
Aduh, apa yang harus aku lakukan? Oh ya, aku harus segera menelepon panggilan darurat. Aku harus mengabarkan bahwa keadaan di sini sangat genting.
Dengan segera kubuka ponsel dan ada pesan masuk dari Bang Alven. Aku harus segera mengirim share lock.
[ Kirim pertolongan ke lokasi sekarang juga. Darurat 🙏🙏🙏 ]
Pesan telah dikirim dan aku mencoba hal lain yang kubisa. Kasihan Pak Arendra, seandainya saja tadi ke supermarket saja, semua tak akan seperti ini.
"Hahaha, lu pikir masih bisa bernegosiasi seperti ini dengan kami semua?"
"Kalau tidak keberatan, saya akan sangat berterima kasih."
Salah satu pria yang tertua, maju dengan sebilah sen ja ta tajam di tangannya. Pi sau itu dimainkan di dagu dosenku.
"Serahkan hape!" Tangannya menengadah pada Pak Arendra.
Pak Arendra mendorong pisau itu dengan ujung telunjuknya. "Oke, semua akan saya berikan. Asal kami semua dibebaskan dengan selamat."
Cahaya yang minim membuatku tak bisa melihat bagaimana ekspresi sesungguhnya dari kawanan perampok itu. Aku benar-benar harus segera belajar ilmu bela diri. Situasi dunia masa ini begitu sulit ditebak.
Aku hanya melihat di antara remangnya cahaya, Pak Arendra bersiap menyerahkan ponselnya. Namun, sepertinya itu hanya trik dari Pak Arendra hingga berhasil membuat be lati itu terjatuh dan dia berguling bagai film-film kungfu rebutan sen ja ta dengan pria tadi.
Bilah be lati itu beralih posisi berada di tangan Pak Arendra dengan posisi benda tersebut siap meng go res leher pria tadi.
"Kalian semua, lempar senjata yang kalian miliki atau kalian akan melihat dia bersimbah da rah karena ini."
Waaah, Pak Arendra ternyata keren dan jagoan banget. Aku memang sudah melihat kemampuannya, tetapi melawan orang banyak ini sungguh luar biasa. Dia berhasil memegang kendali membuat sosok yang diduga sebagai ketua berhasil dibuat bertekuk lutut.
Sepertinya ada yang hilang. Mataku liar mencari sosok sang aktor utama pelaku penjambretan. Dia tiba-tiba saja menghilang. Aku harus waspada.
kreek
Ada suara gerakan berasal dari arah yang sangat gelap. Aku bersiap dengan benda yang ada di tangan. Ya ... paket belanja yang tadi ku beli sudan siap untuk aku jadikan senjata, jika terlalu mendesak.
tap
tap
tap
Telinga ku pasang sedemikian rupa. Setiap langkah dan arah kutelusuri dengan cermat. Dia dari arah timur laut mengendap-endap terus berusaha mendekat.
Ooh, ya ... Elena segera aku masukan ke dalam gendongan. Aku tak ingin anakku dijadikan tameng oleh pen ja hat ini, seperti film-film laga yang pernah aku tonton.
Langkah kaki orang itu terdengar semakin dekat. Tanganku langsung masuk ke dalam keranjang belanjaanku tadi. Sepertinya aku sudah memegang ekor ikan nila.
Gerakan orang itu semakin cepat hendak menerkamku. Ikan nila yang aku pegang, kupu kul kan pada wajah sang jambret tadi.
pak
pak
pak
"Aarrgh!"
__ADS_1
Dia berteriak mendapat serangan senjata ikan. Masa sih? Sama ikan aja dia udak KO?
pak
pak
pak
Aku pukulkan kembali ikan nila ukuran 2 kilo itu kepada pria kecil tadi.
"Ampuuun! Ampuuuun!"
Dia meringkuk melindungi wajahnya. Ternata dia kesakitan karena sirip nila yang tajam telah melukainya. "Mau macam-macam sama kaum emak, kau ya? Rasakan ini! Rasakan ini!"
pak
pak
pak
"Cepat berikan dompet itu!"
pak
pak
pak
Aku me nye rang nya dengan membabi-buta. Sudah tidak memedulikan bagaimana lagi keadaannya saat ini. Akhirnya dia menepis sen ja ta bio logisku lalu kabur. Dia membuat calon makanan kami terpental entah ke mana.
Dengan kesiagaan delapan enam, Elena terus kujepit memastikannya untuk aman. Lalu mencari-cari ikanku kembali.
Aku dikejutkan oleh suara dari arah Pak Arendra yang tadinya sudah memimpin peperangan. Dia tengah dikeroyok beramai-ramai oleh seluruh kelompok maling tadi.
dugh
dugh
dagh
dagh
Suara pu ku lan demi pu ku lan terus mengisi suasana malam yang semakin sunyi. Sementara aku, merasa kehilangan lauk yang akan aku goreng esok subuh.
"Aaahh ... ikanku ... di mana kamu? Sini, kita bekerja sama lagi. Aku akan mendoakanmu tenang dan masuk sorga menjadi makanan para bidadari di sana. Aku janji nanti akan menguburmu saja dan membatalkan menggorengmu menjadi flying fish. Biar lah ikan terbangnya berada di televisi saja."
Aku terus mengubek-ubek rerumputan karena cahaya remang, dan tidak bisa memegang ponsel karena Elena tengah menjepit dalam rangkulanku.
Sepertinya aku berhasil menemukan ikan yang hilang tadi. Dengan segera ku bawa benda itu yang terus menggeliat saat aku pegang. Aku tak lagi melihat apa yang aku pegang.
Yang penting sisiknya masih sama dan bentuk ekornya sudah semakin berbeda. Aku mengarahkan ikanku tadi seperti yang aku lakukan kepada salah satu anggota mereka tadi.
Aku pukulkan, tetapi kali ini bentuhknya lebih panjang dan aku merasa geli sendiri saat menyadari telah salah menangkap benda.
Benda itu melayang pada tubuh para bangsa maling itu. Mereka melihat benda apa yang aku lemparkan dan kami berteriak melihat makhluk itu menggeliat.
__ADS_1
"Ulaaar ...."
"Ulaaar ...."
"Ulaaaaaar ...." Aku berteriak sungguh sangat histeris, membuat orang-orang itu menepis makhluk melata yang masih hidup tersebut dan kabur.
Pak Arendra turut menarikku menjauh dari ular itu. Aku mengajak dosen tadi ke tempat aku berdiri tadi.
"Mau ngapain lagi?" bentaknya gemas.
"Belanjaanku!"
"Masih sempat mikirin itu?" rutuknya.
"Iya dong, Pak. Nyari duit itu susah lhoh, Pak? Aku langsung mencari-cari ponsel di dalam kantong karena merasa sedikit lebih senggang.
Senter pada ponsel aku nyalakan dan mencari keberadaan keranjang. "Nah, itu!" Akhirnya aku menemukan keranjang belanjaan dan ... sepertinya aku menginjak sesuatu yang aneh.
Aku sorot dengan senter ponsel tadi, ada sebuah dompet yang cukup tebal tergeletak di sana. Aku angkat dan Pak Arendra langsung bereaksi.
"Ini dompetku tadi."
"Beneran?" Dia mengangguk.
"Yakin?" Dia mengagguk kembali.
"Kalau begitu sebutkan berapa nominal uang yang ada di dalamnya?"
Karena merasa gemas, dia langsug merebut benda itu dari tanganku. "Mesti ya, menggunakan deteksi kejujuran saat genting seperti ini?"
"Yaaa, siapa tahu hanya akal-akalan Bapak kan?"
Lalu aku sigi kembali sekitaran di mana ikanku hilang. "Naaah, itu! Ikanku ... akhirnya aku tidak jadi rugi. Kamu tetap akan aku masak, karena bukan kamu yang menolong ku tadi kan?"
"Jadi ular tadi itu sengaja kamu tangkap atau tidak?" tanya Pak Arendra.
"Hahaha, Bapak ini ada-ada saja? Emangnya saya ini Tarzan? Raja para hewan, bisa menakhlukan ular juga."
"Lalu tadi itu?"
"Itu tidak sengaja, Pak. Tadi aku pikir itu ikan yang aku jadikan sen ja ta. Ternyata bukan, malah dapat senjata bio logis yang lebih handal lagi. Jadi berhasil membuat mereka lari terbirit-birit kan?"
"Syukur laah, jika semua baik-baik saja." ucapnya.
"Syukur juga dompet Bapak bisa ditemukan lagi." tambahku.
Dari kejauhan terdengar sirine mobil polisi. Sepertinya bntuan yang dikirimkan Bang Alven telah datang.
Pak Arendra membantuku membawakan keranjang tadi. Sementara Elena tidak mau lepas dari rangkulanku. Suara sirine terdengar sangat dekat dan dari arah yang cukup gelap, muncul sosok pria yang lebih muda dari dosenku ini.
"Kalian tidak apa-apa?" tanyanya.
"Teeelaaat!" rutuk Pak Arendra
*
__ADS_1
*
*