
Bismillah ... Bulan ini Nesya dan Bang Aren aku tamatkan ... Maaf ya, jika ceritanya terkesan mencla mencle ... wkwkwkwk ... Kadang otak gak singkron gara-gara Author nulis sana sini ... Tapi mohon dibaca sampai selesai ya kakak ... Bantu Author yang kejatuhan level lagi buat naik level bulan januari. Dibaca sampai selesai 🙏
...****************...
"Duuh, kok aku malah betah sakit begini ya? Kamu jadi jinak seperti kucing begini tanpa ngeyel," ucapnya membuat air mata ini terus terjatuh tanpa henti.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanyanya.
"Nggak, aku nggak apa. Hanya aku sedang merasakan rindu." Aku tidak bisa mengatakan apa yang aku ketahui. Aku hanya bisa menyimpan semuanya sendiri.
Mas Aren mengusap pundakku. "Udah begini masih rindu, aku kan tidak pergi meninggalkanmu untuk selama—"
Mulutnya langsung aku jepit. "Jangan bicara begitu. Kamu tidur tidak bangun selama seminggu lebih saja aku sudah tidak kuat. Aku tidak tahu bagaimana jika nanti kamu malah pergi dariku untuk selamanya."
Mas Aren tersenyum dan mengankat tangannya. Tangannya meraba angin dan aku mendekat agar ia tidak mencurigai bahwa aku telah mengetahui segalanya. Tangannya megusap pipiku dengan lembut, dan mengusap kepalaku.
"Aku juga belum mau menjadikanmu janda untuk kedua kali. Aku ingin kamu menjadikan aku sebagai pendampingmu di saat hari kebangkitan nanti."
Aku merasakan cambukan keras di dalam jantung ini. Aku tidak tahu harus berkata apa. Kedua tanganku refleks terangkat mengusap kedua pipi di wajah tampan itu. Aku berjanji akan menjadi matamu di dalam diam ini.
"Yang, badanku gatel. Apa aku sudah boleh mandi?" tanyanya.
"Tunggu ya, aku cek dulu gimana keadaan lukamu." Aku buka pakaiannya dan memeriksa bagian-bagian luka pada tubuhnya. Pada tangan dan kaki telah mengering.
"Wah, kepalanya masih belum bisa disiram."
"Waaah, gimana dong? Aku kan mau—"
Pipinya aku cubit. "Emang ya? Laki-laki itu tak ada matinya kalau udah kepengen? Sakit gini masih inget yang itu."
"Iya ih, ini udah lama puasa tau nggak? Dia kan harus rutin dikeluarkan."
"Iih ... Nanti aah, tidak mungkin di sini juga kali."
Lalu bibirnya terulas senyum jahilnya.
*
*
*
Beberapa hari kemudian, dengan drama yang sama-sama masih kami jalani, aku memegang tangan Mas Aren. Hari ini dia sudah bisa dibawa pulang dan jelas sekali aku melihat ia berjalan dengan wajah canggungnya.
Matanya memang terbuka dengan lebar, tetapi mata itu hampa tanpa cahaya meski bibirnya tersenyum. Wajahnya terlihat sangat tampan kala tersenyum itu, dan aku sangat menyukai senyumannya yang manis itu.
Bapak membantuku membawakan peralatan kami. Kami semua memilih menggunakan taksi online karena kendaraan suamiku memang masih dalam tahap perbaikan. Kerusakannya sungguh sangat parah.
Meskipun masih dalam keadaan terkredit, pihak asuransi hanya menjanjikan 75% untuk biaya perbaikan. Tidak apa lah, aku akan membantu biaya tambahan. Atau mungkin dijual lagi dan beli mobil yang ukuran kecil saja.
Aku baru ingat keadaan suamiku. Sepertinya kali ini kami lebih membutuhkan kendaraan roda empat itu. Suamiku tidak mungkin membawa kendaraan lagi untuk sementara. Ah, aku harus bisa mengendarai mobil juga.
Semua urusan cuti suamiku, aku yang mengurusnya. Lalu, Bu Yenni melirikku yang mengurus cuti tersebut.
"Berarti Pak Rendra sudah turun dari jabatan sebagai Ketua Program Studi?"
"Iya, Bu. Suamiku untuk sementara belum bisa masuk karena kondisinya belum bisa mengajar kembali hingga waktu yang tidak ditentukan. Oleh sebab itu, saya mengajukan cuti besar untuknya."
"Semoga dalam tiga bulan ini semua bisa kembali dengan normal."
"Oh ... Ya udah, nanti saya saja yang menggantikannya menjadi Ketua Prodi." ucapnya tanpa rasa simpati.
"Terserah Ibu saja," ucapku juga seolah tak peduli. Lagian aku juga lagi tidak bisa kuliah dulu. Mungkin setelah anakku berusia satu tahun, aku akan melanjutkan kuliah nanti.
Kepala udah senut-senut, mikirin masa depan nanti. Namun, ya ... Harus dijalani bagai air yang tidak bisa dihentikan alirannya.
Aku kembali mengurus segala hal untuk cuti suamiku. Beruntung sekali dua calon bayi di dalam rahim ini sangat kuat, seperti Elena dulu. Setiap dalam kondisi hamil, terpaan masalah besar selalu melanda. Ya, aku tahu. Tuhan mengira aku adalah orang yang kuat. Oleh karena itu, aku harus benar-benar menjadi kuat.
Setelah semua usai, aku pulang ke rumah. Namun, aku tidak menemukan suamiku. Ke mana dia?
"Apa Bapak melihat Mas Aren?"
"Ooh, bukannya dia sudah memberitahumu kalau ia mau ke rumah sakit?"
Hal mengejutkan ini sungguh di luar dugaanku. "Emang dia pergi dengan siapa? Pakai apa?"
__ADS_1
"Dia pergi sendirian, naik taksi online."
Waduh, apa dia bisa? Aku langsung balik kanan. "Aku akan menyusulnya."
Setengah berlari aku menuju motor yang aku gunakan tadi. Tanpa berpikir panjang aku langsung tancap gas menuju rumah sakit. Ini sungguh di luar nalar, pria yang baru saja mengalami kehilangan penglihatan, berani pergi sendirian tanpa mengatakan apa pun padaku.
Sampai di parkiran, aku melihat dia berjalan sambil memegangi dinding koridor rumah sakit. Di sampinya terlihat dokter yang sering menanganinya terdengar memandu apa yang harus dilakukannya.
Mas Aren meraba setiap yang ia lewati. Dia melangkah perlahan dan entah apa yang mereka lakukan.
"Coba kita ulangi dari sini. Lokasi ini tepat dekat dengan parkiran. Coba Anda melangkah tanpa berpegangan lagi! Bagaimana cara jika ada orang lain yang datang dari arah yang berlawanan?"
Suamiku memutar punggungnya. Ia berjalan perlahan, kali ini aku paham karena ia sedang menghitung jumlah langkah yang akan ia tapaki di koridor ini. Aku perhatikan dari jauh, mereka bolak-balik dan ketika ada orang berjalan dari lawan arah, ia memilih berhenti. Hingga orang yang datang dari arah sebaliknya memilih berbelok dengan sendirinya.
"Nah, bagus. Lalu bagaimana dengan istri Anda? Apa Anda yakin dia tidak menyadari bahwa Anda ini sedang buta?"
Suamiku terlihat tertunduk. "Entah lah, sekarang aku sudah tidak yakin dia tidak mengetahuinya. Ia selalu terdengar sedih, tetapi pura-pura bahagia padahal ia sebenarnya ia menangis."
"Aku berpikir, sebenarnya dia tahu. Namun, ia pura-pura tidak tahu. Tapi entah lah. Aku harap apa yang aku pikirkan ini salah."
Dokter itu meletakkan tangannya pada pundak suamiku. "Semoga kondisi Anda segera pulih. Jika sudah pas, kita akan melaksanakan operasi kembali. Tapi seperti yang saya katakan, Anda harus mendapat izin dari pasangan."
Mas Aren terlihat menghela napas. "Aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya padanya. Apa Dokter tidak bisa melakukannya tanpa izin dari dia? Anggap saja aku ini pria single yang sebatang kara tidak memiliki keluarga hingga aku bisa mendapat izin operasi tanpa mengatakan kepada siapa-siapa."
deegh
Kenapa dia malah berbicara seperti itu?
"Apa ada kemungkinan aku bisa menglihat lagi tanpa harus melakukan operasi?"
Dokter tersebut terlihat melipat kedua tangan pada dada. "Kali ini penglihatan Anda terkendala karena saraf-saraf pada pembuluh mata Anda mengalami luka dan pendarahan."
"Operasi itu bertujuan agar untuk memulihkan dan memperbaiki kondisi pada saraf mata Anda. Jika ini terjadi pada anak kecil, karena regenerasi pada tubuhnya sangat cepat, bisa jadi bisa sembuh dalam waktu yang cepat."
"Namun, kondisi Anda sudah cukup dewasa, membuat regenerasi pemulihan pada diri sendiri bisa dikatakan menjadi lebih lambat."
Dokter tersebut mengusap dagunya. "Bisa saja kok, apalagi jika ada keajaiban. Semua bisa lebih cepat lagi."
Baru saja aku mendengar apa? Sebuah berita yang membuatku senang, meskipun itu hanya baru sebuah opini. Keajaiban? Aku rasa, kami membutuhkan keajaiban itu.
Suamiku melanjutkan latihan berjalan selayaknya manusia normal. Ia berusaha berjalan tanpa memegang apa pun dan memilih berhenti saat ada yang berjalan dari arah yang berlawanan. Hal itu terus dilakukan hingga ia terlihat yakin bisa melakukannya sendirian.
"Setelah ini, aku ingin kamu mengajarkanku cara memesan taksi online." Ia menyerahkan ponsel kepada sang dokter.
Dokter itu terkekeh dan menekan-nekan ponsel suamiku. "Nah, ini kontak istri Anda dan taksi online akan saya letakkan pada bagian beranda paling depan. Anda bisa memesan taksi online lewat voice. Saya sengaja meletakkannya pada pojok kanan atas, dah kontak istri Anda pada pojok kiri atas. Jadi, Anda bisa menekan itu saja bisa melakukan aktifitas menggunakan ponsel ini." Dokter menyerahkan ponsel milik suamiku lagi. Terlihat ia sedang menekan-nekan ponselnya dan membuat ponselku bergetar.
Suamiku terlihat sumringah dengan apa yang dilakukannya. Aku segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Mas."
"Bagaimana, Sayang? Apa urusan cutiku udah beres?"
"Ah, ini lagi kuurus, Mas. Kamu lagi di mana, Mas? Kok rame?" Akhirnya aku hanya bisa melanjutkan pura-pura tidak mengetahui segalanya.
"Aku di rumah kok, lagi nonton tivi."
"Ooh, gitu. Kamu udah makan, Mas? Aku mau pulang. Mau dibelikan apa?"
Dia terlihat kelabakan. "Oh, mau pulang. Apa ya? Nasi padang yah? Sepertinya aku kelaparan banget. Pengen makan porsi besar."
"Oh, gitu. Baik lah. Aku akan membelikan nasi padang buat semua yang ada di sana."
"Kamu hati-hati ya? Aku tunggu. Love you."
"Love you too."
Panggilan ditutup dan ia terlihat dengan wajah panik. "Dok, aku harus kembali. Istriku akan pulang. Ia tidak tahu aku ke sini."
Lalu ia terlihat memencet ponselnya lagi. "Untuk voice di bagian mana, Dok?"
"Nah, di dekat sini. Tekan lama-lama lalu ucapkan mau pergi ke mana."
Setelah itu dia mencoba mempraktikkannya sendiri. Tak lama dia berbicara, sepertinya dengan taksi online yang ia pesan.
Dokter mengiri langkahnya menuju parkiran. Kendaraan yang ia sewa tersebut di arahkan ke parkiran. Tak lama taksi online dengan ukuran mobil kecil sampai. Kendaraan itu pergi dan aku telah berada di belakang dokter tersebut.
__ADS_1
"Apa benar suami saya bisa sembuh tanpa operasi, Dok?"
*
*
*
Aku telah pulang, seperti yang aku janjikan membawakan makanan buat semua orang yang ada di sini beserta kawan-kawan yang bekerja di laundry.
"Waahh, dah lama banget ya nggak makan sama-sama. Sampai rencana barbeque-an pun dibatalkan karena kejadian yang tidak menyenangkan ini." ucap Kak Vina membagi-bagikan makanan kepada yang lain.
"Iyah, bagaimana lagi. Namanya musibah. Diajak makan seperti ini di sini aja kami dah seneng kok." ucap Kak Nana.
"Kondisi suamimu udah prima banget kayaknya. Udah ke sana ke mari lagi. Apa masih belum bisa bekerja?" timpal Kak Vina.
"Iya, dia sebenarnya belum bisa bekerja seperti biasa. Mungkin dalam beberapa bulan ini istirahat dulu." terangku.
"Jadi Mas Aren belum sembuh bener?" tanya Kak Vina memastikan.
"Bisa dibilang begitu." Aku lihat semua anggota sudah mendapatkan jatahhnya.
"Nanti tolong cek semua lagi ya, Sya? Soalnya aku tadi gak sempet ngitungi dana masuk selama satu minggu terakhir. Kamu di rumah sakit, entah kenapa yang datang buat ngelaundry malah membludak."
"Oh, alhamdulillah ada rezeki di saat kita dalam sempit berarti Kak. Nanti usai makan aku hitung. Kalau begitu aku ke atas dulu." Aku langsung menaiki tangga mendengar suara televisi dan suamiku sedang bermain dengan Elena.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam ..." sambut semua yang ada di sana.
Mak terlihat berada di dapur. "Mak, siang ini makan ini aja."
Lalu kami semua makan bersama di atas meja makan. Aku terus memperhatikan Mas Aren yang meraba-raba makanan sebelum disuapkan masuk ke dalam mulutnya. Sementara aku menyuapkan Elena terlebih dahulu. Namun, gelagat suamiku terlihat sedikit meragukan.
"Apa perlu kubantu, Mas?"
Dia tersentak dan menggeleng. "Makan begini kok pakai dibantu segala. Tinggal masuk ke dalam mulut doang."
Dia sibuk memasukkan sayur yang kebetulan banyak sambelnya. Aku mau menunggu reaksinya sesaat dan terlihat kepedasan. Entah lah, apa aku tertawa malah harus prihatin karena dia yang terus berpura-pura seperti ini.
"Papa, sini Elena yang suapin ya?" tawar anakku.
"Papa lagi laper banget nih, nanti keburu meronta perut Papa nungguin Elena," ucapnya menyuap makanannya sendiri.
Elena melirikku dan membulatkan matanya. "Buk, Papa kok aneh, Buk?"
"Uhuuuuk ...."
Suamiku tersedak meraba-raba meja dan aku menggeser gelas agar ia bisa menangkap air dengan tangannya. Setelah memastikan kondisinya membaik, aku membelai rambut Elena.
"Jangan gitu dong, Papa kan lagi makan."
Elena membulatlan bibirnya. "Papa makan kayak anak kecil, Buk. Belepotan."
Suamiku langsung mengulirkan tangan kembali mencari tisu. Aku geser kembali kotak tisu ke tangannya. Bapak memperhatikanku dan menatap kami berdua bergantian. Aku hanya memberikan senyuman kepada Bapak.
Setelah memastikan semua selesai makan, aku baru mulai makan, juga. Suamiku masih duduk di sampingku, ia tahu aku belum makan dan meraba perutku.
"Kalian sabar ya? Kak Elena disuapin dulu, baru giliran kalian bertiga. Nanti setelah ini Bapak yang akan menyuapkan kalian ya?"
Aku mengusap pipi Mas Aren. "Ditemenin gini saja udah seneng ya, Nak?" ucapku menatap pada tangannya yang masih di perutku.
Aku mempercepat laju makan, agar aku bisa melakukan pekerjaan lain. Kak Vina memintaku memeriksa data dan angka yang masuk selama Mas Aren dirawat. Alhamdulillah, meski dana banyak melayang karena pengobatan dan perbaikan mobil Mas Aren, rezeki dari sisi lain malah semakin lancar.
"Mas, aku mau ke bawah dulu buat mengecek kasir." Aku minta izin terlebih dahulu.
"Aah, aku juga mau duduk di bawah. Aku bosan kalau nggak ada temen."
"Kan ada Bapak dan Elena."
"Aku nggak akan mengganggu kok." ucapnya lagi.
"Baik lah, kamu tinggal turun aja kok. Aku buru-buru ni. Aku duluan ya?" Aku sengaja memberikan ruang padanya turun lebih dulu. Aku tunggu ingin tahu bagaimana caranya dia turun.
Ternyata, saat aku menunggu suamiku turun. Ada sebuah bisikkan yang tiba-tiba tepat di telingaku.
__ADS_1
"Suamimu buta ya?"