
Halo kakak semua ... Author promo karya baru author dulu ya. Rencana kemarin mau nulis expart Nesya dan Pak Arendra ... Tapi, level author turun dari 5 ke 3, bikin usaha rajin update author tidak dibayar. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ aduh ... Sampai males nulis.
"Cepat serahkan uangnya!" rambut Andah tengah ditarik oleh Inggrid, sang ibu tiri yang selalu memperlakukan Andah dengan kasar.
Andah baru saja pulang dari tempat kerja, langsung disambut dengan bentakan oleh istri kedua sang ayah. Andah mengeluarkan beberapa lembar uang merah hasil kerjanya sebagai penari malam di sebuah klub khusus pria dewasa.
"Hanya segini?" Inggrid membelalakan matanya menarik pakaian Andah.
"I-iya, Bu. Hanya segitu."
"Bohong!" Inggrid mengguncang tubuh Andah. "Cepat serahkan sisanya!"
Dengan kasar sang ibu tiri meraba sesuatu di dalam bra Andah. Dia pun menemukan beberapa lembar lagi lalu mendorong Andah.
"Bu, itu buat biaya kuliah aku."
"Kamu bisa mencarinya lagi esok! Biaya perawatan ayahmu sangat mahal tau nggak?" Inggrid masuk ke kamar langsung mengunci pintu. Sementara Andah hanya bisa termangu sendirian di depan pintu.
*
*
*
"Aah, gak bisa diakses!" rutuk Andah mencoba membuka akun pendidikannya mencoba mendaftar ulang secara online. Lalu sebuah notifikasi muncul pada akun akademik perkuliahannya.
Anda belum membayar uang SPP semester kedelapan. Silakan lakukan pembayaran!
"Huuuuufffttt ...." Andah hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tengah duduk di halaman kampus di gazebo luas yang ada di sana.
Seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya, duduk sembari menaruh tangannya di pangkal paha Andah. Secara refleks Andah menginjak kaki pria yang tidak sopan itu ditambah dengan hadiah sebuah tamparan manis. Bunyi tamparan tersebut sungguh menggentarkan hati yang mendengarnya.
"Dasar kurang ajar!" desisnya dengan wajah marah.
Pria yang tak lain adalah teman kuliahnya mengelus pipi yang terasa sedikit panas usai mendapat tamparan. Laki-laki itu bernama Tama. Dia adalah anak seorang manajer di sebuah perusahaan jasa konstruksi yang ternama.
"Sudah lah Andah, lu jangan sok jual mahal begitu! Gue rela bayar lu berapa pun asal lu mau nemenin gue malam ini!"
Ucapan Tama tersebut membuat Andah geram. Dia memilih mengangkat laptop, memasukannya ke dalam ransel, dan pergi.
"Lu jangan sok jual mahal! Lu butuh duit yang banyak buat kuliah kan? Atau lu nikah aja sama gue! Gue akan jamin hidup lu dengan uang bapak gue!"
Andah terus berjalan sembari ngedumel di dalam hati. 'Dikira nikah itu mudah apa? Dia pikir aku ini apa? Hah ... Dibiayai dengan uang bapaknya? Emangnya aku ini istri bapaknya?''
__ADS_1
Saat malam datang, Andah sedang menyiapkan diri demi penampilan sebagai penari bagi para pria dewasa. Pakaian yang digunakan Andah sungguh sangat berbeda dengan tampilan sehari-harinya.
Di sini Andah terpaksa mengekspos tubuh yang selalu ditutupi. Andah menambah bantalan di bagian dada agar mampu membuat para pria dewasa yang menyaksikan tariannya jadi semakin terpesona.
"Gimana, Ndah? Udah jadi bayar SPP?" tanya Kak Yana, seseorang yang selalu melindunginya di tempat itu. Setiap ada yang ingin booking Andah tampil secara pribadi, maka Yana lah yang akan menggantikan posisi itu.
Yana sudah terbiasa akan pekerjaan yang dilakoni ini semenjak sepuluh tahun terakhir. Dia sudah terjun pada pekerjaan ini semenjak tamat SMA. Sementara Andah, baru beberapa bulan bekerja seperti ini. Di mana dia sebagai atlet wushu telah dilupakan dan tidak digunakan lagi.
Sebagai atlet wushu yang terlupakan, tak ada lagi job yang memberikannya uang. Namun tuntutan sang ibu tiri membuat Andah terpaksa memindahkan keahliannya dalam bela diri wushu menjadi penari yang berputar pada sebuah tiang besi.

"Waah ... lalu rencana selanjutnya bagaimana? Batas pendaftarannya sampai kapan?"
Andah kembali menghela nafas. "Itu lah, Kak. Tinggal dua hari lagi sih, tapi aku tidak memiliki uang sama sekali. Ibu tiriku selalu mengambil uang hasil kerja kerasku."
Yana terlihat prihatin dengan keadaan Andah. Beberapa waktu lalu, dia lah yang mengajak Andah bergabung bekerja di sini. Kala itu dia menemukan Andah tengah berputus asa dengan keadaan.
"Kamu pakai uangku saja, Ndah? Lagian aku banjir job karena kamu juga." tawar Yana.
"Aku takut berhutang, Kak. Aku khawatir tidak bisa membayarnya."
prok
prok
prok
"Andah! Make up mu tak terlihat! Cepat ditambah lagi! Yana, kamu bantu dia dandan!!"
"Baik, Mih!" Yana mengambil perkakas kecantikannya segera menambah ketebalan bedak dan pewarna pada wajah Andah.
Beberapa waktu kemudian, tepat pukul 22.00 WIB, musik DJ mengalun diiringi tarian ero tis para penari-penari seksi yang keluar dari peraduannya.
Tubuh para penari-penari seksi itu meliuk di sepanjang tempat yang tersedia. Ada beberapa penari yang sengaja berjalan di hadapan para tamu. Mereka beratraksi lebih dekat dengan para pria yang haus akan kemolekan tubuh para wanita cantik itu.
Namun, mereka dilarang untuk menyentuh para penari tersebut. Kecuali jika mereka menyewa penari secara eksklusif di ruangan VIP maupun VVIP.
Penampilan yang paling dinantikan oleh kaum pria yang kelaparan itu adalah aksi sang primadona yang selalu menghindar bila ingin dibayar secara eksklusif. Aksi dari penari yang satu-satunya perawan di antara yang lainnya, ialah Suny. Suny adalah nama panggung Andah sebagai penari malam ini.
Tubuh Andah yang ramping dan indah, tengah asik meliuk-liuk berpegangan pada tiang. Kaki Andah menjepit tiang lalu tangannya dilepaskan, kemudian tubuh indahnya meliuk beratraksi pada tiang tersebut.
"Suny ... I love you!" teriak salah satu pria melemparkan uang pada panggung tersebut.
Seseorang di sebuah posisi menyaksikan penampilan Suny. Dia merasakan sesuatu terpendam tengah menegang. Dia berhalusinasi tengah mengecap indahnya tubuh itu.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian usai tampilan bersama, Mamih Lova menarik Andah. Andah tergopoh mengikuti langkah kaki Mamih Lova.
"Ada apa, Mih?" tanya Andah heran.
"Saya dengar tadi kamu lagi butuh uang buat bayar kuliah semester terakhirmu kan?"
Andah mengangguk sedikit ragu. Dia seakan membaca keinginan Mamih Lova yang terus membujuknya untuk menerima penampilan ekslusif terhadap pelanggan VIP. Dia dijanjikan mendapat uang yang besar jika berhasil membujuk Andah.
"Mih, aku mau menari secara ekslusif ... asal tidak sampai anu. Kalau dia minta itu, aku serahkan sama Kak Yana boleh?"
Mamih Lova terlihat berpikir sejenak. "Nanti pinter-pinter kamu aja!"
Lalu Andah berjalan ke ruang VIP nomor satu seperti yang dikatakan Mamih Lova tadi. Dengan perasaan ragu, dia menarik kenop dan membuka pintu. Netra Andah langsung membulat mendapati sang penyewa adalah Tama, teman kuliahnya sendiri.
"Halo, Sayang. Akhirnya kamu datang juga." Tama langsung menyambut Andah, mengecup pipi meraba bagian sensitif milik Andah.
Andah langsung mendorong Tama dan memutar tangan pria itu langsung menguncinya ke belakang. "Kurang ajar! Kau pikir kau siapa!"
"Hahaha, aku adalah pria kaya yang akan membayarmu, Sayang! Ayo kita habiskan malam ini berdua! Aku akan memberi bayaran tinggi!"
bugh
Sebuah kepalan mendarat di ulu hati Tama. "Gue ini penari! Bukan pela ..cur! Cam kan itu!" Andah beranjak membuka pintu dan keluar.
"Heh, wanita sia** lan! Awas kau! Kau akan di-DO dari pihak kampus! Gue udah rekam aksi lu tadi!" teriaknya.
Namun Andah tidak memedulikan teriakan Tama. Dia bergerak masuk dan duduk di ruang ganti, menghitung uang yang didapat hasil saweran pria hidung belang saat aksinya di panggung tadi.
Mendengar Andah kembali meng ani aya pelanggan kembali, Mamih Lova memarahi Andah menyuruh gadis itu pulang duluan.
"Tapi, Mih? Uangku masih dikit," rajuknya.
"Saya tak mau tahu! Kamu membuat saya rugi karena harus membayar biaya pengobatan pelanggan—"
"Tapi, Mih ... Aku lagi butuh banyak uang?" bujuknya.
Mamih Lova hanya mengibaskan tangannya mengusir Andah. Andah segera mengganti pakaian. Dengan sedikit mendengkus kesal, dia meninggalkan klub pria dewasa tersebut.
Uang yang didapat tidak banyak, membuat Andah memilih untuk pulang berjalan kaki karena lokasi tempat kerjanya tidak terlalu jauh dari rumah. Saat melewati jalan yang cukup gelap, kaki Andah tersandung benda besar yang biasanya tidak ada.
Andah jatuh menimpa benda tersebut. Terdengar lenguhan suara pria membuat Andah cepat-cepat bangkit. Dia mengeluarkan ponsel dan menyalakan senter, langsung menyigi mencari tahu apa yang baru saja ditimpanya.
"Aaaagghhh ...." Andah berteriak melihat sebuah tubuh yang penuh dilumuri darah tergeletak begitu saja.
...***...
__ADS_1