
"Jiaah, lagi lampu merah? Anakku tidak jadi terbentuk dong?"
Dia mengernyitkan keningnya. "Anak? Jadi pengen langsung punya anak?"
"Iya lah, suami mana yang tidak mau punya anak? Aku juga mau Arendra junior dong?"
Nesya menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan dulu. Kamu sendiri tahu kan, aku sedang sibuk banget. Aku belum siap punya anak lagi saat ini."
Memang bener sih apa yang dikatakannya. Akan tetapi, aku ingin memiliki keturunan juga. Harus kah aku mengalah untuk ini?
"Ya udah." Aku memilih menuju kamar mandi, bersiap untuk sholat Isya dan tidur.
*
*
*
Keesokan hari di kampus, aku selalu memilih untuk tidak masuk ke kantor jurusan jika tidak memiliki sesuatu yang penting di sana. Aku lebih memilih langsung ke kelas setelah absen slip jari, lalu menuju kelas.
Laporan dari Pak Suhandi dan Bu Yeni terlalu berlebihan. Aku pikir tidak apa membawa anak ke kampus. Ternyata karena mereka terlalu melebih-lebihkan, membuatku kena sanksi disiplin.
__ADS_1
Hari ini aku masuk kelas mahasiswa yang memberikanku surat cinta. Aku harus bersikap tegas bahwa aku ini tidak bisa diperlakukan seperti yang waktu itu.
Terjadi lagi, surat-surat terletak di atas meja di ruang perkuliahan. Semua mahasiswa seakan menunggu moment agar aku membaca isi surat tersebut.
Kali ini, surat-surat itu aku buka didepan kelas. Semua yang memiliki mata terlihat membesarkan kornea yang mereka miliki. Namun, kertas-kertas itu aku tarik dengan suara yang membuat ngilu pada telinga.
"Lhoh, Pak? Kok dirobek?"
Terdengar suara keluhan tanpa ada rasa bersalah dan malu. "Saudara tahu, zaman saya sekolah dan kuliah dulu, tidak ada yang seperti ini."
"Saya tekan kan kembali kepada Anda semua, bahwa saya tidak menerima surat seperti ini lagi. Silakan mencari rekan sejawat yang lebih pantas untuk berkisah dengan Anda semua."
Sobekan kertas itu aku masukan ke dalam tong sampah yang tersedia. "Saya sudah menikah. Saya harap tak ada lagi yang seperti ini. Jika masih saya temukan, maka nama-nama yang ada dalam surat itu akan saya beri tanda."
"Paham?"
Semua wajah terlihat menunduk. Saya bisa baik, tetapi mereka tidak tahu bagaimana jika seorang Arendra marah besar. Apalagi ini menyangkut masalah rumah tangga.
Setelah perkuliahan selesai, Nesya mengajak makan siang. Hmm, aku masih merasa tidak nyaman dengan ucapannya semalam. Aku menyuruhnya pulang, tetapi terlambat. Nesya sudah berada di pintu kelas tempat aku menajar.
Semua mahasiswa melihat ke arah kami. Sepertinya Nesya sudah tidk merasa canggung lagi dan tumben sekali dia menjemput hingga di depan pintu ruang perkuliahan.
__ADS_1
Nesya melirik mahasiswi yang menatap panjang kepadanya. Dia menaikkan dagu seolah menantang adik-adik kelasnya itu untuk bergulat. Mahasiswi tersebut menundukan kepala dan bergegas meninggalkan kami.
"Sudah cukup?" tanyaku menarik dia.
"Belum." Nesya merangkul tangannya pada pinggangku dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada lenganku.
Ada apa dengan istriku ini? Biasanya dia selalu anti begini di hadapan orang lain. Katanya takut ada yang tidak suka plus malu bila mengumbar kemesraan. Kali ini dia kenapa? Padahal dia selalu juliid melihat artis-artis sok mesra di depan kamera.
"Kamu kesambet di mana?"
Tangan yang ada di pinggangku bergerak mencubit pinggangku. Rasanya begitu perih. Semenjak jadi istriku, Nesya sudah terlalu sering mencubitku. Apakah semua wanita identik dengan cubitan?
Oh ... Atau jangan-jangan ini masalah yang dia bicarakan tadi malam? Hmmm ....
"Aku mau pulang cepet ni, kamu jangan macam-macam sama mahasiswa yang itu. Aku hanya menyelamatkanmu dari mereka."
"Jadi beneran nggak mau makan siang dulu?" tanyanya kembali.
Oh, ya ... Ke mana rasa malas ketemu dengan Nesya yang tadi membelengguku?
Aksinya yang menggemaskan ini membuatku melupakan rasa kecewa yang membelenggu.
__ADS_1
"Ayo, makan dulu. Sambil membicarakan rencana Arendra Junior." Kali ini giliranku menautkan tanganku pada pinggangnya. Dia menepis, tetapi tetap tak membuatku goyah.
"Ini juga untuk menyelamatkan suamimu. Biar nggak dilirik wanita lain."