
"Akhiri hubunganmu dengannya!"
Lingga kembali terpaku, menatap apa yang ada di tangannya. "Apa aku coba bertahan dulu? Aku akan mengembalikan ponsel ini kepadanya. Jika memang ini adalah penyebanya berubah, lebih baik aku tidak usah mendapatkan apa pub darinya."
Aku menepuk kening melihat kebucinan sahabatku ini. "Maaf kan aku Lingga, seperti nya aku salah membiarkanmu dekat dengannya. Seharusnya aku melarangmu semenjak awal untuk dekat dengannya. Hanya saja, beberapa waktu dulu dia memperlihatkan perubahannya hingga membuatku yakin jika dia benar-benar telah berubah."
Lingga kembali mengangkat wajahnya. "Aaah, ini salahku juga sih. Aku itu paling tidak tahan lihat pria berwajah tampan. " Lingga menangkupkan kedua tangan pada pipinya.
"Jadi, bagaimana dengan keputusanmu? Apakah akan tetap melanjutkan bersamanya, atau mengakhiri semua?"
Lingga hanya tersenyum kecut mengedikkan bahu. Dia sungguh membuatku merasa sangat gemas karena sepertinya, dia masih ingin melanjutkan kisah kasih yang tidak sehat ini.
"Huuuffftt ...." Akhirnya aku menghela nafas panjang. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain memegang bahunya.
"Apa pun keputusanmu, aku akan mendukungmu. Tapi, aku mohon kamu mengatakan padaku apa pun itu. Agar aku bisa memikirkan bagaimana cara menyuportmu dengan segala pilihanmu."
"Ekheeem ...."
Sebuah deheman memecahkan konsentrasi antara dua wanita yang sedang berbicara dari hati ke hati.
"Aku tak menyangka istriku super sekali di hadapan teman dekatnya."
Aaah, apa maksudnya? Kenapa dia malah berbicara begitu tentangku? Seperti ada sesuatu yang ingin diungkapkannya, tetapi mengujiku terlebih dahulu.
__ADS_1
"Emangnya selama aku menjadi istrimu aku tidak super apa?"
Suamiku tidak bisa menyembunyikan tawanya. Meski kali ini dia mengeluarkan tawa yang lebih berkarisma dibanding biasa. Yaa, di sampingku ada salah satu mahasiswa, aku paham. Dia selalu jaim dan sok cool.
Aku teringat kembali akan pertemuan dengan Pak Suhandi. Apakah memang baik-baik saja? Seolah rasa kalut yang tadi aku lihat saat dia bersama beliau, lenyap begitu saja.
"Nesya, sepertinya aku mau pulang dulu. Kamu mau bareng Pak Rendra kan?" tanya Lingga.
"Iya nih, aku harus membantunya mengurus beberapa hal penting. Kamu hati-hati, ya?"
Lingga menganggukan kepala melambaikan tangannya. Setelah Lingga cukup jauh, aku segera berdiri di samping orang yang menjadi imamku ini.
"Ayo, apa lagi nih yang harus aku bereskan?"
Dua hari kemudian, tiba lah waktunya pengukuhan suamiku sebagai Ketua Program Studi Akuntansi Murni. Program Studi bagi mahasiswa non keguruan. Karena di jurusanku ada banyak sekali program studi. Masing-masing program studi dikepalai oleh orang-orang yang dipercaya mampu untuk memimpin, dan yang dipilih oleh Dekan Fakultas.
Kebetulan sekali suamiku adalah orang yang dipilih oleh Dekan secara langsung. Ini adalah sebuah kehormatan yang tiada tara menjadi orang yang terpilih.
Dengan perasaan haru, aku lihat suamiku mengenakan jas dengan sangat rapi, layaknya eksekutif di perkantoran besar. Suamiku, ya ... Suamiku, dia akan menjadi pemimpin bagi program studi kami.
Usai pengukuhan, aku menyerahkan satu buket bunga kepadanya. Keluargaku dan keluarganya menghadiri acara resmi ini, tidak lupa ada Elena juga.
Setelah sekian lama, akhirnya Bang Alven memperlihatkan batang hidungnya di hadapanku.
__ADS_1
"Selamat ya atas pernikahan kalian. Maaf, aku tidak bisa hadir karena ada jadwal ujian yang tidak bisa ditinggal."
Bang Alven menyampaikannya dengan wajah yang kaku. Ya, dia kembali menjadi orang yang dulu, orang yang susah untuk didekati.
"Selamat juga ya Bang, malah dapat projek di perusahaan Papa bersama dosennya." ucapku.
Dia hanya mengangguk kan kepala lalu pergi. Dia kenapa ya? Apa dia marah padaku? Akan tetapi, apa alasannya marah padaku?
"Buuuk, Elena takut sama Om Apen ... Ayooo kita ke sana ajaaa." Elena menarik ku ke arah suamiku yang sedang berbincang dengan orang penting.
"Jangan, Sayang. Papa lagi sibuk. Kita ke sana aja." Aku menunjuk area lain yang tersusun banyak tanaman hias.
Dari pojok ruangan, aku melihat sosok yang sangat lama tidak terlihat. Orang itu yang sempat ditangkap karena membayar orang untuk mencelakaiku. Bu Gendeng, maksudku Bu Gendis tengah berbincang tentang seseorang bersama beberapa dosen lainnya. Seseorang itu masih sama, yaitu suamiku.
"Pak Rendra hebat sekali ya? Jika dulu jadi bersama kamu, aah ... Kamu pasti bangga banget dapat suami seperti dia." ucap salah satu rekan bicara Bu Gendis.
"Iya, gimana lagi. Dia sudah didukuni oleh janda dari desa itu. Makanya dia klepek-klepek sampai gulang-guling mengejar janda beranak satu itu."
Aku pura-pura sibuk menemani Elena bermain. Akan tetapi, telingaku sangat aktif mendengar obrolan yang sepertinya sengaja mereka buat dengan volume seratus persen.
Elena berlari kecil mendekati orang-orang itu. Lalu Elena memukul Bu Gendis yang membicarakan ibunya.
"Ibuk ku itu cantik, nggak kayak Tante mirip nenek sihir. Gak mungkin Papa yang ganteng suka sama nenek sihir."
__ADS_1