
AIR MATA
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
γ
"Tinggalkan Hadi !" Suara Dave begitu tegas, membuat nyali Feya semakin ciut.
γ
"Tidak ", Feya mengelengkan kepalanya.Β "Tidak ". Gumpalan awan mendung di mata Feya semakin tebal. Sekali saja matanya mengerbab, maka awan mendung itu akan menjatuhkan tetesan air matanya.
γ
"Apa yang telah dilakukannya hingga bisa mengikatmu dalam ikatan tanpa cinta ini ?" Dave mendesak Feya menjawab.
γ
"Kau salah, tentu saja ada cinta. Semua orang tahu itu, cinta Leya tulus pada Hadi, sangat memuja Hadi ". Suara Feya mulai serak, benteng pertahanan kesedihannya mulai melemah.
γ
"Ooo, tulus ya, sangat memuja ya ? Sampai-sampai ciuman pertamamu bukan Hadi yang mendapatkannya ?" Wajah Dave berubah sinis.
γ
"Kau tidak tahu apa-apa. Jaga ucapanmu !" Akhirnya mendung di mata Feya membiarkan air matanya lolos jatuh tepat di sudut matanya.
γ
"Aku berusaha menyadarkanmu. Buka matamu, kamu tidak mencintai Hadi ! Aku akui, Hadi sangat jatuh cinta padamu, dia tergila-gila padamu. Tapi itu dia, kamu tidak ".
γ
"Berhenti bicara ". Feya menutup telinganya, dia sudah tidak sanggup lagi mendengar semua perkataan Dave yang parahnya semuanya adalah benar.
Tentu saja aku tidak mencintai Hadi. Tidak dulu tidak sekarang, tapi Leya sangat mencintai tunangannya itu. Aku harus apa sekarang ? Aku harus bagaimana ?
γ
"Aku tidak akan berhenti bicara sampai kau mengakui semuanya, kau tidak mencintainya, iyakan ?" Dave mendekatkan kembali bibirnya kearah bibir Feya. Memaksa Feya menurunkan kedua tangan yang menutup telinganya.
γ
Feya terlalu panik, gerakanya kurang cepat. Hingga dirinya tidak dapat menghindar dari bibir Dave. Dave berhasil menyatukan bibir mereka, penyatuan pelan tanpa hasrat tanpa tuntutan. Sepertinya Dave hanya ingin membuktikan kebenaran kata-katanya saja.
γ
Dave menyudari semua, melepaskan bibirnya dari bibir manis Feya, dia memandang Feya lekat.
γ
"Kalau kau benar mencintainya, apa arti ciuman kita tadi ?" Dave kembali memojokkan Feya dengan kata-katanya. "Apa memang begituh mudah bagi wanita yang mencintai tunangannya menerima bibir lelaki lain ? Padahal tunangannya sendiri belum pernah merasakan manisnya bibirmu ?"
γ
Air mata Feya kembali jatuh. Dia berada pada posisi sangat bingung, tidak tahu harus bagaimana. Dave terus saja memojokkan dirinya.
γ
Kenapa denganku ? Kenapa aku bisa begitu goyah pada Dave ? Aku harus bagaimana sekarang ? Kalau aku jujur menceritakan semua, apa Dave bisa simpan rahasia ? Apa dia malah tidak jadi penasaran sama sosok Leya yang sebenarnya ? Bisa-bisa Dave malah melakukan hal yang sama seperti ini pada Leya ?
γ
Begitu banyak pertanyaan memenuhi kepala Feya. Dia harus berpikir, tetapi semua terasa sangat sulit.
γ
"Tinggalkan Hadi ! Kamu layak bahagia Le. Tinggalkan dia !" Dave mulai melunak pada Feya. Perlahan Dave menghapus air mata yang masih jatuh di sudut mata wanita cantik itu.
γ
"Maaf, itu tidak mungkin terjadi ". Feya menghembuskan nafas dalam.
γ
"Baik, kalau kau tidak bisa meninggalkannya biar aku yang bicara pada Hadi ". Suara Dave agak meninggi, dia terlihat sangat serius.
γ
"Apa, kamu mau apa ?" Feya memegang tangan Dave kuat. Feya terlihat takut.
γ
"Aku tidak akan membiarkan kamu berakhir dalam ikatan pernikahan dengan lelaki yang tidak kamu cintai. Aku akan ceritakan semua pada Hadi, bahwa kamu tidak mencintainya. Termasuk tentang ciuman kita ". Dave sangat yakin.
γ
"Kau gila ? Jangan coba-coba melakukan itu Dave !" Feya semakin mempererat gengamannya di tangan Dave.
γ
"Tinggal pilih, tinggalkan dia atau aku yang akan membuat kamu meninggalkannya ?" Suara tegas Dave membuat Feya merasa ngeri.
__ADS_1
γ
Feya bingung, dia harus mencegah semua itu terjadi. Benar Feya tidak mencintai Hadi, tidak perlu di paksa bersumpah. Semua juga tahu itu, tapi itukan dirinya bukan Leya. Kembarannya sangat mencintai Hadi, teramat sangat malah, mereka saling memuja satu sama lain.Β Berpikir Fe, cepat. Atau pertunangan kembaranmu akan berakhir. Cepat Fe, cari solusi ! Dave sepertinya sangat serius. Jangan sampai Leya menderita karena permainan bodoh ini !
γ
Mencoba tenang, Feya kembali menatap Dave. "Siapa kamu ?" Feya mengatur nafasnya agar terdengar tidak kalah serius dengan Dave. Dave mencoba melihat kedua bola mata Feya bergantian.
γ
"Siapa kamu hingga berpikir berhak menentukan aku cinta atau tidak terhadap Hadi ? Siapa kamu sampai lancang mau menghancurkan pertunanganku dan Hadi, ha, siapa kamu ? Jawab !" Entah dari mana Feya mendapatkan keberaniannya untuk menantang balik Dave agar menjawab.
γ
"Kenapa diam ?" Feya tahu Dave terlihat mulai goyah, Dave hanya diam dan bingung dengan pertanyaan Feya barusan. Sepertinya kata-kata Feya begitu tepat sasaran.
γ
"Kau pikir siapa dirimu, punya hak apa kamu sampai berani mengatur percintaan aku ? Kamu dan aku bukan siapa-siapa Dave, jangan pernah lancang memasuki ranah pribadiku !" Dave hanya mampu diam, jauh di dalam lubuk hatinya dia mengakui semua ucapan Feya adalah benar adanya.
γ
"Sulit untuk menjawab ?" Tatapan mata Feya berubah sinis. "Tentu saja sulit Dave, kamu bukan siapa-siapanya aku ". Dave melepaskan tangannya dari dagu Feya, bahkan tangan yang sempat melingkar di pinggang Feya pun di lepaskannya.
γ
Mendapat kesempatan meloloskan diri, Feya segera berjalan cepat meninggalkan lantai dansa dan menjauh dari Dave. Tomo melihat Feya menjauh dari sang tuan, cepat dia mengejar Feya dan memberikan sepatu Feya kembali padanya.
γ
"Terim kasih Tom ", Feya segera berjalan kembali ke meja mereka tempat Hadi terduduk.
γ
Alunan musik dansa telah berhenti, satu persatu pasangan dansa yang sempat memenuhi ruangan telah berlalu kembali ke meja masing-masing. Berbeda dengan Dave, dia masih diam tengelam dalam alam pikirannya.
γ
Benar, semua kata-kata Leya benar. Siapa aku ? Apa hak aku mengatur siapa yang di sukai dan tidak di sukainya ? Kenapa aku harus repot mengurus masalah percintaannya ?Β Dave mengeleng pelan.Β Kenapa aku begitu peduli pada perasaannya ? Memang aku ini siapanya ? Ah, kenapa aku jadi sebodoh ini ? Perduli apa aku pada kisah hidup Leya, toh dia bukan siapa-siapa bagiku. Bahkan kami baru kenal ".
γ
Lantai dansa telah kosong, semua pasangan pedansa telah kembali kemeja masing-masing. Tomo memperhatikan Dave, dia masih diam di sana sambil mengelengkan kepala.Β Ada apa ini ?
γ
"Tuan ". Tomo berusaha menyadarkan Dave dari lamunannya.
γ
γ
"Kau ?" Dave memperhatikan sekeliling, dirinya kehilangan Feya.
γ
"Dansa sudah berakhir tuan. Sudah sejak tadi ".
γ
"Mana Leya ? Kenapa dia tidak ada ?"
γ
"Nona Leya sudah meninggalkan lantai dansa dan kembali ke meja tempat tunangannya berada. Setelah itu dia pergi tuan, meninggalkan restoran ".
γ
"Apa, pergi ?" Dave segera berjalan kembali ke meja tempat mereka makan malam tadi.
γ
"Maaf aku lama kembali ". Dave duduk di sebelah Hadi berusaha bersikap setenang mungkin.
γ
"Gak masalah. Tadi Leya sudah bilang, kamu ke toilet dulu katanya ". Hadi ternyata tidak sibuk dengan ponselnya lagi.
γ
"Oo, iya benar. Sekarang dimana Leya ? Aku tidak melihatnya. Bukannya dia sudah kembali ke sini ?" Dave segera mengiyakan saja semua perkataan Hadi.
γ
"Leya harus pulang Dave, ada sedikit masalah. Jadi dia menyampaikan maaf padamu, dia harus pulang duluan ". Hadi terlihat menyesal. "Maaf ya ". Ucap Hadi tulus. "Tapi jangan khawatir. Kita tetap bisa lanjut kok, anggap saja ini acara kita sesama teman, bagaimana ?" Hadi tersenyum pada Dave.
γ
"Tentu, tentu saja. Aku gak masalah. Kita masih bisa cerita santai sambil minum ". Dave berpura-pura antusia dengan tawaran Hadi.
γ
"Mana Leya, kenapa dia pergi tanpa pamit denganku ? Apa dia berniat menghindar dariku ?
__ADS_1
γ
Hadi menuangkan wine ke gelas Dave, mengajak teman barunya itu untuk menikmati minuman mereka bersama.
γ
***************
γ
Flashback......
γ
"Sudah dansanya ?" Hadi meletakkan handphonenya begitu menyadari Feya telah duduk kembali di kursi persis di sebelahnya.
γ
"Sudah, sudah selesai ". Jawab Fey tanpa mau menatap wajah Hadi.
γ
"Mana Dave ?" Hadi menyadari kalau Feya hanya sendiri tanpa Dave yang tadi membawanya berdansa.
γ
Ga, gawat. Feya.
"Oo, itu. Dia pamit ke toilet sebentar ". Jawab Feya asal.
γ
Aku harus pergi sebelum Dave kembali ke sini, aku harus menghindari lelaki itu. Tapi bagaimana caranya ?"
Feya mengambil tasnya dan mengeluarkan handphonenya, berpura-pura menatap serius seakan tengah membaca sesuatu yang penting di layar handphonenya.
γ
"Sayang, aku harus pergi ". Feya menemukan ide bagus untuk segera meninggalkan restoran itu.
γ
"Kenapa beb, ada apa ?" Hadipun terlihat agak terperanjat mendengar penuturan Feya barusan.
γ
"Ini, Feya menchat aku. Sepertinya dia ada sedikit masalah, dia memintaku ke apartementnya ". Dusta Feya.
γ
"Loh, bukannya kamu bilang Feya sedang dinas luar kota ?" Hadi sedikit ragu.
γ
Ya Tuhan, ternyata berbohong itu begitu sulit. Harus ada kebohongan-kebohongan baru untuk menutupi semuanya.
"I, iya benar sayang ". Feya berusaha bersikap manja, seperti sikap manja yang biasa Leya tunjukkan pada Hadi. "Tapikan hari ini sabtu, libur. Atau mungkin karena masalah yang sedang dihadapinya, mangkanya Feya mendadak pulang ?"
γ
"Apa cukup serius ?" Sepertinya Hadi mulai khawatir dengan kondisi calon adek iparnya itu
γ
"Aku juga enggak tahu. Mungkin aku segera kesana saja ya sayang ".
γ
"Aku antar ". Hadi terlihat bersiap.
γ
Aduh.
"Enggak usah sayang. Kamu di sini saja ! Kan kita sudah janji bakalan makan malam dan menghabiskan malam minggu ini sama Dave. Kalau kamu antar aku, enggak enak dong sama Dave. Nanti dia tersingung sama kamu ". Sebuah kebohongan baru telah di karang Feya.
γ
"Kamu di sini saja. Temani Dave, santai dan ya...lakukan acara sesama teman lelaki bersamanya. Feya biar aku yang urus. Lagi pula aku bawa mobil, jangan khawatir ya !" Feya memegang tangan Hadi untuk menyakinkannya
γ
"Beneran gak aku antar ?" Hadi sedikit ragu.
γ
"Iya ". Feya mencoba memberikan senyum terbaiknya pada Hadi.
γ
"Ya udah, kamu hati-hati ya beb. Besok aku telepon kamu ". Hadi mengangkat tangan Feya dan mengecupnya dalam.
γ
__ADS_1
γ