TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 68


__ADS_3

KELOKASI


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


"Kamu senang beb?" Tanya Hadi sambil satu tangan masih mengenggam erat jemari Feya dan satu tangan lagi fokus pada stir kemudi.


 


"Iya". Jawab Feya jujur lengkap dengan senyum semeringahnya.


 


Hadi melirik ke arah Feya yang sukses menipu matanya, hingga membuatnya sangat yakin dan percaya kalau wanita yang tengah duduk di sampingnya itu adalah Leya sang tunangan. Satu kecupan mendarat indah di jemari Feya. Feya kembali terbuai dengan sikap lembut dan perhatian Hadi padanya. Lagi, wajah Feya sukses bersemu merah.


 


"Kamu cantik banget beb". Ucap Hadi tulus sambil menatap wajah Feya.


 


Kalau kamu tau aku adalah Feya, apakah aku masih cantik dimatamu kakak ipar?


 


Feya hanya diam, tidak menjawab sepatah kata pun pujian Hadi padanya. Jelas Feya bisa melihat kejujuran Hadi saat mengucapkan kata cantik tadi. Dan sebagai wanita normal yang selama ini di anggap kaku dan selalu gagal dalam masalah percintaan, tentu saja pujian Hadi tadi membuat Feya melambung bahagia.


 


Tetapi masalahnya Feya tahu, sangat tahu kalau pujian yang Hadi berikan tadi bukanlah untuk dirinya, melainkan untuk sang kembaran, Leya.


 


"Kenapa beb?" Hadi menyadari kalau wanita cantik yang duduk di sebelahnya itu sekarang terlihat diam.


 


"Eh, enggak papah sayang". Sadar Hadi mengetahui perubahan suasanan hatinya, Feya langsung merubah tampilan wajahnya. "Kita mau kemana sayang?" Sekarang Feya bersikap seakan-akan sangat penasaran.


 


"Kita mau menghabiskan waktu bersama". Jawab Hadi sambil mencolek hidung mancung Feya.


 


"Iyaaa, tapi kemana?" Sekarang Feya berpura-pura merengek manja.


 


"Idih jeleknya". Hadi mengomentari sikap penasaran Feya.


 


"Gambek ahhhh". Jawab Feya diikuti bibir yang monyong, mencebek.


 


"Hahaha". Tawa Hadi pun pecah. "Pasti bibirnya kangen sama bibir aku, mangkanya di monyong-monyongin gituh". Goda Hadi kemudian.


 


"Ih, kayak yang bisa aja". Feya pun membalas mengoda Hadi.

__ADS_1


 


Sepertinya Feya telah melakukan kesalahan besar, berani membalas candaan Hadi saat ini. Padahal, jangan di tanya bagaimana rindunya Hadi pada bibir lembut Leya sang tunangan. Jangan di tanya berapa kali Hadi berusaha melampiaskan rindunya pada bibir lembut nan manis itu, tetapi Feya selalu sukses menghindarinya. Dan sekarang mendapat tantangan dari Feya, Hadi segera menepikan kendaraan yang dibawanya.


 


"Loh kok berhenti sayang?" Feya binggung mendapati Hadi mendadak menepikan mobil dan berhenti.


 


"Mau menuhin keinginan Ny. Hadi". Jawab Hadi disertai kedipan matanya.


 


Kok perasaan aku enggak enak ya? Feya mulai memasang sikap waspada.


 


"Ke-kenapa?" Feya mulai berusaha melepaskan genggaman Hadi dari jemarinya.


 


"Ya kenapa lagi kalau bukan......", Hadi pun mulai mendekatkan wajahnya ke arah Feya, pelan, pelan.


 


Loh, kok jadi beneran sih?


 


"Sayanggggg, kamu mau ngapain itu?" Feya menarik jauh wajahnya dari Hadi.


 


"Kenapa menjauh beb?" Hadi malah heran melihat sikap Feya.


 


 


"Tenang beb, paling aku di paksa nikahin kamu kok", ucap Hadi sambil mengangkat bahunya acuh. "Aku iklas di paksa nikahin kamu, sangat malah".


 


Ka-kamun iya, aku? Leya? Ihhh.....aku gak mauuuuuu.


 


"Udah, becandanya nggak lucu". Feya sedikit panik. Di sangat yakin Hadi tidak akan gentar melanjutkan niatnya itu. Tetapi tidak bagi Feya, membiarkan Hadi mencium bibirnya saja Feya tidak mau, apa lagi kalau sampai menikahinya. Feya menolak semua hal tersebut.


 


"Yahhh..kok kamu jadi nggak suka gituh beb?" Hadi menatap binggung pada Feya.


 


Iyalah aku enggak suka..gimana sih?


 


"Sayang, aku bukan enggak suka. Tapi kamunya ituloh usil banget, suka godain aku terus. Udah ya, sekarang kita kemana? Kamu udah janjiloh". Feya berusaha mengalihkan Hadi dari topik pembicaraan yang tidak menyenangkan ini.


 

__ADS_1


"Ya udah, nanti saja kita lanjut ya". Jawab Hadi sambil menyelipkan senyum simpulnya. "Sekarang kita ke kawasan Zall Lestari 1". Mobil kembali berjalan.


 


"Loh, ngapain?" Feya heran mendengar jawaban Hadi. "Itukan kawasan tempat proyek terbaru kamukan sayang?"


 


"Iya benar. Gini beb, aku sama si pemilik property itu udah terlanjur janjian kemaren. Dia minta aku segera meninjau lokasi, supaya bisa segera memetakan persisi tema interior pada tiap kawasan. Gak cuma itu beb, dia juga minta aku mempelajari interior untuk villanya yang juga berada dalam kawasan itu". Jelas Hadi dengan wajah berseri-seri.


 


"Kalau gituh, ngapain aku di bawa sayang. Bagus kamu saja sendiri". Feya merasa tidak ada manfaatnya dia ikut serta.


 


Kalau tau tadi udah ku tolak. Bagus aku di rumah, libur sehari dari permainan ini.


 


"Jangan marah dong beb". Hadi berpikir arti ucapan Feya tadi adalah wujud tidak sukanya, sebab Hadi sudah berjanji akan bersama wanita yang dipikirnya adalah tunanganya itu untuk bersama seharian. Untuk membayar beberapa hari terakhir ini saat kesibukannya membuat mereka berjarak.


 


Yang marah siapa coba? Aku tuh merasa enggak manfaat deh ikut kamu ke lokasi kerjaan kamu. Ngerti enggak, konyol iya. Bagus aku di rumah aja, bebas mau ngapain.


 


"Aku enggak marah sayang". Feya berusaha mengeluarkan suara semanis mungkin terhadap Hadi, agar dia bisa percaya. "Cuma aku takut aja, nanti tuan pemilik propetty itu malah marah sama kamu. Kerja kok bawa aku?"


 


"Tenang beb, dia pasti enggak akan marah. Lagi pula kita cuma sebentar, paling satu jaman deh, setelah itu kita langsung pergi main. Kamu mau kemana beb? Aku siap jadi sopir kamu". Jawab Hadi sambil mengelus pipi Feya.


 


Feya memegang pipinya yang sesaat tadi sempat di elus oleh Hadi. Rasa tidak percaya, tetapi memang benar pipinya baru saja di elus oleh tunangan kembarannya.


 


 


***************


 


Tepat seperti prediksi Hadi, satu jam perjalanan lebih kurang, dirinya dan Feya telah sampai di kawasan Zall Lestari 1. Terlihat begitu banyak kondominium yang berjajar rapi, ada lebih kurang 15 bangunan dalam satu kawasan yang kemudian dipisahkan oleh jalan dan beberapa tempat duduk serta lampu jalan.


 


"Wah, pemandangan di sini bagus ya sayang". Feya memuji keasrian lingkungan di daerah tersebut.


 


"Kamu yakin suka?" Hadi menatap tidak percaya.


 


Astagaaaa, keceplosan. Aku lupa? kan lagi jadi Leya. Leya mana suka lingkungan seperti ini, diakan lebih suka yang glamor.


 


"Dari segi keasriannya jelas aku suka sayang, kawasan ini pasti punya nilai jual tinggi". Ucap Feya menutupi kesalahannya berkomentar tadi dengan sikap yang berlagak mengerti tentang dunia property.

__ADS_1


 


 


__ADS_2