Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
6. Adik kakak


__ADS_3

Bang Alan tidak terlihat semenjak tadi. Katanya mau membeli koin untuk menggerakan permainan tersebut. Aku gandeng Elena mencari Bang Alan. Namun, mataku langsung menangkap Bang Alan tengah asik bersenda gurau dengan Nina. Teman SMP-ku yang dulu sempat diincarnya.


"Nina?" Aku berjalan mendekati mereka. Nina terlihat semakin cantik dan memesona. Aah, saat ini aku merasa bagaikan itik yang buruk rupa dibanding Nina. Apalagi tatapan Bang Alan tidak teralih sedikit pun meski aku sudah hadir di dekatnya.


Nina pun memandangku dengan sedikit lirikan. Secara refleks membuatku memperhatikan dandanan kembali. Aku merasa kepercayaan diriku menguap, hilang begitu saja.


"Nina, apa kabar?" tanyaku.


"Kamu bisa lihat sendiri." Nina melihat gadis kecil yang aku gandeng. Nina berjongkok mencoel dagu Elena."Udah gede aja ya, Dek?" Dia merogoh kantong dan memberikan lolipop kepada anakku yang masih satu setengah tahun


"Jangan!" Mulutku mengucapkanya dengan refleks.


Nina kembali berdiri melihatku dan permen secara bergantian. "Ya udah kalau nggak boleh." Dia memasukan kembali ke dalam kantong celana joger yang membuatnya tanpak sangat keren di mataku.


"Lebay amat sih? Cuma satu doang, terima aja lah!" Suara itu keluar dengan tajam dari mulut suamiku. Orang yang harusnya mendukung setiap keputusanku.


"Iya, adik-adik dan keponakan di dusun, aku beri permen dan coklat sesuka hati saja. Ini baru sebuah permen udah dilarang?" Nina menatap Elena kembali.


"Duh, kasihan kamu, Dek. Punya Ibuk over protektif.


"Pokoknya sebelum dia pintar gosok gigi, dia belum boleh makan ini." Aku tatap Bang Alan yang seperti malu melihatku menjawab seperti ini.


Kenapa dia malu? Apa dia lebih suka melihat gigi anaknya rusak sebelum tumbuh? Hmmm, atau karena dia masih menyukai Nina?


"Sekarang bagaimana sekolahmu Nin?"


"Wah, kamu tidak tahu ya? Sekarang ini aku sudah berkuliah." Lalu dia menatapku kembali dan membuang muka. "Oh iya, kamu tidak bersekolah."


jleeeb


Aku merasa hati ini seperti ditusuk oleh sebuah pedang yang begitu tajam. Aku tahan air mata yang bersiap membanjiri pipi. "Oooh, kamu sudah kuliah? Hebat ya? Semoga sukses."

__ADS_1


Aku masukan Elena pada gendongan instan yang sudah melilit di tubuh. Aku bergerak meninggalkan kedua orang itu. Anehnya, Bang Alan tidak mengejarku sama sekali. Siial, dugaanku semakin kuat, meyakini Bang Alan memang masih menyukai Nina. Apalagi Nina terlihat semakin cantik dan bergaya. Berbeda sekali denganku yang terlihat menua di usiaku yang masih delapan belas tahun.


Aku segera keluar dari gedung itu menuju pantai yang berada tepat di depan pusat perbelanjaan yang kami datangi ini. Cukup berjalan kaki beberapa meter, aku sudah berdiri di hadapan deburan ombak. Aku bisa berteriak mengeluarkan apa yang aku rasakan.


"AAAAAAHHHH ... KENAPA TIDAK MENGEJARKU, SIALAN? DAN KAU? MENTANG-MENTANG BAPAKMU PUNYA BANYAK UANG YA?"


Elena tak putus menengadahkan wajahnya menatapku, dia masih tergantung dalam gendongan. Mungkin Elena merasa heran, tiba-tiba Ibuk-nya menjadi gila. Ibuk-nya menggila karena ayahnya yang masih tergila-gila pada cinta masa bujangnya.


Aku coba mencari sesuatu pada tas yang berisi perlengkapan bayi. Aku mencari kotak bedak untuk bercermin. Aku tatap diri ini yang memang terlihat lebih tua dibanding Nina karen beban yang aku emban harus bisa aku selesaikan sendiri.


"Aaaahh, siiaal." Aku lempar asal kotak bedak itu karena merasa kesal.


"Aaauuww ...."


Terdengar suara teriakan pria. Aku segera menoleh ke arah suara itu. Tampak pria dengan celana digulung hingga lutut memegang kotak bedak yang aku lempar tadi sambil mengelus kepalanya.


"Uuuppss ...."


"Ini punyamu?"


Aku pun segera melihat benda itu, menggelengkan kepala dengan cepat. Lalu pria itu melepaskan tangan yang tadinya menarik tali yang ada di belakang. Aku melanjutkan kabur, dari pada masalah semakin bertambah.


"Hei! Kau jangan berbohong!" Suara ketus itu terdengar samar oleh telingaku. Suaranya bercampur suara deburan ombak hingga hanya terdengar seperti bisikan-bisikan jin laut yang lewat di telinga.


Aku terus melangkah kan kaki. Dia kembali menarik gendongan yang ada di belakang punggungku. "Mau ke mana?"


Dia langsung berdiri di hadapanku. Aku menundukan kepala. Aku tak mau dia melihat wajahku dengan seksama. Namun, tangan Elena menjangkau pria yang tidak aku kenal tersebut. Elena ingin digendong oleh dia. Aku lirik sejenak, rambutnya tampak klimis tak tergoyahkan oleh angin laut yang berhembus dengan kencang.


Kutangkupkan kedua telapak tanganku. "Maaf, Pak ... eh Maaf Om ... Saya sungguh tidak sengaja."


"APA?" kali ini dia berteriak tepat di depan telingaku. Dia bersidekap dada sambil menggenggam kotak bedak tadi.

__ADS_1


"Ayo, mana orang tua kalian. " ucapnya.


Aku angkat wajah kembali memperhatikan pria super rapi itu. Dia terus memperhatikan aku dan Elena secara bergantian. Alis matanya tampak naik sebelah meletakkan kedua tangannya di pinggang. Kepalanya berputar melihat ke segala arah.


"Apa kamu tidak mendengar apa yang saya tanyakan? Orang tua kalian ada di mana? Kalian ini adik kakak kan?"





Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.



Napen Author: Senja_90


Judul karya: Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil


Blurb:


Blurb : Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga. Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.


Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.


Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.


Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?


Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!

__ADS_1


__ADS_2