
Ternyata, saat aku menunggu suamiku turun. Ada sebuah bisikkan yang tiba-tiba tepat di telingaku.
"Suamimu buta ya?"
Aku lirik orang yang berbisik padaku. "Bang? Kamu masih nyuci di sini?" bisikku menariknya keluar.
"Enggak, aku udah tidak di sini lagi semenjak bapakmu mengusirku."
"Bapak mengusirmu?"
Dia tersenyum kecut menatap suamiku yang berjalan perlahan menuruni tangga.
"Sayang? Kamu di mana?" Mas Aren telah sampai di bawah dan memastikan keberadaanku.
"Kamu, jangan pernah ke sini lagi! Jangan usik keluargaku lagi. Aku dan Mas Aren sudah sangat bahagia!" Aku melangkahkan kaki.
"Bahagia? Apa kamu yakin akan bahagia dengan pria ca—"
Mulutnya langsung kusumpal dengan tanganku. "Setidaknya aku jauh lebih bahagia hidup bersamanya dibanding saat hidup bersamamu! Sudah lah! Jangan mengacau!"
"Apa kamu tahu? Sebenarnya kamu lah yang membuatnya menjadi kacau seperti ini. Jika dia tidak bersamamu, dia tidak akan mendapat nasib buruk—"
Plaaaak!
Tanganku mendarat manis di pipinya sebelum selesai mengucapkan segala yang ada dalam pikirannya. "Pergi lah! Sebelum kepalan yang telah lama tak terlatih ini melayang manis di ulu hatimu!"
Dia terlihat menghela napas dengan kasar. Setelah itu pergi meninggalkanku.
"Sayang? Apa yang kamu lakukan?" Ternyata suamiku telah menemukan keberadaanku.
"Oh, ini Mas. Aku lagi beresin sampah. Baru aja dimainin sama hewan tetangga," ucapku asal melirik punggung Bang Alan yang terus menjauh.
Semoga saja dia tidak main ke sini lagi. Jika dia masih macam-macam seperti itu, aku tidak akan mengizinkan ia menemui putriku lagi, meskipun ia juga putrinya.
Setelah itu, aku segera berjalan mendekati suamiku dan mendekap manja pada lengannya.
"Ih, tanganmu kotor malah nempel-nempel padaku?"
Aku segera melepaskan dekapan dalam rangkulannya. "Ya udah kalau nggak mau." Aku segera menuju meja kasir dan merasa geli dengan tingkahnya itu.
"Bercanda, Sayaang. Sini ... Sini ... kita ini bisa berbagi kekotoran bersama-sama kok."
Dia terlihat berhenti mencari keberadaanku. Lalu bergerak menuju ke arah tempatku berada. Kamu hebat, Mas. Berusaha dengan kepura-puraanmu itu.
Aku teringat kembali dengan apa yang dikatakan oleh dokternya padaku. Semoga keajaiban itu benar-benar hadir untuk kami. Aku bangkit dan menggenggam tangannya lagi.
"Aneh banget, kamu kok makin manis aja kayak kucing akhir-akhir ini. Umurku ini masih panjang lho?"
__ADS_1
Sontak aku tertawa mendengar ucapannya yang seolah tidak ada hubungannya. "Terus apa aku tidak boleh menunjukkan rasa cinta kepada suamiku sendiri. Setelah kecelakaan itu, aku menyadari bahwa aku terlalu kekanakan, Mas. Aku sudah berjanji kepada Tuhan akan selalu mematuhi segala yang kamu katakan."
Aku siapkan bangku untuk didudukinya, dan saat aku akan duduk di bangku sebelahnya, Mas Aren malah menarikku duduk di atas pangkuannya.
"Ih, malu ah?" Aku berusaha bangkit dan berpindah.
"Loh? Katanya mau mengikuti semua yang aku inginkan. Aku itu pengen semua orang tahu bahwa aku ini sangat mencintai istriku ini. Aku ingin selalu menjaga dan melindunginya. Makanya kamu harus selalu dekat denganku."
"I-iya, tapi ini ...." Aku lihat semua karyawan menutup mulut membatalkan rencana mereka melakukan aktivitas yang akan mereka lakukan memilih masuk kembali ke bagian belakang.
"Aku malu tau, Mas. Nanti dilihatin sama yang lain rasanya gimanaa gitu."
"Anteng aja! Aku ingin memelukmu dari belakang pokoknya." Tangannya mulai membelai perutku.
Sebenarnya ada rasa bahagia jika ia seperti ini padaku. Karena, sebelumnya aku tidak pernah mendapat perlakuan yang seindah ini. Ada rasa tenang dan nyaman saat ia mendekapku penuh mesra seperti ini.
"Anak-anak Bapak, terima kasih ya?" ucapnya menyandarkan dagunya di pundakku.
"Bapak? Yakin mereka mau diajarkan panggil Bapak? Elena udah diajarin panggil Papa lho? Masa panggilan mereka beda-beda?"
Lalu dia menyandarkan wajahnya pada pipiku. "Bener juga ya, jadi harus sama ya?"
"Iya, harus sama dong. Masa kakaknya manggil papa, adiknya bapak?"
"Oh, ya udah. Kalian anak-anak Papa. Tetap anteng seperti ini ya? Jika hingga lahiran kalian anteng gini, Papa akan kasih hadiah buat kalian."
"Iyah, ini sekalian hadiah buat Ibuk juga kok," ucapnya terlihat dengan senyum jahil.
"Ini sungguh sangat mencurigakan."
"Kok mencurigakan? Ini beneran lho ...." Tangannya sudah mengusap kepalaku.
"Lalu hadiahnya apa tu?"
"Ekhem ...."
Deheman seseorang yang baru datang membuyarkan adegan mesra ini. Pipiku terasa sangat panas bagai digrebek satpol PP karena tindakan yang tidak senoonooh.
"Maaf, Mbak, ada yang bisa saya bantu?" Aku sudah bangkit dan menjaga jarak dari suamiku yang jelas terlihat menahan senyumannya. Sepertinya dia memang sengaja menjahiliku.
"Duuh, kamu ini membuatku kangen dengan suamiku." Lalu ia melihat ke arah jam tangannya.
"Waah, suamiku belum pulang kalau jam segini," ucap pelangganku itu.
Lalu ia melirik suamiku yang duduk tenang tanpa ekspresi. Matanya lurus menatap ke depan, tetapi ia terlihat sangat tampan.
"Duh, kalian ya? Pengantin baru. Mesranya masih kebangetan. Gimana keadaannya usai kecelakaan kemarin?"
__ADS_1
"Ya, alhamdulillah baik, Mbak." jawab Mas Aren.
"Oh, syukur lah. Beruntung tidak terjadi apa-apa ya? Kayak di sinetron gitu, kalau kecelakaan bisa amnesia gitu," celotehnya.
"Ekhemmm ..." Suamiku terlihat berusaha keras menahan tawanya. Aku pun juga demikian.
"Jangan sampai begitu, Mbak. Jika dia melupakanku, aku pasti akan sedih sedih banget."
Tangan Mas Aren menggenggam tanganku. Dia terlihat menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak akan pernah melupakanmu." Dia mengucapkannya tanpa ragu dan malu. Meski di hadapannya ada orang lain yang mungkin cukup asing baginya.
"Duuuh, aku jadi cemburu sama pasangan ini. Aku berasa menjadi kambing congek, gerah banget di sini," celetuknya.
"Ya udah, ambilkan dulu cucianku. Aku udah bayarnya lunas kemarin." Ia menyerahkan bukti pembayaran lunas.
Aku pun segera mencari bingkisan atas nama tercantum. Akan tetapi, tidak satu pun ada nama tersebut di rak itu.
"Tunggu sebentar ya, Mbak. Aku cek ke belakang dulu."
Dia mengangguk dan rautnya terlihat sedikit was-was. "Aku gak terima alasan belum selesai ya? Kalau belum selesai, aku minta potongan harga," gerutunya.
"Eh iya, Mbak. Aku cek dulu."
Dengan langkah cepat aku segera menuju bagian belakang. "Kak, laundryan Mbak Tara udah beres belum?"
"Oh, ini! Udah beres kok." Kak Vina menyerahkan pakaian yang telah terbungkus rapi kepadaku.
"Huuufft, syukur laah. Tadi aku cari di rak, tidak ada."
Kak Vina langsung terkekeh. "Soalnya saat ini semua mau dimasukkan ke rak depan, mereka merasa tidak enak. Makanya balik kanan lagi."
Refleks aku menepuk jidat. "Ya aaampuuun, ternyata itu tah, alasanya."
"Iya, ini sekalian dibawa!" Kak Vina menyerahkan sekeranjang penuh yang berisi pakaian yang telah rapi dalam bungkusannya.
"Baik lah, aku akan membawa semuanya." Keranjang pakaian itu aku angkat dan segera kubawa keluar.
Aku mendengar secara pintas mereka berbicara. "Ini, Mbak, udah beres kok." Pakaian miliknya aku masukkan pada kantong kresek dan segera menyerahkannya.
"Terima kasih ya, Mbak. Semoga betah menitipkan cuciannya ke sini." ucapku.
"Iya nih, betah di sini. Bisa cuci mata lihat rumput tetangga," candanya. Setelah itu ia pergi dan aku menyusun pakaian bersih tersebut masuk ke dalam rak yang ada.
braaak
Semua pakaian yang telah rapi di dalam kantong jatuh berceceran.
"Maaasss?"
__ADS_1