
MENGHILANG
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
"Pergi !" Feya berjalan cepat ke arah pintu apartemen yang ternyata masih terbuka. Air mata masih mengalir di sudut matanya, Feya meremas kuat kain yang melekat di depan dadanya. Entah kenapa rasa sakit di dadanya belum juga hilang.
 
"Kenapa, aku salah apa ?" Dave mulai frustasi mendapati sikap Feya padanya.
 
"Pergiiiii !" Suara Feya kembali meninggi.
 
"Apa alasanmu mengusir aku ?" Rahang Dave mengeras, suaranya tidak kalah tingginya dengan suara Feya.
 
"Terserah kamu mau mikir alasan apa, yang jelas pergi. Keluar dari sini !" Cepat Feya menghapus air mata yang tidak bisa berhenti menetes.
 
"Kenapa kamu menangis ?" Sekarang Dave mulai melunak. Dave berusaha untuk tenang. Mendapati Feya yang menagis membuat hatinya tidak tega.
 
"Bukan urusanmu ". Jawab Feya ketus. "Pergi, aku mohon. Pergilah !"
 
"Tidak sampai kamu jelaskan ada apa. Apa salahku ? Tadi kamu baik-baik saja, sekarang kenapa kamu mendadak menangis ?"
 
"Aku sudah bilang, bukan urusanmu ". Feya memegang erat pintu apartemen Leya. Rasanya sekujur tubuhnya mulai lelah. Feya tidak menyangka berdebat dengan Dave bisa membuat dirinya seterpuruk ini.
 
"Oooo, kamu yakin bukan urusanku ?" Nada sinis terdengar dari suara Dave. "Setelah aku menyatakan perasaanku padamu, kamu terlihat marah dan sekarang menangis. Apa maumu Le ?" Dave berjalan kearah Feya.
 
Leya, Leya, Leya...hanya sosok Leya yang ada dalam pikiranmu. Ya Tuhan, kenapa sesakit ini.
 
Dave memaksa Feya melepaskan kedua tangannya yang bergantung kuat di pintu. "Lihat aku !" Feya menolak menatap Dave. "Demi Tuhan Leya. Lihat Aku ! Jangan uji kesabaranku ". Dave memegang dagu Feya, memaksa mata biru itu melihat hanya kepadanya.
 
"Lepaskan aku !" Feya terisak dalam tangisnya. Bahunya menguncang. Betapa Dave merasa sangat sedih mendapati wanita yang dicintainya begitu rapuh. Ada gambaran kepedihan di mata Feya.
__ADS_1
 
"Bilang ke aku. Apa salahku Le ? Kenapa kamu sedih ?" Dave memeluk erat Feya.
 
"Aku mohon bilang Le ! Ada apa ?" Dave terus membujuk Feya sambil membelai rambut panjang Feya.
 
"Lupakanlah semua ini Dave !" Feya berusaha bersuara di antara tangisnya.
 
"Tidak, aku tidak mungkin melupakan semua ini. Kamu sudah dengarkan isi hatiku, aku sudah jujur padamu. Aku cinta kamu Leya ". Feya meremas baju yang melekat di dada Dave, kepedihan di hatinya semakin menjadi mendengar Dave terus menyebut nama kembarannya.
 
Ya....aku tahu, aku dengar Dave. Kamu begitu mencintai kembaranku, bukan aku.
 
"Lupakan Leya, Leya milik Hadi ". Tangan Dave terdiam tanpa gerakan. Mendadak dirinya berhenti membelai rambut Feya.
 
"Kamu bisa meninggalkannya. Kamu tidak mencintainya !" Sambil merenggangkan pelukannya pada Feya, Dave berusaha mengajak Feya berbicara.
 
 
"Kamu, apa yang kamu tahu tentang cinta Leya dan Hadi, hah ? Kamu tidak tahu apa-apa. Jadi berhentilah berlagak seperti pangeran cinta yang seakan bisa menunjukkan kebenaran tentang perasaan benar dan salah seseorang. Padahal kamu sendiri tahu, perbuatanmu salah ". Feya terlihat menantang Dave.
 
"Iya, aku salah. Dan aku sudah mengakui itu padamu. Aku sudah bilangkan padamu tadi. Aku mengakui ini salah ". Dave mengacak rambutnya kesal. "Tapi cintaku enggak salah Le. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tulus cinta padamu. Lihat aku ! Aku cinta padamu ".
 
"Memaksakan cinta pada tunangan orang, berniat merusak hubunganya. Itu yang kamu bilang cinta ?"
 
"Ooo...jadi kamu yang hidup dalam kebohongan pura-pura cinta sama tunanganmu, itu yang kamu anggap cinta. Bertahan dalam perasaan palsu. Kamu yang enggan di sentuh tunanganmu, itu yang namanya cinta, iya ?" Amarah Dave terpancing.
 
 
"Cukup !" Feya membalik badan, dirinya sudah tidak sanggup lagi menghadapi Dave.
 
"Belum, aku belum cukup. Masih banyak yang ingin aku katakan agar kamu membuka pikiranmu !"
__ADS_1
 
"Pergilah Dave, aku mohon !"
 
"Tidak sampai kamu menerimaku !" Dave begitu gigih.
 
"Kamu mau Leya menerimamu ?" Tanya Feya getir.
 
"Ya ". Jawab Dave tegas.
 
"Maka jawabannya adalah tidak, tidak akan pernah ". Feya mengeleng.
 
"Kasih aku kesempatan Le !" Dave terdengar begitu mengiba. "Aku mencintaimu. Aku yakin kamu memiliki perasaan yang sama ".
 
Dave, kamu membuat posisiku sulit. Kamu memuja kembaranku Dave, bukan aku. Feya memeluk dirinya sendiri, begitu sedih hatinya berada dalam keadaan seperti ini.
 
"Bagi Leya, kamu bukan apa-apa ". Jawab Feya jujur. "Lupakanlah semua ini !"
 
Dave membalik tubuh Feya, "tatap mata aku !" Perintah Dave keras. "Tatap Le !" Dave menguncang tubuh Feya keras. "Bilang, ciuman kita, kebersamaan kita, semua itu tidak ada arti apapun bagimu !"
 
"Bagi seorang Leya, itu tidak ada arti apapun ". Kejujuran Feya membuat Dave refleks melepaskannya.
 
Dave berjalan mundur perlahan kearah pintu, pikirannya kacau. Mendapati sosok wanita yang dicintainya begitu keras menolak dirinya sungguh membuat perasaannya hancur. Dave bergegas meninggalkan apartemen Leya, tanpa menoleh apa lagi berpamitan pada Feya.
 
Feya terduduk lemas, mendadak badannya jatuh lunglai di lantai. Kepergian Dave begitu mengiris hatinya, jantungnya berdetak lambat. Feya merasa kehilangan separuh jiwanya.
 
Sambil bergantung di dinding Feya berusaha berjalan kearah pintu apartemen. Tekadnya sudah bulat, dia harus berkemas pulang ke apartemennya sendiri, dia harus menghilang. Semakin lama dirinya ada di dalam apartemen Leya, maka hatinya akan semakin sakit. Feya nyaris tidak sanggup lagi bertahan dia terus menangis.
 
 
__ADS_1