
Boleh pamer pendapatan ga ya? wkwkwkw ... siapa tau dengan melihat ini, kakak-kakak reader jadi lebih ikhlas memberikan author semangat dalam memberikan hadiah, dan like nya 😂😂😂 Entah kenapa karya kali ini pendapatan kacau banget dibanding sebelum-sebelumnya.
Jika kakak reader nyawer dengan vote, iklan, koin, bunga, kopi, meski hasil yang ga seberapa, bisa membuat Author tetap semangat dalam berkarya. 🙏😇 Insya Allah seminggu ini Author akan up 3 bab sehari yaa ... doakan semuanya lancar yaa ... terima kasih.
*
*
*
"Kamu? Bukannya kamu ibu dari anak kecil bernama Elena itu?"
Aku lihat ke arah bawah sosok yang sudah menyelamatkanku dari ambruknya motor ini, ternyata itu adalah kembaran, hmmm, maksudku saudaranya Pak Arendra. Aku bingung harus panggil siapa, anggap saja aku harus memanggilnya dengan Bang Alven.
"Oh ... eh, iya Bang Alven. Benar sekali," bisikku sembari memberi kode telunjuk di bibir. Aku lanjutkan mengambil kunci tadi yang masih menggantung di satu paku yang sedikit nongol. Lucu sekali hidup ini, sang kakak hampir membuatku cidera, dan dibatalkan oleh sang adik.
tap
Kunci berhasil kuraih dan aku langsung bersiap turun. Pria itu menatapku dengan muka datar.
"Terima kasih, Bang."
Tanpa jawaban, dia mengangguk dan beranjak. Dia menuju gedung fakultas kami. Barangkali saja dia ingin mencari sang kakak.
"Bang, Pak Arennya sedang keluar." Aku sedikit bersorak, karena posisi dia semakin jauh.
Dia berhenti dan berbalik arah kembali ke arahku. "Kenapa tidak bilang sejak tadi?" Dia pun berlalu tanpa permisi.
Sepertinya, apa yang dikatakan oleh Kak Vina itu memang benar. Aku mulai yakin sebenarnya mereka memang mirip luar dalam. Bagai pinang dibelah dua meski bukan saudara kembar.
Aku pun melaju mendahului pria yang menolongku tadi. Dia baru menyalakan motor. Saat di gerbang kampus, dari arah berlawanan Pak Arendra muncul dan melirik ke arahku dengan tatapan dingin.
"Aaah, sial! Ternyata mereka memang sangat mirip." Aku turunkan kaca helm dan segera berlalu. Entah bagaimana lagi nanti saat bertemu dengannya.
Untuk menghemat waktu, aku tancap gas dengan kecepatan tinggi. Jarak yang lumayan jauh antara kampus dan rumah, membuatku sering berpikir untuk pindah lokasi bisnis. Jika bisnis di area kampus, tentu akan jauh lebih lancar dari tempat biasa.
__ADS_1
Namun, jika membuka baru kembali, tentu semuanya harus dimulai dari nol. Hmmm ... tidak hanya itu, tentu saja semua orang akan tahu aku sudah memiliki anak.
Aku belum siap untuk membuka jati diriku yang sebenarnya. Hingga aku membatasi diri bergaul dengan teman kuliah lainnya. Apakah aku ini terlalu berlebihan?
Setengah jam perjalanan, akhirnya aku sampai dan hal lain yang aku hindari pun ternyata sedang berada di sini. Terkadang dia membuatku merasa heran. Apakah dia tidak memiliki sesuatu yang disebut dengan rasa malu?
Bang Alan tengah menggendong Elena, dan asik ngobrol dengan Bang Jojo. Apakah sudah selesai ya? Mereka bertiga menengok serempak ke arahku.
Elena tampak beringsut turun dari gendongan ayahnya mengejarku. Bang Alan masih menyunggingkan senyuman khas miliknya, dan Bang Jojo memberikan senyuman kikuk.
"Sudah pulang aja, Sya?" tanya Bang Jojo.
Elena langsung memeluk dan memegang tanganku. "Ada yang ketinggalan, Bang," jawabku asal atas pertanyaan Bang Jojo.
"Elena habis ngapain hayo?" Perhatianku beralih pada Elena yang memainkan tanganku sembari nyengir melihat sang ayah.
"Tadi ayah ajak Eyena jalan-jalan naik mubil, Buk. Enaaaaak naik mubil, Buk. Ayo kita beli mubil, Buk." Elena menatapku dengan wajah bahagianya.
Aku hanya bisa membelai kepala putri kecilku. "Elena pengen punya mobil?" Gadis kecil itu mengangguk.
Aku pun melihat reaksi orang yang selalu sama muncul terekam dalam CCTV yang aku gunakan. Dia tampak canggung dan sedikit tegang.
"Dek, bagaimana kabarmu saat ini?" Bang Alan memecahkan perhatianku yang asik menikmati ketakutan dari seseorang yang membuatku kesal.
"Kamu bisa lihat sendiri!"
Mantan suamiku mengangguk sedikit canggung. "Kamu semakin cantik saja, Dek."
"Masa? Bukan kah aku sudah seperti ini semenjak dulu? Hanya saja, saat itu kamu bosan padaku, sehingga kamu tak menyadari dan melupakan segalanya."
Dia tertegun dan aku pun tak peduli. Aku gandeng gadis kecil permata hati yang selalu menemani hari. Kami menuju ke bagian atas sebagai tempat untuk beristirahat. Aku berencana ingin membuka ponsel mengecek video rekaman hari ini.
"Waaah, kamu hebat, Dek. Sekarang sudah bisa menikmati hasil kerja keras yang kamu lakukan semenjak kita bersama dulu."
Bang Alan mengikutiku hingga ke atas. "Kenapa kemari? Selain pemilik dilarang naik ke atas!"
Dia seperti sengaja melempar malu, duduk di atas sofa sederhana yang ada di sana mengedarkan pandangan melihat seisi dinding yang dipenuhi oleh fotoku dan Elena.
__ADS_1
"Bahkan satu kenangan tentang kita pun tak terlihat sama sekali," gumamnya.
"Apa masih perlu aku jelaskan alasannya?"
Dia tersenyum kecut dan mengusap wajahnya dengan kasar. Aku pun pasrah dengan segala tingkahnya. Kubiarkan dia duduk dan menyuruh Elena memberikan ayahnya air minum mineral merek lokal.
"Bagaimana dengan keadaan anakmu dengan wanita itu? Kenapa kamu sibuk sekali bolak-balik tak jelas seperti ini? Bahaya lho, jika anak kamu tinggal di dalam mobil?"
Dia menggelengkan kepala menyandarkan diri pada sandaran sofa dan menengadahkan kepala menatap plafon rumahku ini. "Bagaimana hubunganmu dengan pria itu? Aku perhatikan, ternyata hubungan kalian terlihat semakin dekat saja. Apakah kalian memiliki rencana untuk menikah?"
"Ooh ... ya, kami baik-baik saja. Menikah? Entah lah ... aku belum memikirkannya."
Aku mulai mengecek CCTV kembali. Aku langsung pindah pada waktu yang sama setiap maling itu beraksi. Akan tetapi, sepertinya hari ini dia belum memulai aksinya.
Apa langsung aku labrak dengan bukti yang sudah ada? Atau mungkin harus aku tunggu dengan mode operasi tangkap tangan? Namun, sebelum semua berjalan dengan mulus, pendapatan harian yang aku terima, tentu saja akan terus terkuras.
Padahal di dalam sana, aku harus membayar gaji para pegawai, termasuk dia. Atau aku potong sekalian saja gajinya? Biar dia tahu rasa sendiri karena telah menghianati orang yang sudah tulus memberikan kepercayaan kepadanya?
"Sedang memikirkan apa, Dek? Apa kamu lapar? Ayo, makan siang di luar bersamaku!"
Aku menggelengkan kepala. Aaah, sia-sia perjalanan balik ke rumah saat ini. Padahal aku ingin sekali mempermalukannya. Namun, sepertinya masih belum hari ini.
"Ibuuuk, Eyena lapal. Mau itut Ayah mamam jalan-jalan pakai mubil."
"Dek, Abang pisah dengan Dian." ucapnya tanpa aku tanya.
degh
"Lho? Kenapa pisah? Kalian kan sangat cocok kalau dilihat dari sisi mana pun."
Dia terlihat tersenyum kecut. "Jadi kamu berpikir seperti itu?"
"Menurutku sih, seperti itu. Apa kamu mau memperlakukan anakmu itu seperti Elena kembali? Atau, mungkin kamu mau kembali pada pekerjaanmu itu?"
Dia menatapku dingin dengan sesaat. Akan tetapi, wajahnya pun berubah sendu. "Ya ... aku tahu ... aku yang bodoh dan kotor ini, memang tak akan pantas untukmu."
Dia terdiam sejenak. "Kamu tahu? Aku sedang berusaha merubah diri, berharap bisa benar-benar disepadankan oleh-Nya untuk bisa kembali padamu."
__ADS_1