Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
23. List Hutang


__ADS_3

Aku lirik di tangannya yang lain sedang memegang kantong besar yang terlihat sangat penuh dan berat. Pria di sampingku mengedipkan mata dan tersenyum pura-pura tulus.


Aku membesarkan mata hendak menolak tangan pria tersebut. Namun, dia memberi kode agar aku tetap tenang.


"Nesya, siapa dia?" Bang Jojo memecahkan suasana canggung ini menjadi semakin canggung.


Aku lirik ke arah Kak Vina, dia terlihat menahan senyum karena tingkah pria yang dipanggilnya Mas Aren ini. Mataku berpindah pada Bang Alan yang terpana melihat dekapan lelaki yang tiba-tiba muncul ini.


"Aku adalah pacar Nesya yang cantik." ucap Pak Arendra menggantikan aku menjawab pertanyaan dari Bang Jojo.


"Lho? Kamu sudah punya pacar baru? Kenapa tidak memberitahukan aku?" Bang Jojo menatap aku bergantian dengan pria berprofesi sebagai dosen ini.


"Iya, kami memang belum terlalu lama. Benar kan, Sayang?" Pak Arendra sengaja menelengkan kepalanya agar terlihat mesra.


"I-iya ... usia hubungan kami masih baru. Jadi, tidak ada yang tahu." Aku usahakan bibir ini tersenyum dengan sepenuh hati.


Bang Alan menurunkan Elena dari gendongannya. "Ya udah, sepertinya aku tidak jadi mencuci pakaian di sini." Bang Alan hendak balik kanan, tetapi dihalangi oleh Bang Jojo.


"Mau ke mana Lan? Kenapa harus pindah laundry?"


Mata Bang Alan terfokus pada kantong biru yang amat besar dipegang oleh Pak Rendra. "Sepertinya Nesya akan sangat sibuk mengurusi cucian kekasihnya."


Kok bunyinya tidak enak di telinga ya? Lalu aku lihat Bang Alan beranjak hendak meninggalkan tempat ini. Bang Jojo memberi kode agar aku mencegahnya pergi.


Sementara Pak Arendra menghalangi pandanganku berpindah posisi berdiri tepat di hadapanku. Kedua tangannya naik dan mendarat di kedua pundakku. "Apa lagi yang kamu lihat? Sekarang kamu cukup memandangku saja!"


Mendengar ucapannya yang seolah serius seperti itu membuatku menengadahkan kepala menatap wajahnya yang jauh melebihi tinggiku. Aduuh, mataku ... Melihat matanya sungguh sangat merusak pemandangan. Dia sengaja menjulingkan mata untuk meledekku.


Aku lirik ke arah Bang Jojo. Dia sibuk menghentikan Bang Alan yang semakin jauh bergerak dari kami.


"Aku bilang, cukup memandangku saja!" Kali ini pundakku digenggam oleh kedua tangannya.


Kepalaku kembali menengadah padanya. Kedua netra kami bertemu, dia menundukan badannya. Apa yang akan dia lakukan?


Wajahnya semakin mendekat ... Dia mau apa? Kenapa tiba-tiba dia begini?

__ADS_1


"Hutangmu semakin banyak padaku!" bisiknya. Dia melepaskanku kembali mengangkat kantong yang berisi banyak pakaian kotor miliknya.


Bang Alan dan Bang Jojo seperti merenung melihat apa yang dilakukan Pak Arendra barusan. Jika dilihat dari belakang, tentu sangat mirip orang berciuman. Aku lirik ke arah Kak Vina, dia seperti terkekeh menggodaku.


Pak Arendra ... Apa yang kamu rencanakan terhadapku?


Dia menarikku dengan tiba-tiba berjalan menuju ke arah Kak Vina yang senyum-senyum melihat kelakuan pria yang seenaknya menggenggam tanganku ini.


"Ciiiiee, Mas Aren ... Dosen apa aktor siiih?" goda Kak Vina.


Pak Arendra segera melepas genggamannya. "Tergantung sikond. Jika berada di kampus, aku adalah dosen dia. Jika di sini, sepertinya aku akan jadi guardian angel bagi dia."


Pak Arendra menundukan kembali tubuhnya tepat di telingaku. "Tentu saja ini tidak gratis!"


Dia merogoh sesuatu dari dalam kantong kemeja. Dia menarik secarik kertas dan menyerahkannya kepadaku. Di sana ada rincian catatan hutang yang harus aku bayar.


"Pertama, sebagai upah sudah menolong lepas dari jerat seorang pria, tersangka wajib memberikan dua botol parfum asli no kawe-kawe!" Aku mulai membaca list yang tertulis di lembaran itu. Aku lirik dia yang tersenyum merasa menang berada di atasku.


"Kedua, masih menuntut upah laundry gratis kepada pihak tersangka yang sudah menyakiti korbang bernama Arendra Wijaya." Aku kembali melirik ke arah Pak Arendra. Dia pura-pura bersiul.


"Ketiga, setiap korban menjadi kekasih pura-pura tersangka, maka harus dibayar dengan tambahan kuota laundryan gratis."


Kedua tanganku langsung berada di pinggang. Ini sungguh sangat-sangat merugikanku. "Apakah yang nomor dua belum cukup buatmu? Emangnya aku ini istrimu memberikan layanan gratisan?"


"Istri? Ogah? Kamu itu babu di mataku!" celetuknya cuek.


Apaaaa? Dia bilang aku babunya. Secara tak sadar aku singsingkan kedua lengan pakaian hingga sangat tinggi. "Pak, jangan sampai saya melupakan bahwa Anda ini adalah dosen yang harus saya hormati di kampus ya?" Tanganku sudah menarik kerah kemeja yang dikenakannya.


"Ekheemm ...."


Aku tersentak mendengar deheman dari suara yang begitu aku hafal. Kenapa Bang Alan malah kembali lagi?


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian tiba-tiba bertengkar seperti ini?"


Aku intip Bang Alan yang tepat berada di belakang Pak Arendra. Aku harus berpikir cepat. Dengan terpaksa aku menangkupkan kedua pipi pria yang sudah berada di dalam genggamanku ini.

__ADS_1


"Sayaaang, kamu gemesin bangeeeettt ...." Kedua pipinya aku tarik dan kembali mengintip Bang Alan.


"Eeeh, ada Bang Alan? Ada yang ketinggalan? Kenapa kembali?" tanyaku pura-pura tidak mendengar apa yang dia tanyakan tadi.


"Bang Jojo memaksa untuk menyerahkan cucian keluargaku ke tempat ini. Ya, demi solidaritas antar warga satu dusun, akhirnya aku setuju. Meskipun aku sakit melihat kedekatan kalian berdua."


"Ooh, baik lah." Aku lepas tarikan pipi pria yang terlihat sudah merah menahan rasa perih akibat tarikan tadi. Aku akan mengambil satu kantong pakaian kotor milik Bang Alan.


Namun, tanganku ditepis oleh Pak Arendra. "Biar aku yang melakukannya untukmu!"


Pak Arendra menerima satu bungkus besar pakaian kotor tersebut. Lalu mengantarkannya pada Kak Vina yang sudah ready berdiri di dekat meja timbangan.


Aku melihat sikap Pak Arendra yang bagai bunglon itu, menjadi merasa tidak nyaman dan takut. Aku khawatir dia akan menambah list hutang tadi yang sudah cukup membebaniku.


"Lima kilo lebih lima ons." terang Kak Vina.


Bang Alan mengangguk, dan kembali menatap Pak Arendra. Dia mendekati pria itu dan mengulurkan tangannya. "Siapa namanya, Bang?"


"Rendra, kamu?"


"Alan. Kamu terlihat sangat dewasa." Lalu Bang Alan melihatku dengan sendu. "Seharusnya aku bisa lebih dari itu saat bersamanya dulu." Bang Alan menundukan wajahnya.


"Kamu tenang saja! Dia akan kubuat sebahagia mungkin!" Pak Arendra kembali membual.


Dengan refleks kepalaku berputar ke arah Pak Arendra. Apa maksudnya? Aktingnya kali ini sungguh sangat berlebihan. Hal yang paling aku khawatirkan ialah, dia akan menambah deret panjang list hutangku.


Bang Alan menganggukan kepala. Sejenak dia menoleh kembali kepadaku. Dia berjalan beberapa langkah mendekat. Kali ini kedua tangannya lah yang berada di pundakku.


"Semoga nanti kamu bahagia dengannya. Tidak sama sepertiku saat ini. Aku tahu, Tuhan sedang menunjukan karma-Nya kepadaku. Karena sudah menyiakan istri sebaik kamu."


Sepasang tangan menyibak kedua tangan yang berada di bahuku. "Apa maksudmu dengan istri?"


Bagi yang penasaran sama visual Pak Arendra Wijaya, yuk mampir di IG Author ya: sofie.espada


__ADS_1


__ADS_2