
PERUSAHAAN MALAKY
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Ibu baik-baik saja ". Melalui kaca kecil di depan stir mobil yang dikemudikannya, Niko memandang Feya yang terlihat sangat pucat. "Kita ke dokter dulu ya Bu ". Bujuk Niko ketiga kalinya pada Feya sepanjang jalan mereka dari kantor menuju gedung pencakar langit perusahaan Malaky milik sang Papa.
Feya berusaha tersenyum, "enggak usah Nik, saya enggak papah kok. Kita langsung ke tempat Papa saja. Nanti saya ke dokternya bareng Papa ".
Niko mengeleng pelan, sejujurnya dirinya sangat khawatir dengan kondisi Feya. Apa lagi saat Menik si sekretaris pimpinannya menelepon dan meminta Nika standby untuk mengantar Feya. Sangat mendadak membuat Niko heran, ternyata Niko mendapati Feya seperti sedang kurang sehat. Dan parahnya Feya terlalu keras kepala untuk di bawa ke dokter oleh Niko. Cemas sudah pasti terasa oleh Niko karena kondisi Feya.
***************
"Dia sama sekali tidak mengenal siapa sebenarnya tunanganya dan dia masih berani mengakui kalau dia sangat mencintai wanita itu ". Tomo mendengar Dave berguman di kursi belakang. Ragu harus menjawab apa, takut kalau suara gumaman tadi bukanlah sebuah ajakan berbicara dengannya, hanya ungkapan kesal sang tuan. Tomo pun memilih diam di depan stir kemudi.
"Begitu yakinnya bilang dia suka ini, dia suka itu. Dia hebat ini, dia hebat itu. Padahal semua bohong ". Dave mulai kesal. "Aku saja bisa mengenalnya dalam waktu singkat, ini....sudah bertunangan hitungan tahun lagi, tapi tidak tahu apa-apa ".
Tomo kembali melirik Dave dari kaca kecil di atas stir kemudinya, dia hanya bisa mengeleng pelan melihat sikap sang tuan.
"Apa alasannya bertahan dengan Hadi ? Bukankah itu hanya menyiksa diri seumur hidupnya ?" Sambil mamandang keluar jendela Dave terdengar mengajukan sebuah pertanyaan.
"Itulah cinta tuan, kita tidak pernah tahu makna pasti di dalamnya. Tapi yang jelas kita sanggup berkorban untuk yang kita cintai ". Tomo memberanikan diri menjawab pertanyaan Dave barusan. Menjawab dengan versi dirinya sendiri.
"Cih ". Dave mendengos kesal. "Gaya bicaramu seperti ahli percintaan saja ".
"Hehhehee ". Suara cekikikan Tomo di kursi kemudi pelan. "Saya sih memang bukan ahli percintaan tuan, tapi setidaknya saya mencoba menganalisa dari sudut pandang saya ".
__ADS_1
"Apa hasil analisamu ? Menurutmu apa alasannya bertahan bersama Hadi, padahal dia tidak mencintai Hadi ?" Tanya Dave bersemangat.
"Mungkin faktor perasaan tuan ?" Tomo sendiri ragu.
"Apa maksudmu ?" Dave mengerutkan keningnya di kursi mobil bagian belakang.
"Perasaan tidak sampai hati mungkin ? Saat kita tahu kita dicintai sedemikian rupa, sangat besarnya hingga melebihi ekspektasi kita, kalau saya mungkin tidak akan sanggup menolaknya tuan. Terlalu kasihan, tidak sampai hati ". Jawab Tomo sambil terus memastikan laju kemudinya tetap stabil.
"Kasihan ? Katamu berdasarkan rasa kasihan ?" Dave mulai berpikir. "Bukankah itu sama seperti bom waktu, tinggal menunggu waktunya saja, hingga rasa lelah karena kasihan itu datang dan semua berakhirkan ? Apa itu bukan tindakan terbodoh yang akan berakhir dengan menyakiti kedua belah pihak ?" Dave sangat tidak mengerti apa benar ada orang sebodoh itu di atas dunia ini.
"Kan hanya sudut pandang saya tuan, hehehehe ". Tomo terlihat cekikikan kembali, merasa bersalah atas semua argumennya barusan. "Tapi bagaimana kalau akhirnya rasa kasihan itu seiring waktu berhasil berubah jadi cinta tuan ? Sambil memastikan laju mobil berjalan dengan seharusnya, Tomo memberikan sebuah pertanyaan pada Dave.
Tidak akan pernah terjadi, aku harus menghentikan semua ini sebelum itu terjadi ! Aku lebih mencintainya di banding tunangannya itu dan aku tidak akan pernah membiarkan hariku berlalu dengan penuh kecemasan, apakah dia baik-baik saja saat bersama Hadi. Aku akan ungkapkan semua pada Hadi sebelum terlambat....
***************
Niko segera beranjak ke sisi pintu mobil bagian belakang, dia baru saja memarkirkan mobil milik Feya di depan Lobby utama gedung pencakar langit perusahaan milik orang tua sang majikannya itu.
"Ibu yakin enggak saya temani ke dalam ?" Niko masih sempat mengajukan pertanyaan sebelum Feya menurunkan kedua kakinya kelantai gedung.
"Makasih Niko, saya enggak apa-apa kok. Kamu bisa balik setelah ini. Besok pagi tolong jemput saya di rumah orang tua saya ya ! Malam ini saya akan menginap di sana ". Feya turun perlahan dari mobil. Entah karena terlalu lama duduk atau karena memang pusing di kepalanya belum hilang sepenuhnya, Feya merasa sakit lagi di area kepalanya, berdenyut kuat.
Kok saya ragu ya ? Niko menatap si majikan dengan tatapan khawatir.
"Ya udah, saya masuk dulu ya. Kamu hati-hati di jalan !" Feya mencoba melangkah memasukki bagian depan Lobby kantor sang Papa.
__ADS_1
Niko hanya diam, mematung di posisi berdirinya sambil terus memperhatikan punggung Feya yang hilang di balik pintu otomatis gedung super mewah itu.
Feya berjalan pelan menuju lift khusus milik sang Papa sambil menahan sakit kepalanya. Mungkin karena terlalu fokusnya Feya pada usaha menahan sakit kepalanya, sampai-sampai dirinya tidak mendengar kalau beberapa orang yang berselisih dengannya sibuk menyapa hormat pada anak gadis si pemilik gedung.
***************
"Kamu dampingi saya !" Perintah Dave pada Tomo begitu kunci mobil telah di serahkan Tomo pada petugas parkir gedung perusahaan Malaky. Tomo menganguk patuh dan berjalan mengikuti langkah kaki sang tuan menuju lift yang di khususkan hanya untuk Presdir dan orang-orang tertentu saja. Seorang wanita muda, petugas resepsionis dengan baju kerja berwarna cokelat muda berjalan di depan Dave dan Tomo. Petugas resepsionis ini sengaja di siapkan untuk menyambut dan mengantar Dave keruangan Presdir Malaky.
Tomo memperhatikan susunan angka yang tersusun rapi di samping pintu otomatis lift, si resepsionis memilih angka 22, dan lift pun bergerak naik. Emmm, lantai 22 ya.
Tidak butuh waktu lama, ting.......
Pintu lift terbuka, si resepsionis berbaju cokelat muda mempersilahkan Dave dan Tomo berjalan mengikutinya kembali, dengan senyum manis terkembang si resepsionis melangkah di depan.
"Sudah siapkan semua ?" Tanya Dave pada Tomo saat langkah kakinya keluar mengikuti si resepsionis.
"Sudah tuan ". Jawab Tomo sambil mengangkat tas kerja yang di jinjingnya. "Lengkap ".
"Terima.......",
"Nonaaaaaaaaaaaaaaa ". Suara teriakan si resepsionis spontan menghentikan langkah Dave bahkan suara Dave untuk melanjutkan kalimatnya pada Tomo pun ikut terhenti.
Dave berlari ke arah mata panik si resepsionis. Seorang wanita dengan rambut panjang di atas pingang nyaris terjaruh dengan kepala mengarah ke tembok. Hitungan waktu yang pas, sangat tepat sangat akurat, Dave berhasil mengapai wanita berambut panjang dan memeluknya dari belakang. Si wanita pingsan.
Wangi vanila dan lili, aku hafal wangi ini..... Jantung Dave pun berdegub kencang.
__ADS_1