
KEJUJURAN (2)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
"Bagaimana, nona dan tuan sudah mengerti semua penjelasan saya ?" Tanya dokter yang telah merawat Hadi saat pertama kali sampai di Rumah Sakit saat di bawa Dave.
 
"Iya..", Feya mengangukkan kepalanya sebagai wujud kalau dia sangat mengerti dengan apa yang telah di jelaskan dokter padanya.
 
"Kalau begitu boleh kami temui Hadi sekarang dok ?" Tanya Dave kemudian.
 
"Tentu saja, boleh. Silahkan ". Si dokter berdiri dan menyalami Feya serta Dave bergantian.
 
Sementara itu....
 
Leya sudah berdiri di teras Rumah Sakit tempat Hadi di rawat. Kakinya mendadak lemas, tangannya sangat dingin, perutnya bahkan bergejolak. Hingga tiba-tiba Leya merasa kalau dia mengalami mual, Leya sangat ingin mengeluarkan isi perutnya segera.
 
Secepatnya Leya bertanya dimanakah keberadaan toilet wanita terdekat kepada siapa saja yang di temuinya, Leya sudah tidak tahan lagi.
 
Dan akhirnya Leya bernafas lega, isi perutnya sudah keluar semua. Meskipun dirinya jelas masih takut, tapi adegan muntah tadi cukup efektif mengurangi kepanikannya.
 
"Maaf sus, dimana ruang rawatan Willihadi Permana ?" Tanya Leya di depan resepsionis Rumah Sakit.
 
"Oooo...di lantai 3 nona. Di ruang VIP Seroja. Jelas si perawat wanita yang di tanyai oleh Leya. Dan Leya, setelah mengucapkan terima kasih, langsung berlalu menuju lift. Dirinya ingin segera sampai di sana, jantungnya berdegub keras, cemas, takut, panik. Mendadak perutnya terasa kacau lagi.
 
__ADS_1
"Aku tidak mau melihatnya !" Suara Hadi setengah keras. Meskipun ada getar lemah di dalam ucapannya, tetapi jelas Hadi sedang memaksakan diri.
 
"Aku di sini bukan kerana kamu ". Leya mendengar suara lelaki yang tidak di kenalnya menjawab perkataan Hadi barusan. Tebak Leya, pasti lelaki itu yang tidak ingin di lihat oleh Hadi.
 
"Apa-apaan itu ?" Leya terlihat geram. Leya sedang berjalan mendekat ke arah pintu kamar rawatan Hadi, memegang gagangnya dan bersiap membuka.
 
"Aku di sini karena wanita yang kucintai. Jadi jangan besar kepala !" Suara Dave santai.
 
Leya berhasil mendorong pintu kamar rawatan Hadi. Leya terdiam, air matanya entah sejak kapan jatuh berderai. Hatinya teriris, sakit sekali saat matanya melihat wajah Hadi yang pucat terbaring dengan infus di tangan kiri. Sepertinya seisi kamar rawatan Hadi belum menyadari keberadaan Leya di dalam sana.
 
Dave berdiri jarak satu meteran dari ranjang Hadi, membelakangi pintu kamar, dan secara otomatis membelakangi sosok Leya yang sudah berdiri di sana.
 
 
"Sa, sayang....hiksss ". Suara Leya sangat pelan. Tapi tidak bagi seisi kamar. Dave membalikkan badannya, raut wajahnya sangat terkejut, matanya melebar hingga tanpa sadar mulutnya mengaga lebar. Sedang Hadi, tidak kalah terkejutnya. Sesaat Hadi memandang sosok wanita yang sedang duduk di ujung ranjangnya, dan sesaat kemudian beralih ke wanita yang sedang menangis penuh kesedihan di dekat pintu masuk. Hadi bingung silih berganti memandang 2 sosok wanita yang sama persis tiada beda.
 
"Syukurlah kamu sudah sampai ". Sepertinya hanya Feya yang bersikap santai dan tenang dengan munculnya sosok Leya. "Kemarilah !" Feya berdiri dari tepi ranjang Hadi, mengulurkan tangannya ke arah Leya sang kembaran.
 
Leya melangkah pelan, menerima uluran tangan Feya dan terus menatap Hadi dengan cinta sucinya. "Sayang ". Ucap Leya sambil menghapus air mata yang jatuh terus tiada henti ke sisi kanan dan kiri pipinya.
 
"Beb ?" Hadi memandangi Leya yang berjalan mendekat ke ranjangnya. Ada getar hangat di hati Hadi, sepertinya Hadi mengenali sosok wanita itu.
 
"Baiklah, beri aku kesempatan menjelaskan semua ini. Hanya sebentar saja !" Feya menahan tangan Leya yang ternyata sudah tidak sabar ingin segera memeluk tubuh lemah sang tunangannya.
 
__ADS_1
"Hadi, ini adalah Leya. Tunanganmu ! Wanita yang sangat mencintaimu ". Leya akhirnya berhasil melepaskan tangannya dari sang kembaran dan berlari masuk dalam pelukan Hadi.
 
"Sayang...sayangggg...hiksss, hiksss, hikssssss ". Leya terus menangis, penyesalan sedang memehuni relung hatinya.
 
Dave termanggu, entah kenapa Dave bisa tahu seketika kalau sosok wanita yang mukanya sangat mirip Feya itu sangat mencintai Hadi, sangat tulus mencintai Hadi dan sepasang anak manusia itu memang saling mencintai.
 
"Dan tuan Dave, ini adalah Leya. Tunangan Hadi, wanita yang sangat di cintai Hadi. Anda bisa lihat bukan, cinta mereka tulus, satu sama lain saling mengasihi ". Tunjuk Feya ke arah Leya dan hadi yang masih terus berpelukan.
 
"Sedang saya, saya adalah Feya kembaran Leya ". Ucap Feya sambil melepas lensa kontak yang melekat di bola matanya. Rahang Dave mengeras saat melihat birunya warna asli mata wanita yang di dalam pikirannya adalah sosok wanita bernama Leya.
 
"Kenapa bisa terjadi seperti ini ? " Feya mengembangkan tangannya di udara. "Ini semua karena kembaranku ini ingin memberi kejutan padamu Hadi. Dia sibuk membujukku untuk memainkan permainan semasa kami kecil, berganti peran. Leya ingin belajar memasak dan semua harus di rahasiakan darimu. Dia ingin bisa memasak buat kamu dan anak-anakmu nanti". Hadi membelai rambut Leya, sedang Dave. Dave masih saja diam dengan sorot mata tidak percaya pada Feya. Ya...sekarang Dave tahu bahwa yang berdiri si depannya ini adalah Feya.
 
"Satu lagi ". Feya sepertinya berencana untuk melangkah pergi. "Le, tuan Dave jatuh cinta padamu. Dia bilang sangat mencintaimu dan dia sangat ingin memisahkan kamu sama Hadi ". Senyum sinis menghiasi wajah Feya. Sedang Leya, di balik dada Hadi dirinya menyempatkan diri mengintip ke arah Dave. Hanya sesaat saja.
 
"Sekarang silahkan selesaikan kisah cinta segi tiga kalian, saya sudah tidak ada urusan !" Feya dengan wajah terangkat memilih melangkah keluar ruang kamar rawatan Hadi. Dengan sikap anggun pantang menyerah, Feya berusaha memperlihatkan kesemua orang di dalam ruangan itu kalau dirinya tidak apa-apa, dia baik-baik saja.
 
Feya menutup pintu kamar rawatan rapat, sempat berdiri sesaat sambil bersandar di pintu. Feya memegang dadanya, meremas kain berlapis-lapis di depan dadanya. Semua sudah selesai, tetapi entah kenapa ada rasa sakit di dalam dadanya. Air mata mulai menetes seiring langkah Feya melangkah jauh meninggalkan pintu kamar rawatan Hadi.
 
Feya terus melangkah menyusuri lorong sepi, semua sudah selesai. Permainannya sudah berakhir, dia hebat. Itu sebuah kesimpulan yang tidak bisa dibohongi dari hasil kerja kerasnya dalam permainan perannya selama nyaris satu minggu ini, buktinya Hadi tokoh utama dalam permainan peran ini berhasil terperdaya, berhasil di buat Feya percaya bahwa dirinya adalah Leya. Tidak cuma itu, sosok Dave yang bukan bagian dari permainan ini pun bisa dengan mudah di buat Feya percaya juga. Seharuanya Feya senang bukan, meskipun berakhir dramatis tetapi dia aktris yang hebat ?
 
Hanya saja, sepanjang kakinya melangkah Feya tidak merasakan semua itu. Hatinya terus saja berteriak, menangis untuk perasaan yang sangat menyakitkan. Feya tertunduk lemas sambil sesekali menyeka air matanya. Semua benar-benar sudah selesai. Feya pun kembali kekehidupan nyatanya, ke apartemennya, ke dalam dirinya yang sebenarnya lagi.
 
Hujan turun di saat kaki Feya tepat sampai di parkiran, membasahi wajahnya dan menyembunyikan air mata di wajah cantik itu. Feya berjalan pelan di antara rintik hujan dan dinginya udara malam. Sambil terus menangis, Feya melanjutkan langkahnya pulang.
__ADS_1