Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-47. (pov Arendra) Pria cacat


__ADS_3

Tubuhku terasa sangat kaku. Apa yang terjadi? Kenapa tanganku terasa berat?


Saat aku mencoba untuk menggerakkannya, ternyata terasa cukup berat. Ada uraian yang halus tetapi aku masih belum fokus itu apa. Benda yang tadi membuat tanganku terasa berat pun bergerak.


"Mas? Mas? Udah bangun?" Tanganku digenggam dengan sangat erat.


Bukan kah itu Nesya? Istriku tercinta? Namun, itu pergi begitu saja. Aku belum sempat menyapanya, tetapi dia pergi entah ke mana.


Aku membuka mata, tetapi kenapa terasa berat? Apa katup mataku tidak mau terbuka? Saat aku mencoba untuk menggerakkan tubuh pun, aku tak sanggup.


Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuh ini?


keclek


Aku mendengar suara seseorang membuka pintu, bukan seorang ... ternyata beberapa orang. Namun, siapa mereka?


"Sayang? Sayang? Apa itu kamu?"


Aku mencoba menggerakkan tangan, ternyata masih kaku. Ah, bagaimana ini? Kenapa semua gelap?


"Selamat malam, Pak Rendra. Alhamdulillah, akhirnya Anda bangun juga."


Siapa itu? Bangun? Aku baru bangun? Memangnya sudah berapa lama aku tidur?


"Si-siapa?"


Beberapa saat suasana terdengar hening. "Apa Bapak tidak melihat kehadiran kami?"


"A-aku tidak bisa melihat kalian, semua gelap. Apakah listrik sedang padam?"


Namun, suasana kembali terdengar hening. "Siapa di sana? Mana istri saya?"


"Kami adalah tim kesehatan yang sedang piket malam ini. Saya sendiri adalah dokter yang bertugas, ditemani dua perawat yang akan membantu. Apalah Bapak melihat keberadaan kami?" tanya seorang pria yang mengaku sebagai dokter.


"Saya tidak melihat siapa pun di sini. Semuanya gelap—" Tiba-tiba, aku teringat kata rumah sakit. Bayangan tabrakan mendadak dari arah belakang kembali terlintas dalam benakku.

__ADS_1


"Dok, saya tidak bisa melihat. Apa ini artinya saya buta?"


Dokter tersebut kembali hening dalam beberapa waktu. "Dok, katakan sejujurnya!"


"Kami akan melakukan pemeriksaan, mohon tunggu sejenak ya, Pak."


Aku tidak tahu pemeriksaan seperti apa yang dilakukan kepadaku. Sama sekali tidak terlihat sedikit pun dan membuatku merasa sangat sesak. Sepertinya, saat ini aku benar-benar buta.


"Dok, Dok!" Aku mencoba mengangkat tanganku yang masih terasa kaku dan berhasil. "Apa benar aku buta, Dok?"


Aku mendengar helaan napas panjang beberapa orang yang memeriksaku. "Katakan dengan jujur, Dok. Apa aku benar-benar sudah menjadi buta?"


"Sepertinya, esok pagi kita harus melanjutkan pemeriksaan lebih lanjut. Kita harus menyelidiki penyebab kebutaan Anda, apakah ini permanent atau untuk sementara."


Aku seperti mendapat hantaman yang lebih keras dibanding saat mendapat hantaman oleh kendaeaam yang menabrakku. Mulai malam ini, aku adalah pria buta. Aku hanya pria cacat yang ke mana-mana akan selalu memegang tongkat.


Aku hanya akan menjadi suami yang tidak berguna bagi istriku. Akan menjadi ayah yang tak sempurna bagi anak-anakku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan.


"Kami akan memanggil istri Anda ya, Pak. Biar dia bisa mengetahui apa yang terjadi, dan kami memerlukan banyak persetujuan darinya dalam tindak lanjut berikutnya."


"Baik, Pak."


Setelah itu, aku mendengar suara derap langkah yang menjauh, terdengar suara tarikan pada gagang pintu dan sepertinya ada langkah lain yang terdengar masuk.


"Mas? Mas? Beneran sudah bangun?" Dia sudah menggenggam tanganku. Aku pun turut menggenggam tangan itu. Namun, otakku terus menentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak sanggup mengatakannya.


"Bagaimana keadaan suamiku, Dok?" tanyanya.


"Coba Mbak ajak suaminya berbicara terlebih dahulu," ucap Dokter yang tadinya memeriksaku.


"Mas, apa kamu mendengar suaraku?" Suaranya terdengar was-was. Aku harus meyakinkan dia, bahwa aku baik-baik saja.


"Sa-sayang ...." Dengan usaha keras, aku mencoba mengangkat tangan ini. Aku berhasil memegang rambut panjangnya yang lurus. Setelah itu, dagunya kuraba, dan aku merasakan kulitnya yang sedikit lunak.


Sepertinya ia tidak bisa beristirahat dengan baik selama aku dirawat di sini. Aku rindu wajah ini, aku hanya bisa membayangkan bahwa setiap sentuhan akan dirinya yang dulu setiap hari kulihat. Pipip dan bibir yang tak pernah puas untuk aku kecip, matanya yang selalu bulat bila ia terkejut, wajahnya yang terlihat cantik saat ia tersenyum.

__ADS_1


"Syukur lah, Mas ... Syukur lah kamu kembali." Ia melayangkan kecupan berulang, meskipun kali ini aku tidak bisa menikmatinya.


Namun, tentu saja aku bersyukur, aku masih hidup. Meskipun hanya sebagai orang yang tidak berguna. Batinku masih menolak dengan diriku yang baru. Sepertinya, aku belum siap menjadi seperti ini. Air matanya terus jatuh begitu saja tiada henti.


"Kenapa kamu menangis?" tanyanya.


Wajah yang ada di dalam bawanganku pun kembali kusentuh. Aku ingin membalas kecupannya. Aku ingin memperlihatkan bahwa aku akan merindukan wajah itu hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Wajah cantik istriku, hanya ada di dalam kepala.


Aku tarik agar ia mendekat, dan aku kecup keningnya, setelah itu langsung aku peluk. "Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menemaniku selama ini."


Nesya menarik tubuhnya, tetapi ia hening tak bergeming. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan.


"Mas, apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Apa kamu bisa melihatku?"


Ah, apa aku terlalu kentara terlihat seperti orang buta? Dia tidak boleh tahu! Aku tidak ingin dia tahu apa yang menimpaku. Aku takut ia merasa terbebani, memiliki suami yang tiba-tiba saja menjadi buta.


Aku rentangkan tangan. Ia pun langsung memelukku. "Kamu bisa lihat sendiri kan? Aku tidak apa kok, Sayang. Aku harus bangun untuk bersiap menjadi ayah untuk anak kita."


"Kamu jangan maksakan diri, Mas. Pekerjaan dan anak-anak urusan nanti. Yang perninh saat ini kamu sehat dulu."


Kening ibu dari anak-anakku kembali kukecup. "Tumben gak protes? Biasanya aku disuruh mandi dulu atau sikat gigi dulu sebelum menciiuummu." Bagaimana pun juga, aku tidak boleh membuatnya menjadi khawatir. Dia tidak boleh sampai curiga dan tahu bahwa aku tidak seperti suaminya yang sebelumnya.


"Mas, maafkan aku yang selalu membuatmu susah. Mulai hari ini, aku tidak akan menyusahkanmu lagi. Aku tidak akan marah-marah lagi. Aku akan membeli semua keperluan sendirian tanpa menyusahkanmu," ucapnya tanpa ragu.


"Kok gitu? Aku ini suamimu. Aku sangat senang jika bisa menjadi suami yang berguna untukmu. Aku akan selalu ada untukmu."


Nesya menyandarkan dirinya padaku. Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana setelah ini. Bahkan, berjalan pun aku sudah tidak bisa sendirian. Namun, dia tidak boleh tahu.


"Maaf, ya Mbak Nesya. Saya akan melanjutkan pemeriksaan."


Nesya melepaskan diri dari pelukanku. Tangan lembutnya mencubit pipiku. "Nanti setelah dokter selesai, aku akan menemamu."


Cup


Kali ini kecupan itu mendarat di bibirku.

__ADS_1


"Kenapa tidak mengatakan secara langsung bahwa saat ini mata Anda tidak bisa melihat? Ini akan menyusahkan Anda sendiri!"


__ADS_2