar-benar sudah ketakutan.
 
"Emmm..tunggu ". Monternio memandang lekat pada Feya. "Pasti lebih cantik lagi kalau kepang rambutmu di lepas. Rambut seindah ini sangat sayang kalau dibiarkan terikat ".
 
Jangan...aku mohon..jangan....tolong, tolonglah.
Feya sibuk bermohon di dalam hatinya, begitu kepang rambut Feya di lepas. Maka habis sudah pelung selamatnya.
 
Jangan...tolonglah...jangan...
 
 
Tetapi Feya memilih bungkam.
 
"Aku cuma mau membuka kepang rambutmu saja Fe, bukan membuka bajumu ". Lagi, senyum menghias wajah Monternio.
 
"Sini !" Sebuah pisau berkilau tajam mengarah ke arah pengikat yang berada di ujung kepangan rambut Feya.
 
Ya...Tuhan...bagaimana caranya ada pisau ditangannya ?
Jantung Feya berdegub kencang. Sangat kencang hingga Feya merasa kalau dia akan segera mati.
 
__ADS_1
Hingga suara benda kecil terbuat dari logam jatuh ke lantai. Feya membelalak terdiam, suara dentingan benda jatuh itu cukup pelan. Tetapi sukses membuat Monternio mengerang marah.
 
"Oooo, kau ternyata mau berbuat curang Feya ?" Monternio mengarahkan pisau persis ke leher Feya.
 
Nafas Feya tersengal, di sampai lupa bernafas.
 
"Siapa yang memberimu alat itu ?" Hilang sudah senyum menawan Monternio, berganti wujud rupa kemarahan yang meledak seketika. "Jawab!" Bentak Monternio.
 
"Itu...itu...", Feya berucap di sela tarikan nafas.
 
"Itu di berikan oleh Kepala Keamanan ". Aku Feya dalam ketakutan.
 
"Dan sedari awal kamu tidak jujur padaku, padahal aku sudah mulai menyukaimu. Padahal aku sudah berencana tidak akan menyakitimu ". Monternio menginjak hancur benda mungil nan kecil itu.
 
"Aku bahkan memberikanmu hadiah Feya, hadiah cinta milik dewa. Tapi kamu, kamu sepertinya tidak suka caraku yang manis ini ya ?" Sekarang benda tajam yang sesaat tadi berada di leher Feya telah berpindah ke wajah Feya.
 
Dinginya besi mengkilap itu membuat Feya sangat frustasi.
 
"Jadi kamu lebih suka aku kejam ? Iya ?" Bentak Monternio marah.
 
"Maafkan aku...tolong maafkan aku ". Feya bermohon dengan mata berkaca-kaca.
 
Jangan di tanya seberapa besar takutnya Feya saat ini. Wajahnya benar-benar putih, seakan darah telah meninggalkan seluruh sel dalam dirinya, membuatnya pucat, menjadi sepucat kapas.
 
__ADS_1