
SUDAH WAKTUNYA
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
γ
Sudah hampir 30 menit Feya bertahan di ranjang empuknya, berkelung di bawah selimut bertahan diantara tumpukan batal. Sesekali Feya membalikkan badannya ke arah kiri dan sesekali ke arah sebaliknya, kanan. Hanya sesaat tapinya, karena kemudian Feya akan memilih terlentang dengan mata langsung menatap ke arah langit-langit kamarnya. Ya, sebenarnya Feya sudah lama terjaga. Matanya terbuka lebar dan terlihat sangat enggan untuk di pejamkan kembali. Jadilah sekarang, Feya hanya berbalik menganti posisi tubuhnya hingga waktunya untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor datang.
γ
Pagi ini Feya cukup gelisah dengan berbagai beban pikiran yang terus menghimpit benaknya. Semua tidak lain adalah tentang kembarannya sendiri, Leya. Bukankah Feya sudah menyerah, jelas kata-kata itu sudah di ploklamirkan oleh dirinya. Feya berusaha keras meminta Leya mengakhiri semua ini, sudah waktunya semua ini disudahi. Sudah waktunya mereka berdua kembali dalam kehidupan masing-masing, dalam dunia masing-masing. Sayang, kembarannya itu tidak juga mau mengerti, Leya selalu saja egois selalu saja keras kepala dan memaksakan keinginannya sendiri meskipun Leya tahu terkadang keinginannya itu akan berdampak tidak menyenangkan pada diri Feya.
γ
"Ya Tuhan, kenapa ada yang terasa menganjal ya ?" Guman Feya pada langit-langit kamarnya. "Apa keputusanku ini sudah benar, keputusanku ini apakah tidak akan aku sesali kedepannya ?"
γ
Feya memeluk erat bantal di sisi kanannya mencoba menghimpit wajah cantiknya di antara begitu banyak beban pikirannya. Lama Feya bertahan dalam posisi ini hingga akhirnya kebosanan melanda dirinya sendiri. Feya memilih berdamai dengan waktu. Toh sejak awal dirinya sudah menolak keras keinginan sang kembaran. Jadi kalau akhirnya sekarang dirinya sampai pada titik ketidak sanggupannya untuk melanjutkan permainan ini, maka semua tentu bukan salah dirinya. "Bahkan sampe malam tadipun aku masih peringkatkan kamu, jadi jangan salahkan aku saat penyesalan itu menghampirimu ya Le".
γ
Feya membersihkan diri sesaat sebelum turun ke lantai satu, rasanya lebih baik melakukan sesuatu dari pada terus saja tengelam dalam masalah yang sama. Feya memilihΒ membongkar stok lemari pendinginnya, mencari persedian bahan masakan terbaik yang dimilikinya. Feya bersiap memasak sesuatu.
γ
"Astaga aku lupa, bahan-bahan masakankukan masih tertinggal di apartemen Leya. Ya ampun, harus aku jemput tuh. Kan mubazir aja kalau aku biarkan di sana. Saat Leya kembali nanti semua sudah tidak sesegar sekarang di tambah lagi belum tentu akan dimanfaatkan oleh Leya ". Feya hanya berhasil mengumpulkan sisa daging asap kemaren dan 2 butir telur. "Nanti aku jemput deh dari apartemen Leya, soreaan aja kali ya balik dari kantor ".
γ
Menu sederhana sama seperti sarapannya semalampun menjadi pilihan Feya, daging asap bacon dan orak arik telur. Untuk situasi yang sangat terpaksa karena minimnya bahan yang akan di olah, rasanya isi piring saji Feya ini cukup mengiurkan.
γ
Di temani segelas air jeruk hangat Feya menikmati sarapan paginya, berusaha mengunyah setiap suapan sendok yang berhasil melewati bibir mungilnya. Pikiran Feya entah kemana, tetapi bisa di pastikan tidak sedang ke daging bacon yang sedang di gigitnya.
__ADS_1
γ
Sepertinya jam bangun tidur yang terlalu cepat sangat bermanfaat bagi Feya saat ini, terbukti dengan waktu yang nyaris satu jam Feya habiskan hanya untuk seporsi kecil sarapan. Bagaimana tidak, satu suap satu lamunan dan parahnya waktu untuk melamun akan lebih lama dari waktu menelan sarapannya sendiri.
γ
***************
γ
Mama sedang menyiapkan menu sarapan pagi sang suami, tuan Maladi. Di atas meja makan, sambil tersenyum, wanita paruh baya yang masih meninggalkan sisa kecantikannya di masa muda ini terlihat cukup serius menaruh satu persatu peralatan makan hingga gelas minum bagi suami tercinta. Sebuah rutinitas tahunan yang menjadi kewajiban baginya dan sangat di sukainya.
γ
"Sudah siap sayang ?" Tanya tuan Maladi sambil memeluk pingang sang isteri dari belakang.
γ
"Sudah dong suamiku tercinta, ayo duduk lagi ". Jawab sang isteri manja, tuan Maladi menyempatkan mencium pipi kanan sang isteri sebelum duduk.
γ
γ
"Iya ya Pa, Feya gimana kabarnya ? Apa semalam dia ada telepon Papa ? Mama pikir Feya bakal pulang ke rumah karena kesehatannya sempat kurang baik sebelumnya. Eh, rupanya enggak ya Pa ?"
γ
"Papa juga gak ada dapat kabar Ma, malah Papa pikir Feya ngabarin Mama. Ternyata tidak ya Ma ". Tuan Maladi mendapat gelengan kepala dari sang isteri sebagai jawaban pasti.
γ
"Feya mendadak kesehatannya kurang baik, sementara kembarannya malah sibuk bekerja hingga tidak punya waktu untuk kita Ma ". Tuan Maladi memandang sedih pada sang isteri. "Besok kalau Leya sudah menikah sama Hadi, kita benar-benar kesepian Ma. Leya pasti akan fokus sama Hadi dan pekerjaan, sama seperti sekarang ".
γ
__ADS_1
"Pa, asal mereka bahagia kita harus bisa mengikhlaskan semua ". Senyum cerah terkembang di wajah sang isteri. "Kita tidak pernah tahu kemungkinan apa yang akan terjadi, semua sudah ada susunan masing-masingnya, waktu masing-masingnya. Kita lihat saja Pa dan kita bantu doa, semoga Leya bisa berbahagia bersama Hadi dan Feya segera menemukan pasangan sejatinya ".
γ
γ
***************
γ
Pagi ini Hadi sengaja bersiap lebih awal, Hadi sengaja ingin sampai di proyek desain interior kawasan kondominium Dave di Lestari 1 secepat mungkin. Berhubung menjelang sore dirinya dan Dave ada janjian membahas hal penting, begitu kira-kira isi ajakan Dave pada Hadi semalam. Jadi pagi ini Hadi ingin fokus pada pekerjaannya dulu. Melakukan segala kemampuan terbaik tim profesional dari perusahaannya untuk menata kondominium sesuai sketsa dan konsep masing-masing berdasarkan rencana awal.
γ
Hadi memilih mengemas menu sarapannya yang telah di siapkan oleh Bi Nana, sang asisten rumah tangganya untuk di bawa kelokasi pekerjaan. Begitulah kira-kira dedikasinya seorang Hadi demi pencapaian kesuksesan tertinggi perusahaanya terhadap pelanggan. Tapi anehnya Hadi masih bertanya-tanya apa penyebab Dave merasa tidak puas. Ya, gagal menemukan pokok persoalan yang menjadi penyebab Dave ingin berbicara serius dengannya membuat Hadi menarik kesimpulan, semua itu pasti berhubungan dengan hasil pekerjaannya. Walaupun sejujurnya Hadi sendiri berat menerima kesimpulan tersebut.
γ
γ
***************
Hai..hallo kaka readers yang budiman. Maafin author ya atas keterlambatan respon author untuk semua koment kaka-kaka readers. Ternyata kembalinya kita ke era normal cukup menyita kehidupan nyata author, jadilah author kelabakan untuk mencari waktu buat up episode-eposide berikutnya.
γ
Author sangat yakin, kaka-kaka pasti gemeskan jadinya. Lagi seru-serunya cerita ngegantung, hehehehe...
Maaf ya kak, maafin yaππ
γ
Sehat selalu kaka-kaka readers dimana pun berada dan jangan lupa berbahagia
γ
__ADS_1
γ