Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
11. Menjadi CEO


__ADS_3

**Halo Kakak Pembaca semua ... terima kasih sudah membaca karya terbaruku yaa ... Karya ini sedang Author bawa untuk Event Lomba Menulis Novel Tema Rumah Tangga. Jangan Lupa beri tanda dukungan juga yaaa ... Love You ...**


...😇😇😇...


💖


💖


💖


"Segitu jijik kah kamu kepadaku?" Wajahnya terlihat sendu.


Aaah, hati ... aku harus kuat. Aku tidak boleh lemah. Dia sering seperti ini. Dia tahu titik lemahku. "Kamu sudah memiliki dia. Dia memiliki segalanya. Oleh karena itu, mari kita berpisah saja."


Aku buang muka segera menyeka air mata. Kulanjutkan mengeluarkan semua pakaian miliknya. Aku cari tas yang cukup besar, memaksakan pakaian tersebut tanpa memikirkan kerapiannya lagi.


"Aku tak akan menceraikanmu."


"Kenapa? Bukan kah itu sudah jadi senjatamu? Setiap kali ada masalah di antara kita, kau selalu mengancam untuk bercerai. Sekarang aku sudah siap, mari kita bercerai saja. Aku akan merelakanmu bersamanya. Oh ya, kamu akan memiliki anak, bukan? Biarkan Elena bersamaku."


Wajahnya berubah dingin dan menatapku dalam diam. Dia menatap tas yang sudah aku siapkan. Aku segera memeluk Elena membelakangi Bang Alan. "Sekarang, tinggalkan aku. Biar kan kami berdua saja."


Terdengar gerakannya mengangkat tas, lalu pergi. Air mataku terus terjatuh tanpa suara memeluk Elena. Aku janji, ini adalah air mata yang terakhir. Setelah ini, tak kan ada lagi air mata untuknya.


"Elena, kali ini kita berdua ... ya, kita berdua saja. Aku lah Ibuk, aku lah ayah ...." Aku peluk Elena, yang ikut menangis melihatku menangis.


tok


tok


tok


"Permisi ...."


Terdengar suara seseorang yang datang. Oh, aku ingat ... itu pasti mesin cuci yang aku pesan tadi. Air mata kuusap dengan lengan bajuku. Elena langsung ku angkat menuju ke arah pintu masuk.


"Selamat siang, mesin cuci ini harus diletakan di mana, Kak?"


Aku segera menunjukan lokasi, dekat kamar mandi. Setelah usai, kurir langsung pergi dan kulihat mesin cuci yang berhasil ku kubeli dengan kerja keras selama beberapa bulan ini. Aku segera menyibukan diri menyelesaikan semuanya.


Pekerjaan dengan mesin cuci, membuat tenagaku tidak terlalu terkuras. Sepertinya aku harus menyebarkan brosur promo. Aku harus menyibukan diri, agar bisa melupakannya dengan segera.


Sorenya, aku mendatangi percetakan meminta dibuatkan brosur sederhana. Keesokan pagi, aku titip Elena pada Bu Retno untuk agar aku bisa menyebarkan brosur ini dengan leluasa.

__ADS_1


Aaah, baru pertama kali rasanya aku melihat rombongan anak sekolah lewat. Mereka menggunakan pakaian putih abu-abu. Ada perasaan iri dan sedih melihat mereka menikmati indahnya masa sekolah.


Kuberanikan diri menyebarkan selebaran brosur kepada mereka. "Selamat pagi Kak. Kami ada promo, jika mencuci sepuluh kilo, akan dapat free satu kilo."



Anak-anak sekolah itu menerima brosur sederhana yang aku berikan. Setelah itu mereka berlalu. Aaah, apakah aku masih bisa menggunakan seragam seperti itu?


Setelah brosur habis disebarkan, aku segera menjemput Elena kembali. Mencuci pakaian yang sudah ada. Semakin hari, laundry yang aku kelola semakin ramai. Hari-hariku terasa semakin sibuk. Tiba lah waktunya agar aku harus memiliki karyawan yang bisa membantu untuk mengerjakan semuanya.


Atas rekomendasi Bu Retno, akhirnya aku mempekerjakan seseorang yang aku panggil Kak Vina. Usianya setahun di atasku. Dia keponakan Bu Retno yang kebetulan sudah pernah bekerja di laundry juga. Dia sangat baik dan belerja dengan cekatan.


Beberapa bulan kemudian, aku terciduk tengah memperhatikan siswa berseragam sekolah. "Kamu ingin sekolah lagi?" tanya Kak Vina.


"Sepertinya aku tak memiliki kesempatan lagi untuk itu." tuturku tertunduk sedih.


"Weeehh, kata siapa?"


"Mana mungkin aku bisa bersekolah lagi, Kak? Aku ini seorang wanita yang sudah memiliki anak. Mana ada sekolah yang menerima aku dengan keadaan begini. Lagian usiaku juga sudah tidak pantas untuk itu. Rasanya sungguh tidak mungkin."


Kak Vina berpikir sejenak. "Kamu mau ikut sekolah paket C nggak? Kamu ambil program penyetaraan ijazah gitu. Menggunakan ijazah tersebut, kamu juga bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi."


Mendengar penjelasan Kak Vina, seperti memberiku sebuah angin surga yang membuat mimpi dan anganku melambung tinggi. "Emangnya masih bisa ya Kak?"


Aku mengangguk penuh semangat. Aku akan belajar kembali. Meskipun bukan pada jalur formal, setidaknya aku juga memiliki ijazah.


Setahun kemudian, aku sudah menyewa ruko untuk laundry-ku yang semakin berkembang. Elena pun sudah semakin besar dan pintar. Hari ini aku akan mengambil ijazah paket C yang aku laksanakan sebulan yang lalu.


"Kak, titip Elena sebentar ya?" Aku pamit pada Kak Vina yang benar-benar sudah seperti saudaraku sendiri.


"Oke, Bu CEO ..." candanya.


"Iiihh ... kakak membuatku malu saja? Ini cuma laundryan kecil, belum pantas dibilang CEO. Mana ada CEO yang seperti aku?"


"Wweeh, jangan salaah ... Banyak banget malah orang-orang sukses yang berawal seperti kamu. Kamu jangan berkecil hati gitu dong? Setidaknya, sekarang kamu sudah memiliki sepuluh karyawan yang sudah digaji dengan uangmu. Itu sudah cukup sebagai alasan kamu pantas disebut CEO."


Aku menggelengkan kepala dengan cepat. Rasanya sungguh tak pantas disebut CEO. Apalagi aku mendapatkan ijazah penyetaraan pun lewat jalur informal. Aku lambaikan tangan dan segera melajukan kendaraan roda dua yang berhasil kubeli dengan jerih payahku.


Sebuah kendaraan mewah berhenti tepat di depan toko-ku. Tentu saja dia salah satu pelanggan yang mungkin mengantarkan cucian, atau mungkin menjemput pakaiannya. Aku segera meninggalkan toko menuju yayasan sekolah kejar paket C.


Setidaknya ijazah ini bisa mengantarkanku ke jenjang perguruan tinggi yang mulai berani untuk ku angankan. Setelah ijazah tersebut berada di tangan, rasanya sungguh sangat gembira. Setidaknya aku sudah bisa dikatakan tamatan SMA.


Aaahh, aku mau mencoba ikut tes masuk perguruan tinggi. Aku ingin sekali menjadi guru. Harapanku saat ini ialah membangun sekolah tingkat atas di dusun. Aku tak ingin lagi adik-adik di dusun sana mengalami hal yang sama seperti yang aku alami. Jika sudah ada SMA di sana, pasti mereka bisa melanjutkan mimpi yang sebelumnya masih kelam di pikiran mereka.

__ADS_1


Urusanku pun selesai, dengan segera kembali ke toko di mana Kak Vina dan yang lain telah menunggu kepulanganku. Aku lambaikan tangan kepada mereka, sambil sedikit berlari saking bahagianya. Namun, nahas ... kakiku keseleo dan hendak ambruk di atas lantai cor bagian parkiran.


Aku sudah bersiap mendarat sempurna sambil memejamkan mata. Namun ternyata, ada tangan yang menarik bagian belakang baju. Hingga aku batal mencium lantai parkiran.


Aku langsung memutar tubuh. "Terima--kaaaa---sih." Pernah ketemu di mana ya? Wajahnya cukup familyar dalam ingatan.


"Oh, sama-sama." Dia terlihat berpikir juga. Mungkin merasakan hal yang sama denganku. "Lain kali berjalannya lebih hati-hati ya, Mbak."


Aku hanya mengangguk dan mohon diri masuk ke bagian dalam toko ... Aku menyambut Elena yang langsung mengejarku.


Tanpa berpikir panjang, aku segera membuka laptop mendaftar perguruan tinggi yang dibuka secara online. Mungkin aku akan mencoba masuk PTN Negeri dulu kali ya? Hmmm ... kata teman-teman yang sama sekolah paket C kemarin, untung-untungan bisa lolos SBMPTN. Tak ada salahnya jika mencoba bukan? Jika lolos, tentu biayanya lebih murah.


"Bukan kah kamu yang melempar kotak bedak waktu di pantai dulu?"





Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.


Napen Author: David Widya


Judul karya: Identitas Rahasia Sang Mafia


Ilona Delvisa Anumarta adalah Wanita berusia 25 tahun yang sudah bisa mendirikan sebuah perusahaan bernama "Delvisa Company" yang bergerak di bidang tambang. Wanita yang mandiri, cantik, perfect, dan idaman semua pria. Selain menjadi CEO di perusahaan "Delvisa Company", ia juga seorang ketua Klan Mafia "Devil Dark" Klan Mafia yang paling di takuti dan terkuat Di Eropa. Jika berada di dunia Mafia Ilona bernama Queen Isabell. Tujuan Ilona menjadi Mafia adalah untuk membalaskan dendam kematian Keluarga Besar Ilona 15 tahun silam.


Teka - teki siapa yang membunuh semua keluarga besar Ilona belum di ketahui, bahkan, penyelidik, Polisi, Hacker, semua sudah di kerahkan tapi hasilnya tetap nihil.


Nyawa di bayar dengan nyawa ~ Ilona Delvisa Anumarta.


.


Belmond Azbara Turgana adalah seorang pria CEO di perusahaan "Azbara Corp" yang bergerak di bidang Pembangunan, parasnya yang tampan serta rupawan membuat kaum hawa ingin menjadikan Belmond pacar meskipun sudah berumur 35 tahun. Bahkan ada suatu hari di mana ada seorang wanita secara terang - terangan ingin One Nigt Stan dengan Belmond secara percuma dan menawarkannya kepa Belmond. Tapi Belmond tidak pernah menerima tawaran wanita itu.


Siapakah orang yang sudah membunuh semua keluarga besar Ilona?


Penasaran?


Yukk Cus langsung baca ❤️


__ADS_1


__ADS_2