Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
73. (PoV Arendra)


__ADS_3

Malam ini adikku akan berangkat ke ibu kota. Namun, semenjak pagi dia telah pergi hilang entah ke mana. Aku mencoba menghubunginya untuk merayakan hari khusus bersama, dia malah menghilang.


Aku curiga dia malah memilih si janda yang terus mencuri perhatiannya, aku juga tentunya. Aku segera mencari kunci mobil, ternyata sudah tidak ada. Setelah itu aku mencari kunci motor, ternyata tak satu pun yang berhasil kutemukan.


Mama dan Papa sudah menghilang semenjak pagi. Kami sepakat untuk meminta izin pulang setengah hari dari kantor masing-masing. Demi apa? Demi menyengangin dia menjelang masa tak bisa bertemu dengan keluarga dalam beberapa waktu. Namun, dia malah berlaku seperti ini kepada saudara satu-satunya yang dia miliki.


Aku mencurigai ini semua pasti kerjaan dia? Dia sengaja menjebakku agar aku tidak keluar dari rumah hari ini. Namun, dia sangat keliru. Karena aku, masih bisa menggunakan ponsel untuk menaiki kendaraan online.


Entah sebuah keyakinan yang datang dari mana. Aku merasa dia berada di tempat janda cantik itu bekerja. Hmmm ... ternyata begitu? Nesya lebih berharga baginya, dari pada aku yang keluarganya ini? Ini tidak bisa dibiarkan.


Aku pun segera memesan ojek online, aku meminta diantar ke alamat di mana laundry si janda muda nan cantik itu tinggal sekaligus bekerja. Saat sampai, mataku tak henti melihat tontonan saat dia menyerahkan satu buket bunga kepada Nesya. Dia mau mencuri start dari persaingan ini?


Aku harus sabar ... beri kesempatan dulu buat dia. Toh, dia akan hengkang dari sini juga bukan? Namun ... jika pernyataan cintanya diterima oleh Nesya, bagaimana denganku?


Aku mengecek pintu mobil yang dibawa adikku tadi yang sedang terparkir. Ternyata, dia tidak mengunci pintu dan aku pun menyelinap masuk ke dalam sana.


Awalnya aku hanya berencana sekedar memberi kejutan, agar dia terharu saat menemukan sang kakak sudah jauh-jauh menyusulnya ke sini.


Namun, kenyataannya malah aku yang mendapatkan kejutan besar setelah menunggu sekian lama di dalam mobil yang luar biasa panas ini. Aku malah melihat dia membawa Nesya dan Elena masuk ke dalam mobil membuatku segera melompat ke bagian paling belakang.


Saat mereka masuk, penyejuk langsung dinyalakan. Aku yang berada di bangku belakang bersusah payah menahan gerakan karena tubuhku merasa kebakaran. Akhirnya derita sang kakak berakhir juga.


"Kita mau ke mana sih, Bang?" Terdengar sebuah tuturan yang keluar dari Nesya.


"Ke mana ya? Ada deh, kejutan pokoknya."


Sejak kapan Alven bisa dekat dengan wanita sampai seperti ini?


"Buk ... Elena duduk di belakang aja."


"Jangan! Nanti kamu jatuh. Elena duduk di pangkuan Ibuk aja."


"Sempit, Buk." rengek gadis kecil itu.


Namun, jangan duduk di bangku tengah! Nanti aku bisa ketahuan. Malah membuat Nesya makin berpikir aneh tentangku.


"Elena duduk di belakang aja ya, Buk." Elena terdengar mulai merengek.


"Biarin aja dia duduk di belakang. Mungkin dia merasa kurang nyaman di depan." ujar Alven.

__ADS_1


"Baik lah, Ibu pegangin ya kamu pindahnya?" Terdengar pergerakan Elena pindah ke belakang.


bruugh


"Tuh kan, jatoh?" Nesya terdengar gusar melihat anaknya jatuh saat proses perpindahan.


drrrt


drrrt


Ponselku mulai bergetar di dalam kantong celana. Aku tak bisa menjawab panggilan tersebut. Aku biarkan hingga panggilan terhenti.


drrrt


drrrt


Ponsel bergetar kembali. Ini pasti sebuah panggilan yang penting. Terpaksa aku bergerak mulai merogoh kantong pada celana dan menjawab panggilan itu.


"Pak Rendra, kenapa belum sampai juga?" Ini adalah panggilan dari Mery. Seorang penanggung jawab di meja informasi di Ruang Jurusan Akuntansi.


"Nanti saya jawab via chat!" Aku jawab dengan bisikan.


Aku tutup panggilan, takut ketahuan. Dengan segera aku menjawab panggilan tersebut lewat aplikasi chatting yang sudah mendunia.


"Papaaaa." Terdengar suara Elena dengan kepala sudah muncul mengintipku yang tengah bersembunyi. Dia mengeluarkan cengiran khas balitanya saat melihatku terjepit di bagian bawah.


"Sssttt!" Aku beri kode telunjuk di bibir. Hal ini membuat Elena semakin kegirangan dan ikut memanjat pada bangku bagian belakang.


"Papa lagi kerja." ucap Alven terus menyetir.


"Elena, kamu ngapain ke belakang?" Kali ini sang ibu yang sepertinya mulai bergerak mencoba menarik sang anak.


"Biar aja. Mungkin dia ingin mencoba semua posisi," ucap Alven sok paham.


Elena berhasil melompat di bangku yang ada di dekat ku. Sengiran tak berhenti menghiasi bibirnya. Sedangkan aku masih memberi kode agar dia tidak memberitahukan bahwa aku sedang berlaku aneh di bangku bagian belakang ini.


"Elena? Kenapa di situ? Ayo kembali ke sini!"


"Elena duduk di sini, Buk."

__ADS_1


"Pegangan ya?"


"Baik." Elena mencoel-coel pipiku yang sudah tak tahu bentuk.


"Papa main petak umpet?" bisiknya meski cukup terdengar.


"Ssstt!" Kembali aku beri kode agar gadis yang tengah kepang dua itu tidak usah terlalu banyak bicara.


Setelah beberapa waktu berada di posisi ini, kendaraan pun mulai pelan, sepertinya akan berhenti. Elena kusuruh untuk segera melompat kembali ke bangku tengah, dan dia pun mengikuti apa yang aku bisikan.


Setelah memastikan kendaraan ini kosong, aku segera keluar. Saat ini, kendaraan terparkir di depan sebuah restoran yang dikenal cukup elite.


Aku hendak mencoba masuk ke dalam sana. Ponsel kembali bergetar membuatku terpaksa untuk menjawabnya.


"Ya, hallo ... ada apa lagi Mery?"


📳 "Mahasiswa yang ingin bimbingan dengan Anda sudah mulai ribut, Pak."


"Ah, ya ... saya sedang dalam perjalanan. Bilang kepada mereka untuk menunggu sebentar lagi."


📳 "Baik lah, Pak. Selamat pagi."


Panggilan telah ditutup dan aku lihat waktu telah menunjukan pukul sembilan pagi. Satu jam terlambat dari jadwal bimbingan yang telah aku sampaikan kepada mahasiswa. Namun, saat ini masih jadwal liburan bukan? Jadi boleh lah sedikit bersantai, meskipun tak ada namanya liburan bagi seorang yang bertugas menjadi dosen.


Sepertinya aku membatalkan untuk menjadi spy**agen bagi mereka. Lebih baik aku langsung menuju kampus yang sudah tidak terlalu jauh dari tempat ini. Aku segera memesan ojek online.


Nanti saat istirahat siang kami semua akan berkumpul sebagai tanda perpisahan keluarga kecil kami. Setelah memesan ojek online, aku menunggu di kendaraan yang dibawa oleh Alven tadi.


Sebuah tangan kecil menggenggam tanganku dan di sana ada gadis kecil tengah menengadah dengan cengiran di bibirnya.


"Elena?" Aku lihat tidak ada satu pun yang menemaninya. Aku berjongkok membelai pipi mungil gadis itu.


"Mana Ibuk dan Om Alven?"


Dia menunjuk ke arah bagian dalam restoran. "Ayo, Pa ... kita makan sama-sama di dalam."


"Papa anterin Elena ke dalam ya? Apa Ibuk tahu Elena pergi sendirian seperti ini?"


Elena menggelengkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2