TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 149


__ADS_3

SEBUAH PENJELASAN (3)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Papa dan Mama Feya, Leya kembaran Feya bersama Hadi tunangannya telah meninggalkan kamar rawatan Feya. Keluarga besar Feya ini sudah di antarkan ke hotel terbaik milik Dave yang kebetulan tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit yang juga milik Dave ini, tempat Dave menjaga Feya saat ini. Sebenarnya sang Papa sempat menolak untuk meninggalkan Dave bersama Feya. Papa memang menyukai Dave, menjadikan Dave sebagai menantunya itu juga impiannya. Tetapi setelah mendengar cerita permainan peran Leya dan Feya, Papa jadi ragu.


 


Malam semakin larut, Feya masih menutup mata, Feya tertidur lelap dalam mimpi indahnya.


 


Dave masih setia terduduk di kursi persis di sebelah ranjang Feya. Memegang tangan Feya, terkadang malah membelai rambut Feya. Dave sangat menanti agar mata Feya segera terjaga, membuka mata dan melihat dirinya. Dave terlihat sabar sekali.


 


"Nanti kalau matanya di buka, saat di tanya Papa dan Mama. Jawab mau ya menjadi isteriku ". Dave berguman sendiri.


 


"Jangan tolak aku ya !"  Dave mengecup dalam punggung tangan Feya.


 


"Kalau kamu tolak aku, aku gak sanggup Fe. Aku beneran sangat cinta sama kamu. Kamu bisa rasakan itukan Fe ?" Dave sedikit menguap. Waktu menunjukkan hampir menjelang fajar dan mata Dave dipaksanya tetap terbuka lebar.


 


Ternyata pertahan mata Dave kalah juga, tanpa bisa di kuasai. Akhirnya Dave tidur dengan kepala di tundukkan pada ranjang Feya, di ujung jemari lentik Feya.


 


Lama suasana di dalam kamar rawatan Feya mendadak menjadi hening, Feya terlelap nyaman. Dave juga telah memasuki alam mimpi meski dengan cara tidur duduk. Dan Tomo, sekertaris Dave ini sudah sedari tadi tertidur di atas sofa yang cukup nyaman untuk tubuh jangkungnya.


 


Detik waktu berputar, semua masih berada di alam mimpi masing-masing. Hingga tidak ada yang menyadari baik Dave atau Tomo. Kalau perlahan Feya mulai mengerakkan matanya, Feya mulai terjaga.


 


Pandangan mata Feya sedikit berbayang, matanya silau. Kegalapan selama mata terpejam dan tiba-tiba mendapati terang saat mata terbuka, Feya harus mengerjab beberap kali. Sedang berusaha menyesuaikan antara pencahayaan lampu ruangan dan matanya.


 


Feya berhasil, matanya sedang menatap ke atas. Mencoba mengenali langit-langit di atas sana yang terasa asing baginya. Merasa tidak kenal, Feya pun menatap sekitar. Feya tersadar, ada sosok lelaki yang sedang tertidur di ujung jemarinya. Lelaki tampan yang di cintainya, tidur duduk dengan menompangkan wajahnya di tepian ranjang Feya. Wajah yang jelas lelah dan cemas itu mengarah padanya.


 


Feya membelai rambut Dave, menengelamkan tangannya di sana. Tetapi bukan untuk membangunkan Dave. Feya hanya ingin melakukan itu saja. Cukup lama, hingga akhirnya Dave bisa merasakan ada jemari halus yang membelai rambutnya.


 


Cepat Dave membuka mata, Dave begitu kesenangan.


 


"Kamu sudah bangun ?" Dave memegang erat jemari Feya. Feya sedang mencoba sedikit mengerakkan badannya. Berencana sedikit bergeser untuk mencari titik nyaman baru.


 


Tetapi yang terjadi. "Seeeeehhhttt ", Feya meringis kesakitan.


 


"Apa, apa yang sakit ?" Dave spontan berdiri.


 


"Sebentar ya..aku panggil dokter !" Dave berbalik badan.


 


"Tidak usah tuan, biar saya saja. Sebentar ". Ternyata Tomo sudah berdiri di belakang Dave.


 


"Sebentar ya, Tomo sebentar lagi kembali bersama dokter ". Dave mencoba menenangkan Feya dari rasa sakitnya. Sementara Dave, dia mulai merutuki Tomo di dalam hatinya,  yang di rasanya sangat lama. Padahal Tomo belum sampai 2 detik berlalu dari hadapannya.


 


"Bagaimana nona ?" Akhirnya dokterpun tiba. Dengan sigap dokter segera memeriksa Feya.


 


"Sakit ". Suara Feya lemah.


 


"Saya periksa dulu ya !" Dokter mulai bekerja.


 


"Kenapa dok ?" Tanya Dave setelah melihat dokter telah selesai memeriksa Feya.


 


"Dengan vitamin dan asupan makanan, kondisi nona akan kembali lagi. Bertahap, kami yakin nona akan segera pulih seperti sedia kala. Kalau untuk luka di bahu, sampai sejauh ini semua aman. Lukanya bagus, tidak ada masalah. Dan rasa sakit yang nona rasakan itu karena efek bius telah habis. Jadi saya anjurkan nona jangan banyak mengerakkan bahu kanannya ya. Atau kalau memang nona sangat ingin menganti posisi, tuan tolong bantu sampai nona merasa nyamannya di mana ". Penjelasan panjang dokter.


 

__ADS_1


"Baiklah dok, baiklah ". Dave terlihat sangat paham dengan semua penuturan dokter padanya.


 


"Nanti akan kita berikan obat untuk pereda nyerinya. Tetapi nona harus makan dulu ya tuan, kemudian pastikan makannya habis dan susu serta jus yang kami berikan juga habis ". Perintah dokter yang langsung di sanggupi Dave.


 


"Kalau begitu nona coba istirahat yang banyak ya. Nona pasti akan segera pulih ". Dan dokter pun meninggalkan kamar rawatan Feya, di antar oleh Tomo.


 


"Kamu mau tidur seperti apa ?" Dave langsung menatap Feya. "Aku bantu ya ?" Sikap Dave sangat lembut.


 


"Aku pengen sedikit dinaikkan bagian kepala. Aku pengen bersandar ". Ucap Feya masih dengan suara lemah.


 


Dave memenuhi keinginan Feya. Tetapi sayangnya karena bahu kanan yang terluka dalam dan masih belum sepenuhnya baik-baik saja, akhirnya Feya kembali meringis sakit.


 


Dave menganti cara, tanpa dosa Dave naik ke ranjang Feya. Di bantu Tomo dengan memegang infus Feya, Dave duduk dan memangku Feya. Feya bersandar nyaman di dadanya. Dengan infus yang di pindahkan ke sisi satu lagi.


 


"Seperti ini nggak sakit ?" Dave tersenyum pada Feya. Tomo menyimak. Yakin semua baik, Tomo pun izin keluar kamar.


 


"Enggak, ini nyaman ". Aku Feya. "Tapi aku berat. Nanti kamu capek pangkuin aku ".


 


"Mengendong tubuhmu saja aku bisa, apa lagi hanya memangku. Kamu itu ringan banget Fe pasti karena belum makankah ?" Dave memperbaiki rambut Feya.


 


"Mau minum susunya, ini masih hangat ? Aku yakin kamu suka !" Dave mengapai gelas susu di dekatnya.


 


"Boleh air putih dulu, aku haus ?" Pinta Feya.


 


Dan dengan cekatan Dave menuangkan air putih permintaan Feya. Padahal Feya ada di dalam pangkuannya. Tetapi Dave terlihat biasa saja. Dave sangat menikmati aktivitasnya merawat Feya.


 


 


Kemudian Dave mencoba membujuk Feya agar makan. Menu sarapan ala Rumah Sakit, smooties buah dan taburan almon. Cukup enak, Feya pun melahap setiap suapan Dave padanya tanpa menolak. Hingga dirinya mengaku kenyang.


 


Mungkin benar kalau Feya sudah sangat kenyang. Karena susu putih hangat yang di tawarakan Dave pun hanya mampu di habiskan Feya beberapa teguk saja.


 


"Nanti lagi ya ". Ucap Dave sambil membersihkan bibir Feya dengan tisu. Feya hanya mengangguk saja.


 


"Aku berbaring saja lagi ". Suara Feya masih lemah.


 


"Kanapa, apakah aku membuat kamu sakit ?" Dave langsung khawatir.


 


"Tidak, hanya saja aku berat. Kamu pasti capek ". Ucap Feya tidak enak.


 


"Berat ?" Dave tersenyum. "Dengar nona Feya, jangan karena kamu telah memakan semangkus smooties tadi, di tambah segelas susu. Kamu langsung berpikir bisa jadi berat ya. Kamu jangan ngayal sejauh itu ". Ada tawa kecil di bibir Dave.


 


"Kamu....", Feya berencana mencubit tangan Dave tetapi realitanya yang Dave rasakan hanya berbentuk gerakan mengusap. Sepertinya Feya memang masih sangat lemah.


 


"Masih sakit ?" Tanya Dave kemudian.


 


"Enggak, sekarang terasa nyaman ". Feya mengeleng di dada Dave.


 


"Taukah kamu, Fe. Aku sangat takut kehilangan kamu ?" Dave memperbaiki letak rambut Feya kembali kebelakang telinga.


 


"Bohong ?" Ucap Feya pelan.


 

__ADS_1


"Sungguh Feya...aku tidak siap kehilangan kamu ". Dave berusaha jujur.


 


"Lantas, saat aku menjelaskan semua padamu di dalam kamar rawatan Hadi waktu itu. Kenapa kamu diam saja, kamu biarkan aku pergi dalam hujan ?"


 


"Maaf untuk waktu itu ". Dave memeluk Feya. "Aku, pada saat itu, aku cukup kaget dengan semua penjelasan kamu. Kamu tahukan Fe, aku jatuh cinta padamu. Tetapi aku merasa dihianati cintaku sendiri. Aku merasa aku ini hanya orang tidak penting yang terjebak dalam permainan kamu. Aku kecewa Fe ".


 


"Berarti kamu memang berharap aku adalah Leyakan ? Leya yang super, glamor, ratu pesta, cantik dan hebat ?" Feya terdengar cukup bersedih.


 


"Salah..kamu salah Fe. Aku tidak kenal Leya, kenapa aku harus berharap bisa bersamanya. Aku kenal kamu, dan aku mau kamu. Tetapi kalau aku kenal kamu bernama Leya, itu jelas bukan salahku. Coba kamu pikir siapa yang memperkenalkan dirinya padaku sebagai Leya ?" Feya terdiam mendengar semua ucapan Dave.


 


"Maafkan aku Dave. Aku sendiri tidak pernah menyangka semua akan seperti itu kejadiannya ". Feya sangat menyesal.


 


"Kalau begitu jawab pertanyaan aku, jujur !" Dave mengangkat dagu Feya agar mata biru gelap itu menatap padanya.


 


"Apakah ada aku di dalam hatimu ? Apakah kamu mencintaiku Feya ?" Dave menuntut jawaban Feya.


 


"Tolong jujur padaku, Fe. Apakah kamu mencintaiku ?" Dave mengulang pertanyaan yang sama.


 


"Ya, aku cinta padamu ". Jawab Feya jujur.


 


"Sejak kapan ?" Dave masih memaksa Feya membuat pengakuan.


 


"Aku juga enggak tahu, tetapi seiring waktu aku sangat merindukan kamu. Tetapi aku terikat dalam janjiku pada Leya, aku akan bermain peran itu. Hingga aku selalu mengesampingkan perasaanku padamu ". Feya mengigit bibir bawahnya.


 


"Ya Tuhan......... ". Dave hampir saja memeluka erat Feya. Untuk dirinya segera ingat kalau kondisi luka Feya belum sehat.


 


"Aku nyaris gila Fe. Aku pikir hanya aku yang cinta kamu. Aku pikir cintaku tak berbalas ". Dave mengecup dalam puncak kepala Feya.


 


"Feya...aku cinta padamu ". Dave menyuarakan isi hatinya.


 


"Maukah kamu menikah denganku ?" Ucap Dave kemudian.


 


"Maukah kamu menjadi isteriku Fe, menjadi dewi di hidupku dsn menjadi ibu dari anak-anakku ?" Dave masih bertanya.


 


"Aku akan lakukan apa saja untuk membuatmu bahagia, aku janji Fe. Aku akan jadi suami kekasih terbaik untukmu, suami termanis untukmu, Fe. Dan ayah terbaik untuk anak-anak kita. Aku janji Fe ". Dave sedang membuat sumpah.


 


"Tapi kamu belum kenal aku, aku bukan gadis hebat Dave. Kamu hanya Feya si biasa-biasa saja ". Feya terlihat ragu.


 


"Kamu hebat bagiku. Karena kamu bisa membuat aku jatuh cints padamu Fe. Dan kamu luar biasa, karena membuat aku takluk pada cintamu ". Dave begitu tulus, Feya merasa tersentuh.


 


"Maaf..ini bukanlah moment pernyataan cinta yang romantis Fe. Maafkan aku ". Dave melihat Feya tersenyum.


 


"Asalkan itu kamu, semua romantisku bagi aku ". Feya masih mempertahankan senyumnya pada Dave.


 


"Jadi, jawab penyataan cintaku apa ?" Dave meminta kepastian.


 


"Aku..aku cinta kamu Dave ". Jawab  Feya sedikit malu


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2