
KABAR TENTANG FEYA
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
"Tuan, istirahatlah dulu ". Tomo mendekat ke arah Dave yang masih terus berdoa di dalam hatinya, Dave terus bermohon dan bermohon, memohon kebaikan sang Maha Kuasa agar memulihkan Feya segera.
 
"Aku di sini saja ". Tolak Dave tanpa memandangi wajah Tomo.
 
"Mamanya tuan sangat cemas, beliau terus bertanya tentang keberadaan tuan ". Tomo merasa begitu iba pada sang majikan. Belum pernah seumur-umur dirinya mengabdi pada Dave, Tomo melihat sosok lelaki sukses dan memiliki harta yang entah bagaimana cara menghitungnya ini begitu berduka, kesedihan yang sangat nyata dan mendalam. Tomo merasa sangat kasihan.
 
"Bagaimana kalau tuan pulang sebentar, istirahat. Saya akan menjaga nona Feya di sini ". Usul Tomo yang langsung di sambut gelengan kepala tegas dari Dave.
 
"Kamu pulang saja Tom, aku mau di sini saja !" Dave masih saja berbicara tanpa memandang pada Tomo.
 
"Tuan ". Tomo berencana masih ingin membujuk sang majikan, tetapi....
 
"Jangan ganggu aku Tomo, aku ingin bersama Feya. Aku ingin dia tahu kalau aku sangat mencintainya. Feya harus pulih Tom, dia harus kembali padaku ". Tomo menyentuh bahu Dave. Perasaan iba mengelayut matanya.
 
"Baiklah tuan, tapi kalau ada apa-apa saya duduk di belakang tuan ". Ucap Tomo yang hanya di respon diam oleh Dave.
 
"Tuan ", sebelum melangkah meninggalkan sang majikan, kembali ke sofa tempatnya di awal. Tomo menyempatkan diri bersuara sekali lagi. "Tuan adalah orang baik. Saya percaya, Tuhan akan mengabulkan doa tuan. Tuan jangan pernah ragu, nona Feya pasti akan baik-baik saja. Percayalah tuan ".
 
Dave mengaminkan semua penuturan Tomo, matanya masih menatap wajah pucat yang belum membuka mata biru gelapnya itu. Dalam hati Dave masih saja bermohon, doanya belum putus, permintaannya masih sama.
__ADS_1
 
Tomo telah kembali ke sofa, mencoba duduk tenang, padahal hatinya sama ketakukan seperti sang tuan. Tetapi satu hal yang Tomo tahu, sang majikannya itu memang orang baik. Dan Tomo percaya, Tuhan pasti mengabulkan doa orang baik.
 
Beberapa saat berlalu, keheningan tercipta diruangan itu. Hingga kemudian Tomo merasa getaran di saku celanannya, handphonenya sedang memangil dirinya.
 
Cepat Tomo menerima panggilan masuk yang berdasarkan nama di layar, Tomo langsung tahu kalau ibunda sang majikanlah si peneleponnya di ujung sana.
 
"Bagaimana ?" Tanya Mamanya Dave penuh harap.
 
"Belum ada perubahan nyonya, masih sama ". Ucap Tomo pelan. Membuat wanita paruh baya yang telah tahu persis peristiwa yang menimpa Feya menutup erat mulutnya.
 
"Dan Dave ? Bagaimana dia ?" Suara sang nyonya penuh kesedihan.
 
 
"Dave sangat mencintai gadis itu Tom ?" Tanya sang nyonya dalam duka.
 
Tomo memilih diam, karena dirinya tahu kalau Ibunda dari majikannya itu bisa merasakan betapa besar rasa sayang sang anak pada gadis cantik bermata biru itu.
 
"Tom, apakah orang tua Feya sudah tahu keadaannya ?" Beberapa detik berlalu, hingga Tomo tersadar. Tidak ada satupun orang yang ingat mengabari keluarga Feya tentang musibah yang menimpa dirinya.
 
"Maafkan saya, nyonya. Saya lupa tentang hal itu ". Ucap Tomo penuh penyesalan.
 
__ADS_1
"Biar, biar saya yang mengabari mereka. Kamu tolong berikan saya nomor teleponnya ! Saya yang akan mengabari mereka !"
 
"Baik nyonya ". Ucap Tomo patuh. "Saya matikan teleponnya dulu dan saya akan langsung mengirimi nyonya nomor ayahnya ".
 
Hingga beberapa detik berlalu, benar saja. Mamanya Dave langsung menerima notifikasi pesan di layar handphonenya, beberapa deret angka tersusun di sana. Cepat, wanita yang sangat menyayangi anak sulungnya ini menelepon Papanya Feya, Mama Dave sedang berusaha menjadi penghubung untuk menjelaskan keadaan Feya pada kedua orang tuanya.
 
 
********************
 
EPILOG....
 
Secepat yang mereka bisa, setelah pihak bandara memberi izin terbang. Pesawat pribadi milik tuan Maladi segera berangkat, mengudara di angkasa bebas, memecah awan malam untuk terbang ke arah sang putri mereka yang sedang terbaring tidak berdaya.
 
Sang isteri, Mamanya Feya menangis terus tiada jeda. Benar saja semua isi firasatnya kalau Feya sedang tidak baik-baik saja. Hatinya menciut, Mama mulai takut kalau Feya akan pergi dari kehidupannya. Sang suami, Papanya Feya hanya bisa merangkul isteri terkasih. Berusaha menyemangi wanita yang sudah begitu baik melahirkan anak gadia kembar untuknya. Sejujurnya ketakutan akan kehilangan Feya pada diri sang Papa sama besar dengan isterinya. Tetapi untuk saat ini, Papa hanya bisa memeluk Mama dan berbisik kata, "Feya pasti baik-baik saja. Percayalah !"
 
Sementara itu sang kembaran Feya, Leya. Menutup matanya di dalam pelukan Hadi. Jatungnya masih merasakan keberadaan detak nadi Feya, tetapi entah kenapa. Kata hati Leya mengatakan kalau Feya sangat lemah, Feya seakan sedang melayang jauh meninggalkan dirinya. Terbang entah kemana, membuat Leya rindu sosok penyayang kembarannya yang selama ini selalu ada buat hari-harinya.
 
Leya meremas keras kemeja Hadi, membuat Hadi berusaha menyerap semua duka tunangannya itu. Hadi tahu kalau Leya bisa merasakan sesuatu pada kembarannya, tetapi Hadi tidak tahu cara membuat Leya bisa percaya kalau Feya akan baik-baik saja.
 
Jadilah suasana malam di dalam pesawat yang terus saja tebang ke negara tetangga itu sangat mencekam, semua berduka, semua tengalam dalam perasaan terdalam masing-masing. Tetapi satu yang pasti, dalam derai air matanya, semua sedang berdoa, memohon penuh cinta pada Maha Pemilik Segalanya agar berkenan membuat sosok terkasih dalam hidup mereka kembali pulih seperti sedia kala, berkumpul lagi bersama dan berbahagia lagi bersama.
 
Sungguh, semuannya sedang bermohon hal yang sama untuk Feya di sana. Bermohon kesembuhan Feya.
__ADS_1