
SEBUAH PENJELASAN (1)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
Tangan Papa Maladi, Papanya si kembar Leya dan Feya masih di bahu Dave. Kedua lelaki ini masih saling pandang dalam senyum kelegaan, setelah dokter meninggalkan ruang rawat inap Feya.
 
Dave benar-benar lega, entah bagaimana cara mengambarkan perasaannya saat ini. Yang jelas rasa takut yang tadi menghinggapi dirinya sudah banyak sirna. Sudah tinggal beberapa persen saja. Hati Dave yakin, Feya pasti baik-baik saja.
 
Tidak jauh beda dengan Dave, Papa dan Mama si kembar Leya dan Feya, juga Hadi, si tunangan Leya ini juga terlihat sangat bahagia. Sosok penting dalam hidup keluarga besar Maladi sudah lebih baik, sudah kembali dari maut. Mama bahkah meneteskan air mata bahagia, begitu banyak ucapan syukur dari sosok Mama yang sangat menyayangi Feya ini, di hadiahkan pada Sang Pencipta atas kebaikkan-Nya telah mengembalikan Feya dalam keluarga mereka.
 
Dan jangan lupakan Tomo, si sekretaris yang usianya sedikit lebih muda dari Dave ini. Lelaki yang sangat setia pada sang majikannya ini, terlihat berkali-kali menarik nafas panjang. Moment mecekam sudah lewat, saat penyelamatan Feya yang sangat dramatisir, hingga keinginan Dave untuk loncat dari balkon saking tidak sanggupnya kehilangan wanita yang di pujanya. Membuat Tomo ikut merasakan betapa sang tuan sangat mencintai wanita cantik yang sedang tertidur lelap itu.
 
"Tuan ", seakan baru tersadar siapakah sosok tuan Maladi itu, Dave segera mengulurkan tangan ke arah Papa Maladi.
 
"Ya ", jawab Papa Maladi masih dengan senyum terkembang. Mengulurkan tangannya pada Dave dan membiarkan Dave mencium punggung tangannya.
 
"Nyonya ", Dave beralih ke wanita cantik yang kecantikannya mirip Feya ini, yang sedang berdiri heran menatap dalam pada Dave. "Perkenalkan, saya Dave. Dave Indra Baratta ", ucap Dave sopan sebelum mencium punggung tangan Mamanya Feya.
 
"Saya Tayana, saya Mamanya si kembar Leya dan Feya ". Ucap Mama takjub dengan kesantunan etika Dave padanya.
 
"Le, Hadi ", Dave menyapa kembaran Feya serta tunangannya itu tetap dengan hormat. Leya dan Hadi menunduk membalas sapaan Dave.
 
"Pak Dave ", Papa langsung bersuara begitu melihat Dave bersiap membuka mulut. Sebelum Dave sempat berbicara Papa sudah memotong duluan.
 
"Ada yang perlu kita bicarakan !" Sekarang raut wajah Papa berubah serius. "Ada banyak hal yang harus kita bicarakan !'
 
Dave memandang Feya sesaat, wajah pucat yang tadi sempat membuatnya takut sekarang mulai terlihat berdarah.
 
"Tuan, saya siap menjelaskan semuanya ", Dave menjawab berani.
 
__ADS_1
"Bagus. Sekarang mari kita duduk dan mari kita saling bicara !" Papa melirik sofa nyaman yang ada di sisi lain kamar.
 
Dave patuh, meskipun sebenarnya Dave sangat enggan jauh dari sisi Feya, tetapi setidaknya Dave masih bisa memandangi Feya dari tempat dia duduk.
 
"Pertama, saya pribadi dan keluarga sangat berterima kasih atas apa yang telah anda lakukan untuk Feya. Anda begitu berani mempertaruhkan nyawa buat menyelamatkan Feya dari tangan penjahat sadis itu ". Papa memberikan tatapan tulus pada Dave.
 
"Kedua, saya juga mengucapkan terima kasih karena sudah membuat harapan kami kembali lagi. Anda, sikap anda tadi yang begitu luar biasa telah membuat Feya menolak untuk pergi, bahkan dokter saja sudah menyuruh kami keluarganya untuk mengikhlaskan Feya. Tetapi berkat anda, mukzijat terjadi. Saya sungguh-sungguh berterima kasih ". Papa menunduk hormat. Dave pun tersenyum.
 
"Sekarang kita masuk ke pembicaraan sebenarnya ! Bisa jelaskan pada saya dan isteri saya, apa arti setiap kata-kata anda tadi ?" Papa menatap langsung pada mata Dave. "Sejak kapan anda kenal Feya ? Kenapa waktu di depan ruang kerja saya dulu, saat anda juga menolong Feya. Anda memperlihatkan sikap tidak kenal ?"
 
"Sebenarnya apa yang tidak kami tahu di sini ?" Mata Papa menyorot dalam pada Dave.
 
"Tuan, nyonya ", Dave akan memulai menjawab semua pertanyaan dari kedua orang tua Feya.
 
Tetapi....
"Tuan dan nyonya Maladi ". Sosok Mamanya Dave muncul di belakang Dave. Entah kapan wanita paruh baya ini masuk, yang jelas Tomo terlihat sudah menunduk hormat pada Ibu dari majikannya itu.
 
 
"Sudah-sudah, semua sudah baik-baik saja ". Mama mengusap-usap punggung Dave. Sepertinya banyak yang ingin curahkan pada sang Mama, Dave terlihat begitu merindukan kehangatan pelukan wanita yang sangat di sayanginya itu.
 
"Mama tunggu ucapan terima kasih dari kamu yang keras kepala ini ". Mama membesarkan bola matanya pada Dave saat pelukkan antara Ibu dan anak ini terlepas.
 
"Sekarang, sebagai Ibu dari pihak lelaki. Biarkan Mama yang bicara, kamu cukup duduk dampingi Mama. sini !" Tunjuk Mama pada sofa doubel, tempat yang telah di dudukinya.
 
"Maaf, kita baru berjumpa sekarang ". Mama menunduk hormat pada orang tua Leya dan Feya.
 
"Perkenalkan, saya Rachel Baratta. Saya Mamanya anak keras kepala ini ". Mama menepuk-nepuk paha Dave. "Saya yang tadi menelepon tuan dan nyonya Maladi ".
 
"Ohh, iya..iya...", cepat Mama si kembar mengulurkan tangan. "Saya Tayana Maladi, panggil saja saya Yana, nyonya. Saya Mama si kembar. Itu Leya ". Tunjuk Mama pada Leya.
__ADS_1
 
"Di sebelahnya Hadi, tunangannya. Dan itu ", Mama menunjuk ke arah ranjang tempat Feya tertidur lelap. "Itu Feya, kembaran Feya ". Mama Rachel langsung melihat ke arah yang di tunjuk.
 
"Cantik ya ?" Mama Rachel menatap mata anak lelakinya. "Dan kamu hampir membuat Mama kehilangan calon menantu Mama ". Mama Rachel menyipitkan matanya. Dave hanya bisa tersenyum saja.
 
"Maaf ", ucap Dave pelan. Tetapi cukup membuat keluarga Maladi terkejut.
 
"Dan ini ", Mama Tayana menyentuh tangan sang suami. "Ini suami saya, Maladi Permana. Ayah dari si kembar ". Papa mengulurkan tangan pada Mamanya Dave.
 
"Terima kasih nyonya telah menghubungi kami, memberitahukan tentang keadaan anak kami ". Ucap Papa kemudian. "Kami sangat berterima kasih ".
 
"Sama-sama. Saya mencoba melakukan yang terbaik, karena saya tahu Dave tidak bisa memikirkan hal lain selain si kembar Feya ". Senyum Mama ramah. "Dan kalau boleh, saya minta izin. Kita jangan menyapa dengan sebutan tuan dan nyonya ?" Dave mengerutkan kening mendengar permintaan sang Mama pada orang tua Feya. Sedang tuan dan nyonya Maladi malah saling berpandangan tidak mengerti.
 
"Begini, begini....", Mama Rachel tahu semua orang sedang bingung mencerna maksud kata-katanya, sambil mengerakkan kedua tangannya.
 
"Tuan dan nyonya Maladi, begini. Anak lelaki saya, Dave ". Mama Rachel meletakkan tangannya di paha Dave. "Tuan dan nyonya pasti sudah kenalkan ?" Mama Rachel mendapat anggukan kompak dari pasangan suami isteri yang duduk persis di depannya.
 
"Dave mencintai Feya ". Dave sedikit terperanjat dengan ucapan sang Mama. "Kita, keluarga kita akan segera berbesanan ". Dave menyentuh tangan sang Mama. "Jadi, mari dari sekarang kita membiasakan diri memanggil Bapak dan Ibu besan saja. Karena kita akan jadi keluarga !". Suara Mama terdengar riang.
 
"Boleh kita mulai dari sekarang Bapak dan Ibu besan ?" Senyum Mama Rachel sangat manis terkembang. Sedang Papa dan Mama si kembar malah saling bersitatap bingung dan kagum. Entah mana yang mendominasi.
 
"Kami masih belum paham nyonya ". Akhirnya Papa Maladi mampu bersuara.
 
"Aihhh, maafkan saya. Saya kasih penjelasan langsung ke bagian akhir, bukan dari awal ". Mama Rachel mengeleng-gelengkan kepalanya sendiri.
 
"Jadi begini, Bapak dan Ibu besan ". Mama Rachel terlihat santai. "Dave, satu bulan yang lalu ada Negara Pak besan, di Kota Bapak. Ada proyek pembangunan anak saya di sana. Saat itulah Dave bertemu Feya, tetapi sayang saat itu Feya sedang bermain peran, permainan masa kecilnya bersama kembarannya, Leya ". Mama Rachel menatap Leya yang langsung tertunduk. Hadi pun mengengenggam jemari lentik tunangannya.
 
Papa Maladi tidak mau ketinggalan, mata Papa melotot sempurna ke arah Leya yang jelas mulai terlihat takut. Ada rasa bersalah di sorot mata anak gadisnya itu.
 
__ADS_1