Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
57. Fit*nah sepupuku


__ADS_3

"Silakan isi form yang telah saya beri!" ucap seorang berseragam pada kedua pria dengan wajah yang telah bonyok, karena aksi hajar-hajaran barusan.


Saat ini kami sedang berada di kantor polisi yang ada di dekat toko. Pak Arendra dan Bang Jojo mengisi form yang diserahkan. Tak beberapa lama, keduanya menyerahkan form yang telah diisi.


Setelah itu, Pak Arendra menatapku yang duduk cukup jauh dari posisinya. Aku masih memikirkan alasan dia menyebutku sebagai calon istri. Padahal beberapa waktu lalu kami baru saja bertengkar.


Sementara di meja yang lain tampak Bang Alan duduk bersama istrinya karena sedang dimintai keterangan oleh pihak kepolisian yang lain.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya pria yang duduk di sebelahku.


"Ya ... heran aja. Aku merasa hari ini begitu aneh. Kenapa semua orang membuat onar di tempatku mengais rezeki?"


"Harusnya seneng dong dibilang calon istri?" pancingnya.


"Seneng gimana? Dia membuat semuanya semakin kacau! Meskipun dia sudah banyak nolongin aku sih." Aku lihat kembali ke arah Pak Arendra yang masih belum putus menatapku.


"Kakakmu sebenarnya kenapa ya?"


Bang Alven tersenyum tipis. "Mungkin dia suka sama kamu kali?"


"Jangan becanda. Dia itu sudah memiliki kekasih yang kalo tidak salah bernama Gendis. Seorang dosen di fakultas lain."


Dia kembali tersenyum tipis menatap Pak Arendra yang sedang diinterogasi oleh pihak kepolisian. "Ya, dia memiliki banyak penggemar. Mungkin kamu salah satunya."


"Iiih, ogah. Sifatnya aneh kayak nomaden tak jelas dalam waktu singkat."


Bang Alven mulai tertawa. "Kamu lucu juga."


"Kalian itu yang duo saudara lucu bin aneh! Yang satu datang pagi-pagi sambil marah-marah tak jelas. Yang satu ngikutin dari kampus dengan alasan tak jelas. Bahkan, tiba-tiba dia juga ada di sini."


Aku lihat kembali pada saudaranya yang seolah bangkit dan bergerak ke arahku. Dia memilih duduk di tengah, antara aku dan Bang Alven.


"Kalian ngomongin apa?"


Aku bangkit dan hendak beranjak dari pria ini. Namun dengan cepat dia menarikku untuk kembali duduk di tempat semula.


"Tidak ada yang boleh pergi dari sini sebelum aku selesai mengintrogasi kalian berdua."

__ADS_1


Aku menyilangkan kaki dan bersidekap dada dalam mode rapat, alias hening. Bang Alven tak terlihat lagi setelah tertutup oleh Pak Gula Aren.


"Ven ... beri satu alasan padaku! Kenapa kamu berada di tempat dia?" Dosenku ini menunjuk ke arahku dengan tangan kirinya. Aku dorong tangan yang tidak sopan itu.


"Menjaga kakak ipar," ucap adiknya itu.


"Kau jangan bercanda! Aku ini lagi serius!" Suara pria yang ada di tengah semakin meninggi.


"Terus kamu sendiri ngapain ke sini? Bukan kah harusnya mengajar? Bukan berkeliaran seperti ini!"


Pak Arendra terlihat sedikit gelagapan dengan pertanyaan adiknya. Aku pun merasa heran, kenapa dia seenaknya saja keluar masuk kampus pada jam perkuliahan.


"Bisa nggak, jawab pertanyaanku dengan baik?"


"Tergantung pertanyaan yang dilontarkan! Masuk akal atau tidak?"


Ucapan Bang Alven barusan membuat Pak Arendra tak bergeming. Setelah itu, Pak Arendra melihatku dengan wajah dinginnya.


"Aku dengar dari pria bernama Jojo itu kamu berduaan saja dengan adikku?"


"Ya."


"Tanya aja sama adiknya!"


Giginya terdengar bergemeletuk. Sepertinya, dia mulai geram denganku. "Kenapa kalian berdua ini? Orang bertanya, jawabannga dalam pertanyaan yang baru."


Lalu beberapa waktu kami hening dengan sesaat. Sebenarnya apa masalahmu dengan orang tadi?


"Harusnya aku laporin dia ke polisi, Pak. Dia sudah mencuri uangku!" Aku dengan semangat empat lima mengutarakan apa yang ada di dalam benak.


"Jangan asal bicara kau ya! Dasar, adik tak tahu diri!" Bang Jojo menjawab ucapanku dengan um pa tan nya meskipun dia masih duduk di hadapan seorang polisi.


"Saudari Nesya, harap duduk di sini sejenak. Kami membutuhkan keterangan dan informasi dari Anda."


Aku pun berjalan melewati Bang Alan yang masih duduk bersama istrinya. Wanita yang bernama Dian itu mendengkus saat aku lewat, aku masih bisa mendengarnya dengan baik.


Aku duduk di bangku yang bersebelahan dengan Bang Jojo. Kakak sepupuku ini melirik dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"APA?" tanyaku yang merasa tak nyaman dengan tatapannya itu.


"Sudah! Sekarang silakan isi form ini!" Polisi tersebut menyerahkan lembaran mengenai biodata tentang diri. Setelah selesai, aku segera menyerahkannya pada pria berseragam yang ada di balik meja.


"Apa maksud Anda hendak melaporkan saudara Jojo ke pihak kami? Apakah Anda merasa dirugikan olehnya?"


Aku lirik kembali Bang Jojo. Jika aku lapor, dia pasti akan masuk penjara. Jika dia dipenjara, setelah ini keluarga kami pasti akan berselisih.


"Hmmm ... enggak, Pak. Saya hanya bercanda." Akhirnya aku menyelamatkan dia. Aku tidak ingin, apa yang ada di pikiranku benar-benar terjadi.


"Dia itu, Pak! Saya sudah capek-capek bekerja, tetapi upah saya tidak dibayar sesuai semestinya."


Wanjiiirr, kurang ajar sekali pria tak tahu diri ini. Sudah diselamatkan, ternyata dia malah menjatuhkanku seperti ini. Aku tarik Bang Jojo. "Jadi Abang mau main dengan cara kasar?"


Dia menarik diri melepaskan tanganku. "Dia mengancamku, Pak," lapornya.


"Saudari, Nesya ... apa benar Anda mengancam saudara Jojo?"


"Bukan, Pak. Saya bukan mengancam. Hanya saja saya ingin mengingatkan bahwa kelakuannya ini sudah di luar batas."


"Dia bohong, Pak. Saya merasa ini sungguh tidak adil. Dia sudah mengambil hak saya, lalu mengancam saya. Dia pantas dimasukan ke dalam sel, Pak."


Bang Jojo semakin menjadi dengan dramanya. Membuat sang Polisi yang bernama BENI melirikku dengan tajam. Dia seperti akan menelanku hidup-hidup.


"Pak, boleh saya menyela?" Bang Alven berdiri dari posisinya tadi.


Terlihat Pak Arendra menarik Bang Alven untuk duduk kembali. Namun, tangan kakaknya ditepis dan dia berjalan ke arah kami.


"Saya tahu bagaimana sifat saudari Nesya ini, Pak. Dia ini merasa tidak enak pada saudara Jojo. Namun, melihat saudara Jojo tidak memiliki itikad baik, membuat saya tidak bisa duduk berdiam diri."


"Jangan percaya padanya, Pak. Lelaki ini adalah kekasih gelapnya! Diam-diam mereka melakukan sesuatu yang di luar norma di lantai atas, Pak." Bang Jojo semakin menjadi dalam memberi fitenah untukku.


"Bohong, Pak. Saya ini masih memiliki iman, Pak. Tak mungkin juga saya melakukan hal-hal tak seno nooh di rumah saya, siang hari, di tengah orang-orang sedang ramai di bawah."


"Sok-sokan beriman segala. Lalu kenapa dalam usia sembilan belas udah punya anak tiga tahun? Dia pasti udah blendung duluan, Pak. Jangan percaya pada wanita macam ini. Buktinya dia menggoda semua lelaki yang ada."


praak

__ADS_1


Aku pukul meja yang ada di depanku, hingga membuat polisi yang asik mengetik laporan perdebatan kami tersentak karena terkejut. Aku tarik kerah baju Bang Jojo.


"Sekali lagi kau banyak bicara, jangan salahkan aku melupakanmu sebagai saudaraku untuk selamanya."


__ADS_2