Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-32


__ADS_3

"Selagi bisa menghindar, aku akan menghindar," ucapku yang kokoh pada pendirian.


"Ya, tereserah kamu saja. Aku hanya mengingatkanmu." Kak Vina melanjutkan kembali pekerjaannya.


Kepalaku terasa pusing, ah ... aku mau ke bagian depan dulu. Sepertinya emang anu, eh maksudnya lemes. Posisi kasir memang paling cocok untukku.


Pelanggan pun datang silih berganti, Alhamdulillah, sepertinya hari ini lebih ramai dibanding sebelumnya. Hingga membuat semua bekerja keras.


"Terima kasih ya, semuanya. Nanti, akhir minggu aku akan mentraktir kalian semua makan."


"Horeee ...." Semua karyawan bersorak.


"Kali ini, kalian semua mau makan di mana? Aku akan booking lokasi terlebih dahulu."


Semua tampak mulai berpikir. Mereka mulai mengajukan pendapat masing-masing. Ada yang ingin makan pizza.


"Tapi, aku gak suka pizza!" bantah yang lain.


"Bagaimana nasi Padang?" ajak yang lain.


"Itu beli sendiri udah keseringan. Mumpung ditraktir pilih menu spesial dong," protes yang lain.


Tanpa aku sadari, seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang. Hampir saja aku sleeding, dan sadar saat mencium aroma parfum yang sangat aku kenal.


Ku putar tubuh dan, benar ia adalah Mas Aren, pulang dengan senyuman. "Ada apa ini?"


"Ini, Mas. Aku mau mentraktir mereka. Kamu ada saran lokasi nggak?"


"Waaah, mau makan-makan? Gimana kalau kita barbeque-an?" usul suamiku.


Aku sontak melihat ke arah lemari yang berisi cucian yang telah bersih. "Jangan yang begitu, nanti malah membuat laundry-an pelanggan menjadi bau asap pada protes ke kita."


"Ya, jangan di sini. Kita barbeque-an nya di pantai, sore-sore, pasti asik banget."


Terdengar sorakan para karyawan setuju dengan saran Mas Aren. "Baik lah, jika semua setuju, kenapa tidak?"

__ADS_1


Setelah semua pergi, Mas Aren mengerutkan keningnya. Punggung tangannya mendarat di keningku. "Kamu sakit, Sayang?"


Aku tarik tangannya masukkan ke dalam genggaman. Elena bermain bersama kedua orang tua di lantai atas. Aku pun menarik Mas Aren meninggalkan lantai dasar ini.


"Sayang, kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Apa kamu lagi kurang sehat?"


Kugelengkan kepala. "Aku baik-baik saja kok. Kamu lihat sendirikan?"


"Tapi, kamu pucat banget lho? Apa terjadi sesuatu atau ada yang datang?"


"Oh, yang datang hari ini pelanggan yang sangat banyak. Mungkin karena itu aku menjadi kelelahan. Seharian ini laundry ini ramai banget. Tadi para karyawan lumayan kewalahan."


Suamiku melepaskan genggaman tangan kami. Dia tiba-tiba saja menggendong tubuhku. Aku sedikit meronta, karena bila dilihat oleh kedua orang tuaku, rasanya akan sangat memalukan.


"Kamu tenang lah! Aku akan membuatmu tidak akan merasa lelah lagi!"


Hatiku merasa berbunga mendengar ucapannyan itu, akhirnya aku mengelungkan tangan pada lehernya menyandarkan diri pada dadanya.


"Seneng nggak, punya suami kayak aku?" Mas Aren menggerakkan alisnya beberapa kali.


"Huuuu, seperti ada tanda-tanda maunya nih." Aku masih bersandar pada dadanya, bertopang menahan diri bergelayut manja pada lehernya.


Aku hanya bisa menahan senyuman. Aku belum bisa mengatakan segala dugaan ini, karena bisa saja siklusku yang memang tidak lancar. Namun, aku berharap, jika memang itu adalah calon bayiku, aku bersedia menunda perkuliahan dulu mulai semester depan.


"Terima kasih, Mas. Udah jadi super husband buat aku yaaa?"


"Terus, gitu aja?" Bibirnya digerakan maju mundur. Padahal ia sedang melangkah semakin berat menaiki tangga. Aku merasakan, ia sedikit terengah karena ia hanya mampu melangkahkan kaki satu demi satu menaiki anak tangga yang cukup tinggi ini.


Aku lirik pada bagian atas, tidak terlihat bayangan yang mengintip kami. Aku kecup bibirnya dan ia membalasnya mengecupku beberapa kali.


"Ekhem, hati-hati di tangga, nanti jatuh." Terdengar suara Mak yang tiba-tiba sudah berada di dekat tangga memperhatikan kami.


Aaah, malu. "Turunkan aku!" Sedikit meronta, akhirnya aku turun dari gendongan suamiku."


Aku segera mengambil tas kerja yang masih dijinjingnya, sembari menggendongku. Aku melewati, Mak, dan terlintas senyuman di wajah Mak dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Suamiku langsung mencium tangan Mak, meski mereka hanya beda usia beberapa tahun, tetapi bagai mana lagi. Toh, statusnya adalah mertua dan menantu meski beda usia mereka hanya empat tahun.


Saat melihat papanya, Elena berlari kecil langsung mengkhianati Datuk yang sedari tadi menemaninya bermain.


"Akhirnya Papa pulang. Elena kangen sama Papa. Meski tadi Ayah udah main ke sini sama Elena, tetapi Elena tetap sayang Papa kok."


Mas Aren yang tadinya penuh senyuman, tiba-tiba raut wajahnya berubah begitu saja. "Kenapa tidak bilang dia ada juga?"


Tatapannya setiap mendengar nama mantan suamiku selalu saja terlihat tidak menyenangkan. Bagaimana cara aku mengatakan? Belum-belum, ia udah marah duluan.


"Iya, maaf. Aku kelupaan karena ia bagai orang yang tidak lagi masuk ke dalam pikiranku."


Elena memeluk papa sambungnya itu. Namun, Mas Aren terlihat datar. "Udah, jangan pikirkan dia! Sekarang mandi dulu gih!"


Aku tarik Elena untuk turun dari gendongan suamiku. "Biarkan Papa mandi dulu ya?" Elena mengangguk melanjutkan permainan yang tadi sempat tertunda dengan datuknya.


Aku menyeret tangan Mas Aren yang terus menatapku dengan dingin. Ini seperti pemandangan biasa tiap ada nama Alan di rumah ini. Palingan nanti ia lupa setelah mandi.


Aku bantu ia membuka kancing pakaiannya. Namun, kedua pipiku ditarik. Dia langsung menyerangku dengan ciuman kasar. Dia cemburu, membalas kecenburuannya dengan cara seperti ini.


"Jika saja kamu tidak datang bulan, kita akan berperang di atas ranjang semalam suntuk tanpa ampun." Dia kembali menciumku dengan liar. Lalu, tangannya meraba area yang seharusnya agak sedikit tebal.


Namun, ternyata tidak merasakan tanda-tanda adanya pembalut membuat ia menghentikan serangan ciumannya tadi. "Kok nggak pakai? Apa kamu tidak takut tembus?"


Aku menggelengkan kepala. "Dari kemarin datangnya dikit-dikit, sayanga sama pembalutnya, rugi!" bohongku kembali melanjutkan menarik pakaian kerjanya.


Kuraba dadanya yang semakin waktu semakin berotot itu. "Ini karena rajin olah raga ya?" candaku, memberikan handuk untuknya.


Namun, dia masih tak bergeming dan hening. "Katamu kalau dikit-dikit gitu bakalan lama? Puasaku jadi lama dong? Terus gimana aku menghukummu?" sungutnya sambil melepas ikat pinggang.


"Yaaah, masa sama istri masih aja dendam? Aku tidak ngapai-ngapain kok sama dia. Kan saat ini aku sudah menjadi istri seorang Arendra, dosen kesayangan para mahasiswa." Kucium pipinya, berharap ia tak lagi marah.


Setelah menarik ikat pinggangnya, suamiku masuk ke dalam kamar mandi.


"Hufffttt ...."

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang, selamat dari serangannya. Jika memang dia marah, ah, nanti anakku keluar lagi tidak jadi proses pembentukannya. Soalnya aku baca lewat browsing, tidak boleh dulu berhubungan dalam beberapa waktu.


Aku harus bagaimana ya, memberi alasan apa lagi padanya?


__ADS_2