
KUNJUNGAN
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
"Tuan....". Suara Ezza terdengar pelan.
 
"Tuan...", Ezza mengulang memangil sang tuan yang sepertinya hanya diam mengacuhkannya.
 
"Tuan....maaf ". Kali ini suara Ezza lebih keras plus sedikit sentuhan di punggung tangan Dave. Dave tersentak, tersadar dari kegalauan hatinya. Menatap Ezza dengan penuh tanda tanya.
 
"Tuan..Pak Hadi menelepon ". Ucap Ezza saat Dave menatap matanya sambil memperlihatkan handphone Dave yang sibuk berbunyi terus.
 
"Angkat !" Perintah Dave pada Ezza, jelas ada keengganan di diri Dave untuk mengangkat panggilan masuk tersebut.
 
"Hallo ", tanpa menjawab sang tuan. Ezza langsung menerima panggilan masuk tersebut.
 
"Maaf, saya menganggu Pak. Saya Hadi, pelaksana desain interior pada kondominium tuan Dave di Kawasan Lestari 1 ", ucap Hadi saat tahu bahwa bukan Dave yang mengangkat panggilan teleponnya.
 
"Iya, ada yang bisa saya bantu Pak ? Saya Ezza, salah satu asisten tuan Dave ".Tanya Ezza cepat.
 
"Kalau boleh, saya mau bicara sama tuan Dave. Saya mau melaporkan perkembangan hasil pekerjaan perusahaan saya padanya ". Terdengar suara Hadi sangat menyakinkan di ujung telepon.
 
"Sekarang tuan sedang memimpin rapat. Bagaimana kalau 10 menit lagi Bapak menelepon kembali !" Ucap Ezza yang di anggukkan oleh Dave dari tempat duduknya.
 
"Oooo, baik, baik. Tolong sampaikan pada tuan Dave 10 menit lagi, saya akan menelepon kembali !" Ucap Hadi yang segera di iyakan oleh Ezza.
 
 
***************
 
Feya duduk tenang di kursi belakang mobil dinasnya. Sore ini Feya sengaja meminta Niko, si sopir dinasnya untuk mengantarkannya pulang. Di karenakan besok pagi Feya akan segera berangkat menuju Negara tetangga bersama rombongan Pihak Keamanan dari Negarannya bersama-sama.
 
"Perlu mampir dulu Bu ?" Tanya Niko sebelum menjalankan laju stir mobilnya menuju sibuknya jalan raya sore ini.
__ADS_1
 
"Gak Niko..kita langsung saja !" Jawab Feya cepat. Dan kemudian Niko pun segera menjalankan stir kemudinya menuju hiruk pikuk lalu lintas jalanan ibukota. Dengan kecepatan terukur, Niko memastikan sang pimpinan merasa nyaman di kursi belakang.
 
"Besok saya jemput Ibu buat kebandara ?" Tanya Niko sambil sesekali melihat wajah Feya dari kaca kecil di atas kemudi mobil.
 
Feya bersiap menjawab, membuka mulut dan...
 
"Sebentar ya Nik ". Ucap Feya sambil mencari keberadaan handphonenya. Ternyata tepat di saat Feya akan menjawab pertanyaan Niko, tepat di saat itu pula ada panggilan masuk ke handphonenya.
 
"Leya ", guman Feya pelan.
 
Feya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum menerima panggilan masuk dari kembarannya itu. "Hallo ".
 
"Kembarankuuuu...miss you ". Suara riang Leya di ujung telepon. "Aku sungguh takut kamu gak mau bicara sama aku lagi ". Ucap Leya penuh penyesalan.
 
"Dan kamu tahu aku gak bakal bisa melakukan itu ?" Suara Feya pelan, antara malas dan enggan untuk berbicara dengan Leya. Tetapi hatinya berkata harus berbicara.
 
 
"Aku masih di jalan, baru mau balik ke rumah ". Jawab Feya jujur.
 
"Fe, Hadi sudah sehat. Pagi tadi sudah keluar Rumah Sakit ". Leya terdengar berhenti sesaat. "Kami, aku dan Hadi berencana untuk mengunjungimu. Bolehkah ?"
 
"Tumben bertanya ?" Tanya Feya malas. "Biasanya apa yang kamu mau itu yang akan dilakukan, meskipun aku menolak. Tapi kamu tetap memaksa ".
 
"Maafkan aku Fe ", terdengar helaan nafas berat di telinga Feya. "Aku benar-benar minta maaf ". Sekali lagi ucapan penyesalan diucapkan Leya.
 
"Jadi apa maumu dariku kali ini ?" Feya kembali bertanya dengan malas.
 
"Boleh kami bertemu denganmu Fe ? Ada yang harus aku sampaikan padamu ". Tanya Leya pelan.
 
"Ya sudah..datanglah. paling setengah jam lagi aku sampai !" Jawab Feya dan kemudian segera mematikan teleponnya.
__ADS_1
 
"Ada masalah bu ?" Tanya Niko setelah beberapa detik sang pimpinan menutup telepon yang tadi di lihat Niko di terima oleh Feya. Tapi herannya, Niko merasa Feya mendadak menjadi pendiam setelah acara telepon-teleponan selesai. Jelas Niko jadi penasaran.
 
"Ooo, nggak Nik. Kembaran saya mau ke rumah ". Jawan Feya jujur.
 
"Ibu tenang saja, sebentar lagi kita sampai kok Bu ". Suara Niko terkenal menyakinkan.
 
"Iya, gak masalah. Gak usah buru-buru Niko !" Perintah Feya yang di anggukan oleh Niko cepat.
 
"Hampir lupa, besok gak usah jemput saya ya. Saya besok berangkat ke bandara langsung sama Bapak-bapak keamana itu ". Akhirnya Feya ingat menjawab pertanyaan Niko tadi.
 
 
***************
 
"Bagaimana beb ?" Tanya Hadi yang ternyata duduk persis di sebelah Leya selama tunangannya itu menelepon kembarannya. Hari ini Leya sengaja berdiam diri di rumah Hadi setelah mengantarkan calon suaminya itu pulang dari Rumah Sakit.
 
"Bisa, setengah jam lagi Feya sudah sampai diapartemennya sayang ". Jelas Leya.
 
"Apakah dia bilang kalau dia marah padaku, beb ?" Tanya Hadi cemas.
 
"Tidak sayang ", Leya meletakkan tangan kanannya di wajah Hadi. "Dia masih marah padaku, aku bisa merasakan dari suaranya tadi. Tapi padamu, Feya tidak marah ".
 
"Tapi aku takut beb ". Aku Hadi jujur.
 
"Lebih-lebih aku, namun aku harus hadapi ini. Aku sadar aku telah menyakiti hatinya ". Leya hanya bisa mengeleng menyesali keegoisannya mengajak Feya bermain peran seperti masa kecil mereka dan semua demi kepentingan konyol dirinya belaka.
 
"Lantas, bagaimana dengan Dave ?" Sekarang Leya yang balik bertanya pada Hadi. "Ini sudah lebih dari 10 menit sayang, apakah kamu tidak mengulang kembali meneleponnya ?"
 
"Aahh, aku hampir lupa ". Ucap Hadi sambil mengambil kembali handphone kesayangannya itu.
 
 
__ADS_1