
PANGGIL AKU DAVE
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Dave pada Feya. Dave tahu Feya tidak tidur, sehingga dia berani bertanya pada Feya.
 
"Kepalaku pusing". Jawab Feya tanpa membuka matanya.
 
"Iya itu wajar. Kata dokter kalau kamu sudah minum obatnya dan dapat beristirahat dengan baik, besok pagi pusingmu pasti hilang". Jelas Dave pada Feya.
 
Pelan Feya membuka matanya, mengerjab beberapa kali dan mencari dimana persisnya Dave, lelaki yang menolongnya berada.
 
"Terima kasih tuan, sudah mau menolong saya. Maaf saya merepotkan". Ucap Feya lirih saat beradu pandang dengan Dave.
 
"Namaku Dave Indra Barata, dan panggil Dave saja. Dan kamu jangan sungkan, aku sama sekali tidak repot kok". Dave memberi senyum simpulnya sebagai bukti ucapannya pada Feya.
 
"Aku Fe, eh..Leya Zaniya Malaika, panggil Leya". Dengan terpaksa Feya mengaku sebagai Leya.
 
"Aku antar kamu pulang? Kata dokter, kamu sudah boleh pulang, gak perlu opnam". Deva memberitahu Feya.
 
"Iya". Jawab Feya singkat.
 
"Aku akan mengendongmu, pejamkanlah matamu untuk mengurangi efek pusingnya". Dave memberi arahan pada Feya.
 
Dave mengendong Feya membawanya keluar dari ruang pemeriksaan dokter, mengendong Feya ke arah lobi.
 
__ADS_1
"Tuan". Sapa Tomo, laki-laki yang tadi mendapat perintah oleh Dave untuk membawa mobil Feya.
 
"Ikuti aku, bawa mobil nona ini". Perintah Dave pada Tomo.
 
"Baik tuan". Jawab Tomo dengan patuh.
 
Tomo pun berjalan cepat di depan Dave, membukakan pintu Rumah Sakit agar Dave leluas melangkah apa lagi dengan kondisi tengah mengendong Feya. Saat mobil Dave telah sampai di teras Rumah Sakit, Tomo membukakan pintu mobil bagian belakang.
 
"Kemana aku mengantarmu pulang?" Tanya Dave pada Feya saat telah memastikan Feya telah ada dalam posisi nyaman.
 
Kemana ya? Ke rumah Leya atau ke rumahku? Tapi akukan sekarang lagi jadi Leya, lagi bermain peran, toh aku juga dikenalannya sebagai Leya. Jadi kerumah Leya sajalah. Lebih aman.
 
Feya pun menyebutkan alamat apartemen Leya pada Dave, lengkap dengan lantai berapanya. Dave menganggukan kepalanya tanda mengetahui lokasi tersebut.
 
 
"Ya tuan, saya tahu". Jawab Tomo.
 
"Kalau begitu, bawa mobil nona Leya ke rumahnya". Perintah Dave kemudian.
 
"Baik tuan". Tomo membungkuk memberi hormat sebelum menutup pintu mobil tuannya. Kemudian, Tomo memberi perintah kepada sopir untuk melajukan mobil tersebut ke alamat yang telah diperintahkan, sedang di sendiri akan mengikuti dengan membaw mobil Leya.
 
Tenang, mobil milik Leya yang tengah di kemudikan Tomo mengarah ke apartemen Leya. Sambil mengemudi, Tomo berusaha mencari tahu ada apa sebenarnya semua kejadian ini?
 
Tadi nona itukan menabrak tuan saat masuk kerestoran, anehnya tuan malah terkejut. Seakan-akan tidak percaya setelah melihat wajah nona itu. Lah si nonanya malah biasa aja, seperti tidak kenal. Sekarang malah nona itu terlihat sangat tidak berdaya, sangat lemah. Dan tuan malah membantunya, dengan panik membawa nona ke Rumah Sakit. Mereka itu ada apa ya? Ada hubungan apa? Aneh...
 
__ADS_1
Mobil yang di kemudikan Tomo telah di parkir di bassment apartemen, dirinya pun menyusul Dave naik ke lantai lima belas tempat apartemen yang di tuju oleh Dave.
 
"Dimana kamarmu? Tanya Dave saat dirinya dan Feya telah berada di dalam apartemen Leya.
 
"Di atas". Jawab Feya sambil menunjuk arah kamar Leya.
 
Dave dengan sangat hati-hati menurunkan Feya di tepi tempat tidur, memastikan Feya tidak akan mengeluh sesuatu atas rasa tidak nyamannya.
 
"Coba kamu buka matamu? Pelan-pelan ya? Kira-kira apa yang kamu rasakan?" Pinta Dave pada Feya sambil tangannya terus memegang kuat jemari Feya.
 
Dengan patuh Feya membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya, menunggu apa yang kira-kira akan dirasakannya.
 
"Masih pusing, perutku juga enggak enak". Keluh Feya pada Dave.
 
"Wajar, kamukan belum minum obat. Sekarang kamu ganti baju dulu ya, aku ambilkan air hangat buat kamu minum obat, setelah itu kamu tidur. Besok kamu pasti sudah sehat lagi". Dave memberi banyak petunjuk pada Feya.
 
Feya hanya mengiyakan saja petunjuk Dave dan membiarkan lelaki itu kembali mengendongnya hingga sampai kedepan kamar mandi.
 
"Bisa sendiri?" Tanya Dave ragu.
 
"Bi-bisa". Jawab Feya tidak kalah ragu. Tetapi mana mungkin Feya berani bilang tidak, walaupun kepalanya amat sangat pusing dan kondisinya sangat lemah, tetapi mana bisa Feya membiarkan lelaki yang tidak dikenalnya melihat dirinya di kamar mandi.
 
"Aku kebawah ambil air hangat buat kamu. Aku sebentar kok, kalau kamu kenapa-napa, butuh bantuan aku, teriak ya!". Perintah Dave.
 
 
__ADS_1