
SIKAP FEYA
πΉπΉπΉπΉπΉ
γ
Feya berusaha tersenyum, walaupun jauh dari kata senyum yang tulus. Senyum yang hanya terlihat seperti segurat garis tipis di kedua sudut bibirnya, kaku dan hanya keterpaksaan saja. Tetapi dia tetap memaksakan diri untuk tersenyum saat matanya beradu pandang dengan mata Dave. Terlihat sikap penuh pertayaan dari mata hijau Dave kepada Feya, Feya hanya bisa mempertahankan senyum kakunya itu demi membuat Dave bisa mengurangi sikap penasarannya.
γ
Dave masih bertahan pada mode menuntut jawaban dari Feya yang di kenalnya sebagai Leya atas arti berbohongnya tentang masakan olahan daging, jelas tidak bisa makan tapi masih maksa, apa maksud semua itu ? Begitulah kira-kira arti tatapan Dave pada Feya.
γ
Menu pesanan masing-masing telah datang, pelayan wanita yang sama sedang menghidangkan menu pesana Hadi, Feya dan Dave di depan meja mereka. Begitu pula dengan Tomo, walaupun dia duduk tidak satu meja dengan Dave, tetapi pesanannya juga sudah datang dan juga tengah di hidangkan.
γ
Benar dugaan Dave, risol daging jagung memang di pesan Hadi untuk Feya. Dan minuman cappucino dingin juga diperuntukkan untuk Feya. Namun anehnya, Feya tidak bersikap antusia. Cara Feya memandang menu makanan dan minumannya sangat bisa saja, bahkan cendrung tidak berselera. Sementara jelas-jelas Hadi dengan bangganya mengatakan telah memilihkan minuman dan cemilan yang menjadi favorit bagi Leya.
γ
Benar sih, Hadi tidak salah. Cappucino dingin dan risol daging jagung memang menu minuman dan cemilah enak bagi Leya. Hadi benar untuk itu, tapi kalau yang sekarang ada di samping Hadi kan adalah Feya, kembaran Leya sang tunangannya, tentu saja Feya tidak suka dengan jenis makanan yang telah di tata di depannya. Feya lebih suka teh hijau sebagai minuman santainya dan blueberry cake sebagai menu cemilan teman minum tehnya
γ
Jadi jangan heran ya, kalau Feya sangat tabah menatap cemilan blueberry cake mikik Dave. Sebentar Feya memandang potongan kue kecil berselai warna unggu itu dengan taburan buah bulat blueberry. Sebentar kemudian Feya terlihat menelan air ludahnya membayangkan rasa kue yang tercium wangi di indara penciumannya itu. Mata biru Feya sama sekali tidak memperlihatkan keinginan untuk menyantap makanan yang tertata di depannya. Tetapi saat mata biru itu beralih ke piring saji tempat kue Dave berada, mata biru Feya terlihat penuh dengan bintang pengharapan.
γ
Dan tanpa Feya sadari, sikapnya itu tengah dipantau oleh Dave. Dave sibuk menilai cara pandang Feya pada cake pesanannya. Dia suka blueberryku? Kenapa enggak jujur aja sih ? Kenapa juga bertahan dengan apa yang di pilih Hadi? Dave merasa heran pada Feya.
Hadi juga, saking pedenya sampe nggak sadar, Leya itu enggak doyan sama pilihannya. Yang ada Leya sibuk mandangin cake aku. Mereka ini pasangan jenis apa sebenarnya?Β
γ
"Makan beb, ayo di coba. Kamu pasti udah enggak sabarkan". Hadi terlihat mencuil hidung Feya.
γ
Iya enggak sabar, enggak sabar mau buang semuanya. Feya.
__ADS_1
γ
Coba kamu makan itu, aku penasaran bakal muntah berapa kali kamu? Dave.
γ
"Iya sayang". Jawab Feya di buat semanja mungkin. Padahal di dalam hatinya, dia sedang mencari cara untuk menghindar dari keharusan menghabiskan semua.
γ
Dave meminum kopi hitamnya, menyeruput pelan sambil terus memperhatikan gerak-gerik Feya. Dave sabar menunggu apakah Feya akan nekat memakan risol daging tersebut. Terlihat Feya mulai mengangkat sendok yang ada di tepi piring saji. Hanya mengangkat saja, tetapi tidak memungsikan alat makan tersebut.
γ
Muka Feya mulai pias, seluruh indra yang ada pada tubuhnya sedang berusaha mengajak Feya berpikir logis agar jangan melakukan hal bodoh dengan memakan makanan tersebut, tetapi apa iya Feya berani tidak makan. Feya ingat benar bagaimana sikap Hadi saat dia berpura-pura kenyang agar dapat bebas dariΒ memakan olahan daging. Tetapi apa, Hadi dengan santai akan menyuapi Feya, dengan sangat sabar dengan penuh cinta. Padahal Feya sangat menderita saat itu.
γ
Tidak..aku tidak bisa makan ini, aku enggak mau berakhir di Rumah Sakit lagi.Β
γ
Enggak berani makankan? Jadi kenapa pura-pura suka? Apa yang kamu sembunyikan. Dave.
γ
γ
Jangan...aku gak mau. Feya.
γ
"Sini". Hadi mengeser piring sajinya dan menarik piring Feya yang berisi risol daging, kemudian terlihat hendak memotong dan bersiap akan menyuapi Feya.
γ
Wajah Feya sudah memutih, Hadi tidak juga menyadari kegelisahan yang tengah melanda kembaran tunangannya itu. Dia hanya fokus memberikan cintanya pada wanita yang dalam pikirannya adalah Leya. Sampai-sampai Hadi tidak membaca suasana hati Feya yang mulai menciut saat ini.
γ
γ
__ADS_1
"Sa-sayang, aku pengen ke belakang dulu ya". Mendadak Feya mendapat ide cemerlang untuk menghindar. Biarlah sesaat. Yang penting bisa menjauh dulu, lumayan dia bisa memanfaatkan waktu untuk berpikir apa yang bisa di pakai sebagai alasan untuk membuat Hadi berhenti memaksanya memakan risol itu.
γ
Kabur kekamar mandi ya? Kenapa, baru membayangkan memakannya saja udah buat perutmu berontak ya? Dave tersenyum sambil meneguk kopi hitamnya.
γ
Satu menit berlalu, Hadi terlihat sedang asyik bercerita bersama Dave. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi yang jelas Dave tidak terlalu fokus pada Hadi. Pikirannya sedang menerawang kesana kemari memikirkan Feya.
γ
Kenapa dia lama sekali, apa dia baik-baik saja? Dave sedikit cemas karena Feya belum juga kembali kemeja mereka. Apa jangan-jangan?Β
γ
"Aku permisi sebentar ya". Dave tiba-tiba menghentikan Hadi yang masih asyik bercerita padanya.
γ
Tomo pun ikut berdiri saat sang tuan sudah berdiri dan terlihat akan mengikuti langkah Dave. "Kamu di sini saja, saya hanya sebentar!" Dave memberi perintah pada Tomo.
γ
Kemana dia, apa dia baik-baik saja di dalam sana? Dave telah berdiri di depan pintu kamar mandi. Dave menunggu sesaat, satu detik, dua detik, tiga detik. Feya belum juga keluar. Lama banget sih. Dave mulai menghitung kembali.
γ
Tak sabar, rasa khawatir sudah sampai di puncak kepalanya, Dave nekat membuka pintu kamar mandi tanpa permisi. Terlihat Feya sedang menundukkan kepalanya di depan cermin. Dari sisi Dave memandang, tergambar warna pucat di wajah Feya. Tidak bisa menunggu lagi, Dave segera menghampiri Feya.
γ
"Kamu kenapa, sakit ?" Tanya Dave sambil memegang wajah Feya.
γ
"Ka-kamu, ngapain ke sini. Ini toilet wanitaloh?" Feya sibuk memandang sekitar. Mencari tanda-tanda kehidupan selain mereka di dalam sana.
γ
"Aku kawatir, kamu kenapa?" Jawab Dave jujur.
__ADS_1
γ
γ