TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 74


__ADS_3

KEMBALI


🌹🌹🌹🌹🌹


 


"Si-siapa itu". Feya segera menjauh dari perangkap tangan Dave padanya. Suara berdehem keras tadi jelas pertanda mereka sedang tidak berdua saja. Ada manusia lain di lantai dua ini, siapa pun dia, yang terpenting sekarang. Apa dia melihat semua yang telah terjadi antara Feya dan Dave.


 


Dave melihat Feya telah menjauh darinya, rasanya Dave belum bisa melepaskan Feya begitu saja. Hati kecilnya menuntut Dave agar membahas semua kegilaannya tadi. Tapi, langkah kaki seseorang membuat Dave mengubur keinginannya itu. Dia harus memastikan siapakah gerangan orang yang ada di lantai dua selain mereka.


 


"Siapa?" Suara keras Dave bergema di setiap sudut ruang kosong di lantai dua.


 


"Saya tuan". Jawab Tomo yang terlihat senang menemukan keberadaan Dave dan Feya di balkon.


 


Tomo memandang Feya dari sudut matanya, jelas ada yang salah dengan Feya. Itulah hasil pengamatan sesaat Tomo. Kemudian, Tomo berusaha mencuri lihat wajah sang tuan. Apa arti aura itu tuan? Kesal pada sayakah? Atau kesal pada diri sendiri karena begitu berani mencium tunangan orang, sementara si tunangannya tengah menunggu dia di bawah?


 


Ya, Tomo adalah orang yang berdehem tadi. Ralat, lebih tepatnya sengaja berdehem untuk menyudahi adegan panas antara bibir sang tuan dengan bibir Leya. Ya, Tomo juga mengenal Feya dengan nama Leya.


 


 


***************


 


 


"Okeh, anda sudah mengerti letak-letak setiap kondominium tersebut Pak?" Tanya Tomo pada Hadi setelah mereka selesai mensurvey lokasi terakhir kondominium.


 


"Ya, semua sudah terbayang oleh saya. Tolong beri saya waktu dua hari, akan saya buat pemetaan sketsa berdasarkan desain yang telah saya presentasikan kemaren. Dan setelah selesai akan saya perlihatkan pada anda". Hadi terlihat sangat bersemangat.


 


"Baiklah, dua hari". Tomo sengaja mengulang jumlah hari yang di minta oleh Hadi, sekedar untuk mengingatkannya.


 


"Ya". Jawab Hadi sambil mengulurkan tangan Pada Tomo. Mengajak asisten pribadi Dave itu untuk berjabat tangan tanda sepakat.


 

__ADS_1


"Kalau begitu kita bisa kembali ke Villa?" Tanya Tomo kemudian.


 


"Iya, iya..saya rasa sudah terlalu lama meninggalkan tunangan saya. Mari kita kembali". Hadi mensetujui ajakan Tomo.


 


Tomo mempersilahkan Hadi naik, kemudian dia segera mengemudikan laju mobil yang tadi dipakainya untuk membawa Hadi berkeliling kawasan Zall Lestari 1, membawa dirinya dan Hadi kembali ke Villa megah milik Dave.


 


"Dimana Leya?" Hadi mulai melihat ke sisi kanan dan kiri halaman depan Villa mencari keberadaan sang tunangan, yang tidak lain adalah Feya maksudnya.


 


Tomo memarkirkan mobil, setelah itu berusaha mengejar Hadi. "Apa anda menemukan nona Leya?" Tanya Tomo saat telah berdiri tepat di depan Hadi.


 


"Tidak". Jawab Hadi masih berusaha melihat ke sana kemari.


 


"Mungkin di lantai dua". Tomo mencoba menerka. "Silahkan lihat-lihat dulu, bukankah tuan Dave juga meminta anda membuat desain untuk Villanya? Saya akan ke atas mencari nona Leya".


 


 


Tomo telah sampai di akhir anak tangga, melihat ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya melangkah semakin dalam sambil memperhatikan satu persatu pintu-pintu yang menutupi setiap ruangan di sana. Dimana tuan dan nona Leya? Tomo menulusuri pintu demi pintu, mendengar dengan seksama tanda-tanda suara manusia di sana. Enggak ada, dimana ya?


 


"Lihat aku!" Tomo mendengar dengan jelas suara Dave terdengar memberi perintah, dari balkon belakang lantai dua. Ooo, di sana tuan rupanya. Tomo melangkah dengan pasti mendekati asal suara.


 


Ehhhh..... Tomo menghentikan langkahnya, pemandangan yang tengah disaksikannya membuat otaknya sukses mencegah dirinya terus berjalan.


 


Apa-apaan itu? Tomo terlihat tidak percaya.


 


Iya, iya..menghindar nona. Anda yang waras, cepat menjauh dari tuan! Tomo sangat sibuk mengingatkan Feya.


 


Loh, lohhhh..tu-tuan. Tomo langsung berbalik, sadar dirinya tidak boleh menyaksikan semua, adegan antar Feya dan sang majikan.


 

__ADS_1


"Tuan tidak pernah selancang itu, jangankan kepada wanita yang berstatus tunangan orang. Kepada wanita yang jelas-jelas mengelayut di bahunya saja, tuan tidak akan semudah itu lepas kendali. Lantas tadi itu?" Tomo mencengkram kuat pagar pembatas tangga sambil memijat pelipisnya kuat, padahal kepalanya sedang tidak sakit. Tetapi entah kenapa, untuk saat ini Tomo memang perlu melakukannya. Setidaknya pijatan kuat di pelipisnya bisa membuat dirinya kembali tersadar. Apa yang harus dilakukan.


 


"Aku harus hentikan". Kemudian, "ehemmmmm". Penuh kesengajaan, Tomo berdehem keras dan berjalan bagai prajurit perang yang menghentakkan kaki hendak berangkat kemedan tempur.


 


"Tuan". Sapa Tomo sopan, berlagak semua baik-baik saja. Tidak lupa, lengkap dengan senyum yang di buat sealami mungkin.


 


Apa, apa tadi itu? Aku, bagaimana ini? Feya langsung berdiri membelakangi Tomo, memegang bibirnya, mencoba mengelap sesuatu di sana, tapi tidak jelas apa. Apa, apa Tomo melihat semua?


 


Kenapa aku bisa sejauh itu? Dave mengeleng tidak percaya.


 


Baiklah, tuan harus akhiri ini semua. Ini salah, tuan. Tomo.


 


"Tuan, saya sudah selesai membawa Pak Hadi berkeliling. Sekarang dia di bawah menunggu tunangannya". Tomo sengaja menyebut Feya dengan kata tunangan, sekedar untuk membuat tuannya dapat berpikir jernih kembali.


 


"Hadi?" Feya segera berbalik menatap Tomo. Mencoba menilai, Apa, apa Tomo melihat semua? Apa dia akan melaporkan semua ini pada Hadi?


 


"Permisi, saya mau kembali ke Hadi". Feya setengah berlari menuruni tangga, tanpa menoleh pada Dave walau sekejab.


 


Dave diam, memperhatikan Feya hilang, berlalu meninggalkannya dan Tomo. Sejujurnya Dave sudah sangat sadar sekarang, sadar kalau tadi dia benar-benar melakukan kesalahan besar. Andai Hadi tahu, semua pasti bisa berakhir sangat mengerikan. Tapi, entah kenapa mendengar bibir wanita yang baru saja diciumnya tadi menyebut kata Hadi. Dave merasa tidak senang, dia merasa....?


 


Dave sedang berusaha mencari padanan kata yang pas untuk mengambarkan perasaannya itu. Diam, berpikir, dan tidak menemukan jawabannya.


 


"Tuan, kita harus turun". Dave menatap Tomo dan ya, dia belum menemukan padanan kata yang benar untuk mengambarkan perasaannya saat ini. Yang jelas hatinya tidak suka kalau wanita cantik yang lancang telah di ciumnya tadi menyebut nama Hadi.


 


Sementara Dave merasa kesimpulannya itu telah cukup dan dengan diikuti oleh Tomo, mereka turun ke bawah.


 


 

__ADS_1


__ADS_2