TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 50


__ADS_3

TELEPON HADI


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


γ€€


Sebelum benar-benar mencari posisi duduk terbaiknya di sofa, sekali lagi Dave memandang Feya yang setahu Dave bernama Leya mulai tertidur lelap. Dan akhirnya Dave memilih duduk, mengistirahatkan badannya sendiri. Awal Dave memilih duduk biasa, dengan kaki dibiarkan di lantai dan tubuh bersandar. Namun kemudian Dave merasa tidak nyaman, kaki naik dan bersila di sofa. Dave mulai memejamkan matanya, sayang baru beberapa saat, terasa posisi tersebut tidak lagi menyenangkan baginya. Dave memilih merebahkan tubuhnya di sofa dengan kaki diluruskan agar bisa rileks. Tetapi Dave salah mengira, ternyata sofa tersebut bukanlah di buat untuk menampung tubuh tingginya. Kaki Dave mengantung di ujung sofa, dan dia merasa kali ini juga bukan termasuk posisi tidur yang dia sukai.


γ€€


Udah, bagus tidur di ranjang itu saja. Ranjang itu besar loh, bisa memampungmu. Di situ lebih nyaman, lagi pula Leya sudah tidur. Dia pasti tidak akan menyadari kalau kamu tertidur di sampingnya. Pikiran Hadi mulai mencoba mempengaruhi dirinya.


γ€€


Jangannnnn...tidak boleh. Kamu mau cari mati apa tidur seranjang dengan Leya. Memang kamu siapa dia? Bagaimana kalau Leya itu istri orang. Tamat sudah cerita hidupmu. Debat sisi baik dari seorang Dave.


γ€€


Yah, jangan sampai diapa-apain dong, usahakan..cuma tidur saja. Di sofa ini enggak enak, toh cuma tidur saja, enggak masalah kok. Kecuali lebih dari itu...baru masalah.


γ€€


Awalnya cuma tidur, terus??? Kamu itu laki-laki normal. Yakin cuma tidur? Tadi saja kamu hampir lepas kontrol, sudahlah..jangan ambil resiko. Kamu tidak kenal siapa sebenarnya Leya itu.


γ€€


Begitulah, perdebatan terjadi. Pikiran buruk dan pikiran baik Dave bergantian mengajaknya berdiskusi. Mengajukan solusi terbaik mereka buat Dave. Akhirnya Dave mengusap kasar wajahnya, berusaha menenangkan pikirannya yang sedang tidak stabil.


γ€€


Baru saja akan mencoba memejamkan matanya, Dave dikagetkan dengan bunyi handphone Feya yang berada di dalam tas di atas meja rias. Tidak ingin membuat suara handphone tersebut menganggu Feya yang tengah tertidur, Dave segera mengambil ponsel tersebut. Hadi, siapa dia?


γ€€


Panggilan terputus, tidak diangkat. Dave melihat Feya, masih tertidur tanpa merasa terganggu sedikit pun. Dave meletakkan handphone milik Feya di sofa tempatnya duduk, jaga-jaga kalau nanti berbunyi lagi. Dan benar saja, kembali handphone tersebut berbunyi dari si penelepon yang sama.Β Siapa Hadi? Mau apa dia? Apakah penting?


γ€€


Dave mematikan volume handphone Feya, berusah mencagah suara ribut yang bisa menganggu tidur lelap Feya, dan ternyata berhasil. Panggilan Hadi yang kedua pun berlalu, Amaaaaan. Pikir Dave senang.


γ€€


Hingga rasa senang tersebut tidak bertahan lama, panggilan telepon dari Hadi masuk untuk yang ketiga kalinya.Β Apakah memang memiliki keperluan penting si Hadi ini ya?


γ€€


Dengan berat Dave mendekati Feya, berusaha membangunkannya untuk memberitahu tentang telepon dari Hadi.


"Le..Leya. Ada telepon dari Hadi. Mau kamu angkat atau aku matikan?" Tanya Dave sambil membangunkan Feya.


γ€€


Feya membuka matanya, mengerjab beberapa kali. Rasanya seperti mimpi, baru saja matanya terpejam dan sekarang sudah dibangunkan. Dengan malas Feya menatap pada Dave, mencoba mengumpulkan nyawanya agar bisa mencerna apa yang Dave ucapkan.


γ€€


"Ada telepon dari Hadi, kamu mau angkat?" Kembali Dave bertanya pada Feya.


γ€€


Hahhhh...Hadi? Astaga, gawat, gawat, gawat. Aku lupa. Bagaimana ini? Bisa-bisanya aku lupa pada calon kakak ipar.


γ€€


"Biar aku angkat". Feya meminta handphonenya dari tangan Dave.


γ€€


"Hallo". Feya langsung menerima panggilan telepon Hadi.


γ€€

__ADS_1


"Sukulah..akhirnya kamu angkat Fe". Terdengar ada suara kelegaan di ujung telepon.


γ€€


"A-ada apa Hadi?" Feya berusaha tidak berpura-pura tidak tahu penyebab Hadi meneleponnya.


γ€€


"Kamu dimana? Lagi apa?" Tanya Hadi cepat.


γ€€


"A-aku di rumah, lagi tidur". Jawab Feya.


γ€€


"Ada Leyakah di situ?"


γ€€


"Ti-tidak ada. Dia di rumah Papa dan Mama. Apa dia tidak cerita?" Cepat Feya mengarang cerita terbaiknya untuk mengelabui Hadi.


γ€€


"Apaaaah? Bagaimana bisa? Kenapa dia diam saja? Kenapa enggak bilang? Ada apa, ngapain ke sana? Dan, dan hapenya kenapa mati? Ada apa ini Fe?" Hadi memberondong Feya dengan begitu banya pertanyaan.


γ€€


"Aduh, satu-satu dong kakak ipar. Jadi tadi dia minta aku jemput tapi aku enggak bisa, akhirnya dia pergi sendiri. Dia tadi, tadi mengalamai hal yang sedikit memalukan. Karena itu perginya enggak pamit sama kamu". Feya mencoba mengarang cerita.


γ€€


"Apaaaa? Ada apa? Haaaaa? Ada apa?" Suara Hadi mulai meninggi.


γ€€


"Begini, cerita Leya. Waktu kalian bertemu tadi dia sempat merasa perutnya kurang enak, trus dia segera ke toilet. Eh, ternyata dia datang bulan dan, dan ada bercak darah di bagian belakang roknya. Dia sangat malu, merasa ceroboh, jadi langsung pulang. Rencana mau pulang ke rumahnya, tapi di jalan dia ngerasa perutnya sangat tidak enak. Karena aku gak bisa jemput dan takut nanti tambah sakit, jadi dia milih ke rumah Papa dan Mama. Kan ada Mama yang sangat tau cara terbaik buat ngurangi rasa sakit diperutnya". Cerita bohong Feya sangat panjang.


γ€€


γ€€


"Hanya karena itu? Kamu gak boongkan?" Hadi sedikit curiga dengan cerita Feya.


γ€€


"Ngapain aku boong coba?" Bantah Feya.


γ€€


"Itu masalah sepele Fe, kenapa Leya harus melarikan diri aku? Aneh, sangat aneh, apa yang sebenarnya terjadi?" Desak Hadi kepada Feya karena merasa tidak percaya dengan cerita Feya.


γ€€


"I-itu saja kok, sungguh". Feya mulai merasa sulit untuk melanjutkan kebohonganya.


γ€€


Tolonglah buat Hadi percaya Tuhan.


γ€€


"Lantas kenapa hapenya dimatikan?" Hadi terus meminta kejelasan pada Feya.


γ€€


"Aku rasa itu bukan hal yang di sengaja. Mungkin dia kehabisan baterai dan lupa bawa cash hape, yang jelas kata Mama tadi dia sudah tidur. Sepertinya obat Mama sangat manjur, jadi kamu berhentilah kawatir". Pinta Feya pada Hadi.


γ€€


"Aku akan ke rumah dan memastikan langsung". Ujar Hadi penuh penekanan.

__ADS_1


γ€€


"JANGANNN". Feya mendadak histeris.


γ€€


Dave langsung berdiri dari sofa, melihar heran ke arah Feya. Curiga dengan aktivitas teleponan yang masih berlangsung, curiga pada si penelepon yang sepertinya membuat Feya menjadi takut.


γ€€


Ada apa? Kenapa teriak. Itu siapa sebenarnya?


γ€€


"Kenapa jangan, haaaa? Kenapa? Ada apa ini sebenarnya, dan kamu kenapa harus teriak?" Hadi sangat curiga.


γ€€


"Ya..ya karena di sudah tidur. Kalau kamu datang, pasti dia ke ganggu. Dan aku larang itu karena, karena. Aduhhh, gimana ya caraΒ  menjelaskannya?" Feya mulai kehabisan akal.


γ€€


"Ooo, aku ganggu? Sementara aku di restoran ini hampir gila. Nyaris dua jam aku di sini dan apa kamu tahu? Aku sangat ingin merobohkan restoran ini karena rasa panik. Aku takut hal buruk telah terjadi pada Leya dan kamu bilang jangan. Hehh". Terdengar Hadi sangat marah di ujung telepon.


γ€€


"Maaf". Hanya itu kata yang sanggup diucapkan Feya.Β Maaf aku lupa sama kamu, maaf buat kamu menunggu selama dua jam, maaf sudah buat panik, maaf sudah buat kamu marah. Plisss, maafkan aku.


γ€€


"Jujurlah ada apa? Apa dia bertemu laki-laki lain?" Suara Hadi terdengar sangat sedih.


γ€€


Astagaaaaa.


γ€€


"Tidak, tidak..buang pikiran anehmu itu. Kamu pasti tau betapa cintanya dia padamu, jangan konyol. Jadi, jadi begini. Oke..dengar baik-baiknya. Mungkin bagi kamu ini sepele, tapi tidak bagi kami kaum wanita. Jadi, karena bercak haid yang tertinggal diroknya, tanpa disadari ada yang lihat dan orang itu menertawaknnya. Mereka tau siapa dia, mereka kenal siapa kamu. Orang itu berpikir betapa cerobohnya, menjijikannya, joroknya dia karena tidak bisa menjaga darah haidnya. Dan itu sangat memalukan, apa kamu mengerti? Karena itu dia langsung pergi, dia takut kamu malu". Lagi cerita bualan Feya dikarangnya buat Hadi.


γ€€


Sekarang tolong percaya. Kepalaku jadi tambah pusing, aku mau tidur.


γ€€


"Ya Tuhan, kasihan Leyaku. Iya, iya aku bisa mengerti. Pasti itu sangat membuat dia malu. Ditertawakan, padahal diakan tidak sengaja. Siapa orang yang menertawakannya, apa dia bilang? Biarku ajarkan sopan santun mulut mereka itu". Hadi tersulut emosi.


γ€€


Aduh...masih lanjut juga ya? Trus kapan aku bisa tidur, pusinggggg..hiks, hikss, hikssssssss.


γ€€


"Dia enggak bilang orangnya. Yang penting sekarang biarkan dia istirahat, tolong jangan ke rumah. Biarkan dia yang menghubungimu besok. Aku yakin besok dia pasti sudah baik-baik aja". Pinta Feya pada Hadi.


γ€€


Iya..jawab iyaaaaa...iyaaaa


γ€€


"Baiklah kalau begitu. Aku bisa mengerti perasaan Leya saat ini. Aku akan menunggu teleponnya besok. Makasih ya Fe, aku jadi tenang sekarang". Hadi pun mengalah untuk tidak mencari Leya ke rumah orang tuanya.


γ€€


Sukurlahhhh..


γ€€


γ€€

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2