TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 103


__ADS_3

MENGUNJUNGI


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Beberapa jam berlalu, malam telah kembali keperaduan,  suasana pagi baru telah hadir bersinar di dalam kamar Feya. Feya bangun dengan wajah senang, kepalanya tidak lagi pusing seperti semalam. Dia terlihat sangat baik-baik saja.


 


Pagi ini Feya sudah berdandan rapi, sangat cantik dengan tampilan makeup minimalisnya. Wajahnya sudah terlihat cerah, warna pucat semalam sepertinya sudah menghilang jauh. Feya jelas sangat baik pagi ini, dirinya jauh lebih segar dari semalam.


 


Feya melengang anggun turun ke lantai satu, tas kerja sudah di sandangnya. Sambil mencium pipi Papa dan Mamanya, Feya menyapa mereka satu persatu.


 


"Pagi Pa, Ma ". Feya memeluk Mama lama.


 


"Kok kerja sih nak ?" Mama melepaskan pelukannya dari Feya dan mematap wajah cantik putrinya yang sudah rapi itu.


 


"Karena aku udah enggak papah Ma, udah sehat ". Jawab Feya yakin.


 


"Pa....?" Sepertinya Mama keberatan Feya masuk kerja hari ini.


 


"Duduk sayang !" Papa menunjuk sebuah kursi di meja makan, tepat di sebelah sang isteri.


 


"Fe, yakin mau ngantor ?" Papa menatap lekat Feya.


 


"Iya Pa ". Feya tersenyum manis.


 


"Baik, boleh saja. Tapi dengan satu syarat ". Papa bersikap sangat serius.


 


"Ada apa ya Pa ?" Feya terlihat heran dengan sikap sang Papa.


 


"Semalam Papa dan Mama berpikir belum waktunya mengajak kamu bicara, jelas kamu butuh istirahat dan menenangkan pikiran. Tapi hari ini, pagi ini Papa lihat kamu sudah segeran, sudah baik-baik saja. Berarti Papa dan Mama sudah bisa tahu ada apa sebenarnya semalam ?" Mama menganguk mengiyakan semua ucapan sang suami. Jangan di tanya betapa cemasnya Mama semalam waktu sang suami memapah Feya masuk ke kamar tidurnya, Feya begitu pucat dan terlihat sangat lelah, sampai-sampai makan malamnya saja di antar ke kamar dan harus disuapin pula.


 


Kalau tidak memikirkan kondisi si anak, bisa di pastikan, semalam Mama akan terus memaksa Feya buat bercerita. Naluri keibuannya merasakan ada yang salah dengan anak gadis cantiknya itu. Dan Mama tidak mau hanya berdiam diri saja, dia sangat ingin menolong Feya. Karena itu, pagi ini saat sang suami menyinggung masalah semalam, Mama juga ikut antusia. Dia berharap masalah Feya bisa mereka selesaikan bersama, agar kejadian serupa tidak terulang lagi.


 


"Jujur nak !" Mama terus memandangi wajah Feya.


 


Bagaimana ini ? Masa iya aku jujur cerita semuanya ? Dari awal ?


Ketahuan dong kebohonganku dan Leya kalau gituh.


 


"Feeeee... ?" Papa masih menunggu jawaban Feya.


 

__ADS_1


Feya menatap wajah Papa dan Mama bergantian, mencoba sejenak menenangkan diri sendiri dengan menarik nafas panjang.


 


"Maafkan aku Pa, Ma. Semalam sudah buat Papa dan Mama khawatir ". Feya memulai berbicara. "Aku, aku ada masalah Pa. Tapi bukan masalah serius kok Ma. Hanya saja, aku yang belum bisa menemukan solusinya ". Feya mencoba tersenyum. "Tapi pagi ini aku sudah menemukan solusinya Pa, Ma. Jadi aku sudah lebih baik sekarang ".


 


"Masalah apa nak ?" Mama memegang tangan Feya yang kebetulan berada dekat dari tangan Mama.


 


"Masalah seorang lelakikah ?" Tebak Papa yang di sambut dengan wajah kaget Feya.


 


Feya menganguk pelan, percuma saja baginya berbohong karena memang apa yang di sampaikan sang Papa benar adanya.


 


"Apa yang dilakukan lelaki itu ? Dia menyakitimu ". Rahang Papa mengeras.


 


"Tidak Pa, bukan seperti itu ". Feya mengeleng kuat. "Dia, dia mencintai wanita lain Pa. Aku sepertinya bukan tipe dia ". Feya tertunduk lesu.


 


"Jadi dia mempermainkanmu ". Tangan kanan Papa terkepal di atas meja.


 


"Tidak Pa, hanya aku yang salah paham. Aku pikir dia menyukaiku, tapi ternyata dia menyukai orang lain yang parasnya mirip denganku ". Mama mengusap-usap punggun Feya.


 


"Kalau memang dia tidak menyukaimu, kenapa kamu malah begitu terluka nak. Sudah biarkan saja lelaki itu, jangan memikirkannya. Mama tidak mau anak gadis Mama tersakiti karena lelaki yang tidak punya rasa padamu. Lelaki itu pasti sangat kecewa saat sadar atas kebodohannya karena dia melewatkan kesempatan untuk mencintaimu sayang ". Mama mengecup kening Feya.


 


Karena aku mencintainya Ma, diam-diam aku telah jatuh cintai padanya.


 


 


"Pa, lupakan saja ya. Karena aku sedang mencoba mengikhlaskannya, dia bukan untukku, Pa ". Feya berusaha berbicara semeyakinkan mungkin di depan kedua orang taunya.


 


***************


 


"Dave sudah selesai mengancingkan kancing baju terakhir kemejanya. Dia sangat tampan pagi ini dengan kemeja krem lengan panjang dan celana bahan warna hitam. Dave sedang menunggu Tomo, rencananya pagi ini mereka akan meninjau perkembangan kondominiumnya di kawasan Lestari 1 yang tengah diselesaikan desain interiornya oleh Hadi, dan setelah itu Dave bermaksud ke suatu tempat untuk mengunjungi seseorang.


 


"Apa tidak terlalu pagi tuan ?" Tanya Tomo saat mendapati sang tuan sudah siap untuk berangkat.


 


"Tentu saja tidak, karena setelah dari Lestari 1 aku ada sedikit urusan. Aku harus menemui seseorang ". Dave duduk menikmati sarapan paginya. "Duduk, makan bersamaku !" Tunjuk Dave ke kursi tepat di depannya pada Tomo. Tomo menganguk patuh, duduk diam dan ikut menikmati sarapan pagi bersama sang tuan.


 


"Tuan punya janji dengan seseorang ?" Tomo merasa ada yang Dave sembunyikan darinya.


 


"Tidak, hanya mau mengunjunginya saja ". Jawab Dave santai tanpa mau jujur menyebut orang yang di maksudnya.


 


"Saya temani ?" Tomo menawarkan diri.

__ADS_1


 


"Tidak usah, kali ini kamu tolong mengantikan saya di Lestari 1 ! Ini urusan pribadi saya ". Jawab Dave tegas.


 


"Kamis besok tuan jadi pulang ?" Sekarang Tomo menganti topik pembicaraan.


 


"Ya, rapat siang harinya tidak bisa saya tunda. Jadi kamu tetap konsentrasi di sini !" Tomo hanya menganguk patuh.


 


"Saya percayakan padamu kegiatan di sini !"


 


***************


 


Feya sedang asyik membaca laporan tentang hilangnya artefak Suku Adoman di Desa J yang telah di susun Menik sekretarisnya. Dengan tangan kanan memegang gelas jus naga kesukaanya, Feya terus membaca laporan Menik yang ada di tangan kirinya.


 


Sesekali Feya mendekatkan isi gelas di tangan kanannya ke bibir pinknya, dengan menggunakan penyedot khusus jus, Feya menikmati minum segar yang berwarna merah itu.


 


"Bu...". Menik sudah berdiri persis di pintu masuk ruang kerja Feya.


 


"Hemm". Jawab Feya sambil memandang Menik sesaat.


 


"Ada tamu Bu, mencari Ibu ".


 


"Siapa ?" Tanya Feya kali ini tanpa memandang Menik.


 


"Seorang lelaki Bu, masyarakat umum katanya ". Jawab Menik ragu.


 


"Masyarakat umum ?" Feya meletakkan gelas jusnya di atas meja. "Saya ada janji dengannya ?" Tanya Feya bingung.


 


"Tidak Bu, Ibu tidak ada janji dengannya. Hanya saja katanya kalau Ibu berkenan ada hal penting yang harus dia dan Ibu harus bicarakan".


 


"Saya dan dia ? Apa ya ?" Feya terlihat berpikir. "Kamu kenal Nik ?"


 


"Tidak Bu, tapi orangnya tampan banget Bu. Kayak titisan dewa ". Feya merasa Menik terlalu melebih-lebihkan ucapannya saja.


 


"Suruh dia masuk Nik !" Feya melanjutkan membaca susunan laporan Menik sambil mendekatkan gelas jusnya ke bibir mungilnya lagi.


 


Menik mengantarkan tamu Feya sampai ke depan pintu ruang kerja Feya, membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Setelah itu Menik menutup pintu kembali dan berlalu keruang kerjanya sendiri.


 


Feya masih asyik dengan gelas jus dan kertas laporan di tangan kirinya, Feya terlihat sangat serius hingga tidak menyadari kalau ternyata si tamu sedang mengamatinya tidak kalah serius. Mengamati setiap inci wajah cantiknya, bibir tipisnya hingga mata biru gelap yang penuh misteri itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2