
Elena bergantian melihat aku dan Nesya. "Eyena tangen bobo cama Ayah dan Ibuk. Ayo Ayah, bobo cini cama-cama agi."
Aku sungguh terkejut mendengar apa yang baru saja Elena katakan. Elena menginginkan apa yang begitu aku inginkan semenjak nasi telah menjadi bubur.
Akhirnya aku duduk berjongkok, membelai kepala gadis kecil nan cantik itu. "Doakan saja, Sayang. Ayah akan memperjuangkan Ibuk dan kamu kembali."
Gadis kecil itu mengangguk mengurai senyum cantik, persis mirip dengan Nesya, mantan istriku. Namun berbeda dengan Nesya, dia membuang mukanya dariku. Di sampingnya berdiri seorang pria gagah yang mengaku sebagai kekasih Nesya, mantan istri yang selalu aku sia-siakan.
Pria itu memiliki tubuh lebih tinggi dariku, dan sepertinya usia dia jauh lebih dewasa. Dan mungkin juga dia memiliki penghasilan yang mapan, bukan seperti diriku.
Aku bangkit kembali dan menarik Elena untuk ikut denganku. Sekarang adalah giliranku untuk bersama Elena. Aku ingin merasakan mengasuh anakku yang sehat.
"Dek, kali ini biarkan Abang yang mengasuh Elena. Kamu sudah mengasuh dia lebih dari setahun sendirian. Sekarang giliran Abang lah!"
Nesya langsung memeluk Elena. Sementara Elena menatapku dengan wajah polosnya yang terlihat kebingungan. Sedangkan pria yang ada di samping Nesya tengah mengusap dagunya memikirkan sesuatu.
Kenapa Nesya merahasiakan statusnya yang telah janda? Apa dia malu telah menjadi janda di usia muda? Jika memang dia malu, bukan kah dia sendiri yang mengakhiri pernikahan kami? Jika tidak mau jadi janda, seharusnya dia kembali lagi jadi istriku saja. Kali ini tentu jadi istri kedua. Status istri pertama telah sah pada Dian, yang usianya lima belas tahun lebih tua dariku.
Nesya memutar tubuh Elena hingga mereka saling bertatapan. "Nak, bagaimana pun Elena tetap sama Ibuk. Ibuk tidak akan membiarkan kamu direbut oleh ayahmu itu!"
Nesya menarik Elena menjauh dariku. Elena dibawa ke dalam tokonya hingga aku tidak bisa melihat mereka berdua. Sementara pria tadi bersidekap dada menatap panjang padaku.
"Maaf, sepertinya dia tidak pernah menceritakan padamu bahwa dia adalah seorang janda. Dulunya, dia adalah istriku."
__ADS_1
"Jadi kalian menikah usia berapa?" Keningnya terlihat berkerut. Dari penampilannya, dia terlihat sangat berpendidikan. Hal ini mungkin bukan lah hal yang lumrah baginya.
"Kami menikah saat dia tamat SMP, dan saya tamat SMA."
Wajahnya terlihat menegang kembali. Dia mengusap wajah terlihat frustrasi. Apakah dia tidak pernah mendengar yang seperti ini sebelumnya? Ooh, ya ... dia orang kota.
"Apa kalian menikah karena kecelakaan?"
Aah ya, ini adalah pertanyaan yang tak lepas ku dengar jika aku mengatakan hal yang sama. "Menurutmu?"
Entah kenapa aku ingin membuat hubungan mereka berakhir dengan cepat. Aku ingin Nesya kembali padaku. Aku melangkahkan kaki kembali menuju mobil yang dibelikan oleh Dian untukku. Ooh, bukan untukku. Aku hanya sebagai supir baginya. Bukan sebagai suami.
Aku teringat di masa Nesya masih menjadi istriku dulu. Dia selalu berusaha memenuhi segala yang aku inginkan. Dia tidak pernah mengeluh atas segala yang aku perbuat.
Aaahh, mengingat pekerjaan yang aku lakoni dulu sungguh membuatku malu. Tak satu pun perusahaan mau menerimaku sebagai karyawannya. Apa mungkin karena nilai ijazahku yang sekadar pas-pasan?
Apa boleh aku menceritakan saat pertama kali bertemu dengan Nesya setelah tamat SMA dulu?
Saat itu, aku baru saja menamatkan sekolah menengah atas dengan nilai yang pas-pasan. Dahulunya aku hanyalah siswa yang selalu ditegur oleh guru karena kedapatan tidur saat jam pelajaran.
Aku selalu begadang main game online di game center hingga pagi. Saat pagi datang, dengan perasaan malas aku berangkat menuju ke sekolah tanpa harus mandi. Meski belum mandi, kata para cewek di sekolah wajahku tetap terlihat tampan.
Awalnya aku protes, kenapa nilai yang diberikan padaku sangat pas-pasan. Lalu guru memperlihatkan catatan segala kelakuanku masa sekolah yang sering keluar masuk BK karena dikatakan sebagai siswa malas, sering tidur dalam jam sekolah.
__ADS_1
Setelah itu, kawan-kawanku mengajak mencoba ikut tes masuk perguruan tinggi negeri. Awalnya aku tidak mau. Namun, tetap dipaksa mereka. Hasil akhirnya sudah bisa diterawang semenjak awal. Satu orang lolos, dan selebihnya tidak, sama sepertiku.
Mak sudah mulai menyuruhku untuk kembali ke dusun. Namun, aku tidak mau. Aku sudah membayangkan bagaimana dusunku yang tidak ada signal. Hidupku terlahir untuk main game online. Jika di sana, hidupku pasti akan terasa sangat hampa karena tidak bisa bermain game online.
Karena tidak pulang-pulang juga, akhirnya Mak mulai mengancam tidak akan mengirinkan uang lagi kepadaku. Aaah, hal ini memaksaku untuk harus kembali ke dusun itu.
Namun, aku teringat. Bukan kah di sana ada Inke? Dia anak orang kaya di dusun kami. Meski wajahnya biasa, siapa tahu nanti dia bisa bantu kehidupanku yang melarat ini. Aku merasa yakin, Mak akan memaksa untuk mengurus kebun dan sawah keluarga. Aku adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga kami.
Namun, sampai di dusun ... aku mendapati kenyataan bahwa Inke sedang melanjutkan pendidikannya di kota. Kenapa aku tidak mendapatkan kabar itu sama sekali? Aah, sial! Apa gunanya aku masuk ke dusun ini? Aku akan merana tak akan keluar dari lingkaran kekuarga petani dan nantinya punya istri juga seorang petani.
Suatu hari, aku didatangi gadis memiliki wajah yang sangat manis. Dia lah Nesya, seingatku dulu Nesya hanya bocah ingusan dengan umbel ke mana-mana di saat aku masih di dusun dulu. Namun, kenapa saat ini dia terlihat berbeda? Ada hal yang mencambuk dan menyadarkan bahwa dia hanya lah anak petani yang tak kalah miskin, seperti keluargaku.
Aku harus bisa menghindari dia. Aku pun berusaha menghubungi Inke. Aku rela mencari signal hingga ke puncak bukit untuk merayunya. Meski tidak terlalu suka, aku katakan saja bahwa aku suka. Ternyata, Inke menyambut perasaan pura-pura dariku. Kami menjalani cinta jarak jauh.
Akan tetapi, Nesya selalu hadir mengantarkan makanan untukku. Entah kenapa saat itu aku terbuai oleh perhatian darinya. Aku mencoba menolak perasaan ini, tetapi akhirnya aku kalah. Aku melamar Nesya untuk menjadi istriku. Di tempat kami tinggal, semua hanyalah hal yang biasa menikah di usia masih belasan tahun.
Dia sangat mencintaiku, aku tahu itu. Dia pasti akan memenuhi semua keinginanku. Meski aku mencintainya, aku akan berpura-pura tidak membutuhkannya. Agar dia akan terus berusaha mempertahankanku.
Pada hari pernikahan kami, Nesya terlihat sangat cantik dibalut pakaian adat kami. Setelah pesta usai, aku yang sudah menahan segalanya selama pesta tadi, tak tahan untuk segera menyentuhnya.
Aaaaah, ternyata begini lah nikmatnya malam pertama. Ditambah dia adalah perawan belia yang belum disentuh oleh siapa-siapa. Otak liarku sungguh menggila saat menikmati setiap jengkal yang ada pada dirinya. Aku masih muda, bisa melakukan itu padanya hingga pagi tanpa ada rasa lelah. Meski dia kesakitan, aku tidak memedulikannya. Yang penting has rat yang bergelora ini bisa dilepaskan masuk ke dalam tubuhnya.
Beberapa waktu dia masih belum hamil. Orang tuaku mulai sibuk menanyakan apakah istriku itu perempuan mandul apa bukan. Aku tidak memedulikan itu, yang penting, dia bisa memenuhi has rat kelelakianku. Aku baru menyadari aku adalah pria hyper s e x
__ADS_1